Pemerintah Kota Yogyakarta dan GoPay meluncurkan kolaborasi strategis untuk mendigitalisasi musisi jalanan, sebuah inisiatif yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Yogyakarta melalui UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta. Program ini dirancang untuk memperkuat posisi Malioboro sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, sekaligus membawa modernisasi finansial bagi para seniman lokal.
Melalui kemitraan ini, para musisi jalanan kini dapat menerima apresiasi atau tip dari penonton secara nontunai atau cashless dengan mudah. Mereka akan menggunakan QRIS yang terintegrasi dalam aplikasi GoPay Merchant, sebuah langkah revolusioner dalam bertransaksi. Keunggulan lainnya, aplikasi ini memungkinkan para musisi untuk mencairkan dana kapan saja, secara gratis ke bank manapun tanpa dikenakan potongan biaya, memberikan fleksibilitas finansial yang lebih besar.
Haryanto Tanjo, Head of GoPay Merchants, menegaskan komitmen GoPay dalam mewujudkan program ini. “Misi utama GoPay adalah membuka akses layanan keuangan seluas-luasnya, termasuk bagi para pekerja harian dan UMKM. Kami merasa bangga dapat mendukung Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mewujudkan ekosistem digital terintegrasi, khususnya melalui implementasi QRIS dan transaksi non-tunai yang didukung oleh teknologi GoPay Merchant kami,” ujar Haryanto, yang dikutip dari keterangan tertulis pada Jumat (16/1).
Digitalisasi musisi jalanan ini bukan hanya tentang pembayaran, melainkan juga bagian dari upaya penguatan ekosistem budaya di kawasan Malioboro. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan visibilitas para musisi dalam lanskap ekonomi kreatif yang lebih luas. Dengan mekanisme pembayaran yang modern, mereka dapat mengelola keuangan secara lebih mandiri, sekaligus menjadi langkah awal untuk mendorong adopsi teknologi yang inklusif di sektor ekonomi kreatif.
Yetti Martanti, Kepala Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Yogyakarta, menegaskan bahwa Malioboro memiliki makna lebih dari sekadar ikon wisata; ia adalah ruang hidup yang penting bagi para seniman lokal, termasuk musisi jalanan. “Melalui digitalisasi ini, kami ingin menghadirkan akses teknologi finansial yang inklusif hingga ke sektor budaya dan industri kreatif. Kami berharap, langkah ini akan membuka peluang yang lebih besar bagi para musisi untuk meningkatkan penerimaan apresiasi, seiring dengan semakin terbiasanya masyarakat bertransaksi non-tunai,” tuturnya.
Transformasi ini hadir di tengah meningkatnya tren transaksi digital yang sangat signifikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, hingga September 2025, nilai transaksi berbasis QRIS di Yogyakarta melonjak hingga Rp41,09 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 237,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mengindikasikan adopsi digital yang masif.
Lebih lanjut, volume transaksi QRIS di DIY juga mencatat kenaikan drastis menjadi 486 juta kali, atau naik 274,01 persen (Year-on-Year). Dengan jumlah pengguna QRIS yang mencapai 980.591 orang dan lebih dari 987.737 merchant aktif, upaya digitalisasi musisi jalanan ini semakin menegaskan kesiapan Yogyakarta dalam mengadopsi inovasi finansial demi kemajuan sektor budaya dan ekonomi lokal yang berkelanjutan.