Mengintip profil anak usaha emiten RAJA, siapa paling siap IPO di bursa 2026?

Kabar mengenai rencana penawaran perdana saham publik (IPO) dari anak usaha emiten PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) kembali mencuat, menarik perhatian pelaku pasar. Perusahaan yang terafiliasi dengan Hapsoro Sukmonohadi, suami dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Puan Maharani, ini disebut-sebut akan memboyong salah satu entitas anaknya untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini.

Advertisements

Sinyal mengenai aksi korporasi ini sejatinya sudah bergema sejak Oktober tahun lalu. Kala itu, Direktur RAJA, Ogi Rulino, pernah menyampaikan bahwa perseroan berencana mengantar salah satu anak usaha di subholding midstream menuju IPO pada tahun 2026. PT Rukun Raharja Tbk sendiri dikenal memiliki rantai bisnis yang terintegrasi penuh dalam tiga segmen utama: upstream, midstream, dan downstream. Pertanyaan besar yang kini mengemuka adalah: anak usaha RAJA dari segmen mana yang paling berpotensi merealisasikan IPO pada tahun ini?

Anak Usaha RAJA di Segmen Upstream
Dalam segmen upstream, RAJA memusatkan perhatian pada investasi serta partisipasi aktif di sektor eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi (migas), serta energi lainnya. Segmen ini fundamental sebagai gerbang awal dalam rantai pasokan energi RAJA, menjamin ketersediaan energi yang andal dan berkelanjutan dalam jangka panjang. RAJA membawahi empat anak usaha di segmen ini, yaitu PT Raharja Energi Sentosa, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Raharja Energi Tanjung Jabung, dan PT Petrogas Jatim Utama Cendana. Menariknya, pada Januari tahun lalu, RAJA telah sukses membawa RATU melantai di bursa melalui aksi IPO yang dikategorikan sebagai “IPO Mercusuar” (lighthouse company).

Anak Usaha RAJA di Segmen Midstream
Beralih ke segmen midstream, anak-anak usaha RAJA berfokus pada pengoperasian infrastruktur vital untuk transportasi dan distribusi gas alam, mencakup jaringan pipa dan fasilitas pengolahan. Tercatat, RAJA memiliki sembilan anak usaha dalam segmen krusial ini. Tiga di antaranya dimiliki secara langsung oleh RAJA, yakni PT Triguna Internusa Pratama (TIP), PT Petrotech Penta Nusa (PPN), dan PT Heksa Energi Mitraniaga (HEMA). Sementara enam entitas lainnya dimiliki melalui anak perusahaan RAJA, meliputi PT Hafar Daya Konstruksi, PT Hafar Capitol Nusantara, PT Hafar Samudera, PT Trimitra Cipta Mandiri, PT Bravo Delta Persada, dan PT Artifisial Teknologi Persada. Dengan merebaknya kabar mengenai IPO anak usaha RAJA di segmen midstream, ketiga entitas yang dimiliki langsung ini otomatis menjadi sorotan utama publik.

Advertisements

Berdasarkan rekam jejaknya, PT Triguna Internusa Pratama (TIP) adalah entitas anak yang 100% sahamnya dimiliki oleh RAJA, dengan fokus utama pada investasi infrastruktur gas. Kiprah perusahaan ini bermula dari pembangunan jalur pipa gas di koridor Tambun–Tegal Gede, Bekasi, Jawa Barat. Seiring waktu, TIP berhasil memperluas portofolio bisnisnya ke berbagai sektor energi dan utilitas lainnya, mencakup fasilitas kompresor gas, fasilitas produksi gas, layanan operasi dan pemeliharaan (O&M) untuk pipa migas dan pembangkit panas bumi (geothermal), hingga Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Saat ini, TIP mengelola jaringan pipa gas sepanjang hampir 200 kilometer yang membentang di Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Jambi, Riau, dan Jawa Tengah. Salah satu fasilitas krusialnya berlokasi di Gresik, terdiri dari pipa berdiameter 16 inci sepanjang 19,30 km, 12 inci sepanjang 230 meter, dan 10 inci sepanjang 110 meter, dengan total kapasitas mencapai 70 MMSCFD. Tak hanya itu, TIP juga aktif dalam pengelolaan fasilitas water treatment di Cijanggel.

Sementara itu, PT Petrotech Penta Nusa (PPN), juga anak usaha RAJA, bergerak dalam bidang jasa penunjang energi serta pengembangan infrastruktur hilir migas. PPN tercatat memiliki kerja sama strategis jangka panjang dengan PT Schlumberger Geophysics Nusantara, melalui kontrak penyediaan layanan Wellsite Services (kendaraan LV & HV) dan jasa tenaga kerja di wilayah kerja Pertamina Hulu Rokan – Area Selatan. Selain itu, PPN turut menggarap proyek strategis nasional, yaitu pembangunan jaringan pipa BBM Tanjung Batu–Samarinda, berkolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga. Proyek yang membentang sepanjang 120 km dengan diameter pipa 12 inci ini melintasi wilayah Balikpapan, Kutai Kartanegara, dan Samarinda, serta mengadopsi skema Build-Maintain-Transfer selama 12 tahun.

Adapun PT Heksa Energi Mitraniaga (HEMA) mengkhususkan diri pada penyediaan layanan terminal dan distribusi Liquefied Petroleum Gas (LPG). Dengan basis operasional di Jawa Tengah, HEMA mengelola terminal LPG dengan prioritas pada aspek keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan, sebagai kontribusi dalam memastikan ketersediaan energi bersih yang terjangkau bagi masyarakat.

Anak Usaha RAJA di Segmen Downstream
Menariknya, di tengah sinyal awal IPO yang mengarah ke segmen midstream, pasar justru memiliki spekulasi yang berbeda. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, muncul dugaan bahwa RAJA justru akan memboyong salah satu anak usahanya dari segmen downstream untuk melantai di bursa tahun ini. Entitas yang dimaksud adalah PT Panji Raja Alamindo (PRA), di mana 67% sahamnya dikuasai oleh RAJA. Didirikan pada tahun 2007, PRA berfokus pada investasi, perdagangan, dan transportasi gas bumi, memegang peran strategis dalam memperkuat rantai pasok energi nasional, terutama di sektor niaga gas.

Saat ini, PRA mengelola sejumlah entitas anak yang aktif bergerak di bidang perdagangan gas. Melalui berbagai unit bisnisnya, PRA gencar melakukan distribusi dan suplai gas ke beragam segmen industri, sekaligus menjalin kemitraan strategis guna memperluas jangkauan layanan energi yang andal, efisien, dan berkelanjutan. Dalam menjalankan operasionalnya, PRA turut memperkuat kontribusi di sektor niaga dan distribusi gas melalui anak usahanya, PT Energasindo Heksa Karya (EHK). Di bawah naungan EHK, PT Majuko Utama Indonesia (MUI) dan PT Artha Prima Energi (APE) semakin memperkokoh ekosistem bisnis PRA. Sinergi antar lini usaha ini berhasil membentuk jaringan terintegrasi yang esensial dalam menopang pengembangan industri gas bumi nasional. Wilayah operasional PRA mencakup Sumatra dan Jawa, dengan fokus pada kegiatan niaga gas bumi di Sumatra. Sementara itu, pengangkutan gas bumi melalui pipa dijalankan di wilayah Jawa dan Jambi. Tak berhenti di situ, PRA juga aktif dalam mengelola niaga gas CNG dan mengoperasikan mother station CNG.

Melengkapi segmen downstream, selain PRA, RAJA juga memiliki empat anak usaha lain, yaitu PT Energasindo Heksa Karya, PT Majuko Utama Indonesia, PT Artha Prima Energi, dan PT Prima Energi Raharja.

Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada Sekretaris Perusahaan RAJA, Yuni Pattinasarani, terkait rencana IPO anak usaha RAJA tahun ini belum membuahkan tanggapan. Situasi ini semakin menambah misteri dan dinamika spekulasi di pasar modal.

Advertisements