Modal asing menyusut, BI intervensi jaga stabilitas rupiah

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa aliran modal asing ke Indonesia menunjukkan penurunan signifikan dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini utamanya dipicu oleh pelemahan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju yang secara langsung membatasi arus dana global ke pasar keuangan domestik.

Advertisements

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pasar keuangan global tengah menghadapi periode pelemahan. Dampaknya terasa jelas, di mana meskipun instrumen keuangan Indonesia menawarkan imbal hasil yang tetap kompetitif dan menarik, arus modal asing yang masuk justru terbatas. “Secara global, pasar keuangan sedang mengalami pelemahan. Inilah yang menyebabkan dalam dua tahun terakhir aliran modal yang masuk ke Indonesia relatif sedikit, meskipun spread dari instrumen kita tetap menarik,” ujar Destry dalam forum Starting Year Forum 2026 pada Kamis (22/1/2026).

Destry lebih lanjut menyoroti bahwa ketidakpastian ekonomi global secara masif mendorong investor untuk mengalihkan dananya ke aset-aset safe haven. Fenomena ini menyebabkan harga sejumlah komoditas vital seperti emas dan perak tetap bertahan tinggi, seiring dengan penguatan Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY). Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik global dan kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat turut menekan sentimen pasar. Penguatan dolar AS terhadap mata uang negara maju, yang tecermin dari tingginya DXY, secara langsung berdampak pada tertahannya aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan dan penguatan kebijakan ekonomi domestik untuk menjaga daya tahan ekonomi Indonesia dari dampak ketidakpastian global, sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih stabil dan berkelanjutan,” tegasnya, menekankan pentingnya respons kebijakan yang sigap dan terencana.

Advertisements

Memasuki isu domestik, Bank Indonesia menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah saat ini telah mencapai titik terendahnya. Menghadapi situasi krusial ini, BI telah menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk merespons tantangan dan menjaga stabilitas nilai tukar. “Pergerakan rupiahnya trennya sekarang ini bergerak sudah… kalau kami melihat ini sudah too depreciate. Jadi it’s time actually rupiah untuk bisa mencari level barunya,” ungkap Destry dalam forum yang sama di St. Regis, Jakarta, Kamis (22/1/2026). Meskipun demikian, pada penutupan perdagangan Kamis (22/1), nilai tukar rupiah sempat tercatat menguat tipis, berada di level Rp16.896 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.

Destry menjelaskan bahwa pelemahan rupiah merupakan kombinasi kompleks dari faktor global dan domestik. Untuk meredam tekanan dari sisi domestik, Bank Indonesia secara proaktif mengambil langkah intervensi cepat melalui strategi triple intervention. Strategi komprehensif ini dilakukan dengan masuk ke tiga pasar utama: pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, serta pasar Surat Berharga Negara (SBN).

“NDF dan DNDF adalah forward transaction untuk hedging. Jadi kalau rupiah lagi gonjang-ganjing, kalau tidak butuh spot sekarang, butuh nanti buat misalnya pembayaran utang, beli saja dulu DNDF atau NDF,” jelasnya, merinci mekanisme intervensi tersebut. Melalui serangkaian langkah intervensi ini, BI berharap stabilitas rupiah dapat tetap terjaga di tengah tekanan global yang terus bergejolak, sekaligus menopang ketahanan pasar keuangan dan fondasi perekonomian nasional secara menyeluruh.

Advertisements