Memasuki fase krusial, program Waste-to-Energy (WtE) di Indonesia kini tengah berjalan dalam tahap tender yang dinanti. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dengan bangga mengumumkan partisipasi 24 perusahaan internasional terkemuka, menunjukkan minat global yang signifikan terhadap inisiatif pengelolaan sampah berkelanjutan di Tanah Air.
Para peserta tender ini diwajibkan membentuk konsorsium, sebuah strategi yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi. Fadli Rahman, selaku Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, menegaskan bahwa pembentukan konsorsium ini diharapkan mampu memfasilitasi transfer teknologi canggih kepada perusahaan lokal atau pemerintah daerah (pemda), memastikan peningkatan kapasitas nasional dalam pengelolaan sampah modern.
Dalam langkah awal yang strategis, Danantara Indonesia memprioritaskan pengembangan program WtE di empat wilayah kunci: Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. Di antara puluhan perusahaan global yang bersaing, tiga di antaranya menonjol, berasal dari kekuatan ekonomi seperti Prancis, Tiongkok, dan Jepang, menandakan spektrum luas keahlian yang terlibat dalam tender ini.
“Proses tender ini adalah cerminan komitmen Danantara untuk memastikan tata kelola yang kuat dan transparan sejak awal,” jelas Fadli Rahman dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (16/2). Ia menambahkan, “Ini mencakup pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang berbasis mitigasi risiko, demi keberlanjutan proyek jangka panjang.”
Sesuai jadwal yang telah ditetapkan, pemerintah sebelumnya mengindikasikan bahwa pengumuman pemenang tender Waste-to-Energy tahap pertama berpotensi dilakukan pada bulan Februari. Proses ini akan segera disusul dengan pembukaan lelang tahap kedua, memperluas kesempatan bagi lebih banyak pihak untuk berkontribusi.
Guna memberikan gambaran komprehensif tentang para kontestan, berikut adalah profil singkat beberapa perusahaan peserta tender WtE, mengungkap rekam jejak dan keahlian global mereka.
Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Prancis)
Sebagai bagian integral dari Veolia Environnement yang berbasis di Prancis, Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd membawa pengalaman lebih dari 170 tahun dalam pengelolaan air, limbah, dan energi ke lebih dari 50 negara. Di Asia Tenggara, Veolia aktif menyajikan solusi inovatif untuk pengelolaan limbah dan energi rendah karbon. Jejaknya di Indonesia terlihat melalui PT Veolia Services Indonesia, termasuk pembangunan fasilitas daur ulang PET food grade berkapasitas 25.000 ton per tahun di Pasuruan. Keahlian Veolia dalam sektor WtE meliputi pengoperasian fasilitas insinerasi canggih yang secara efisien mengubah limbah non-daur ulang menjadi sumber listrik dan panas industri.
China Conch Venture Holding Limited
Terdaftar di Bursa Efek Hong Kong (0586) dan terafiliasi dengan Anhui Conch Group, China Conch Venture Holding Limited merupakan pemain kunci dalam sektor konservasi energi dan perlindungan lingkungan. Bisnis intinya mencakup proyek Waste-to-Energy, pengolahan limbah padat dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), logistik pelabuhan, serta pembangkit listrik dari panas buangan. Dengan dua teknologi unggulan—insinerasi berbasis grate furnace dan co-processing limbah industri—Conch telah menunjukkan komitmennya. Di Indonesia, grup ini memiliki riwayat keterlibatan dalam proyek-proyek industri melalui entitas afiliasinya.
Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering
Sebagai anak perusahaan dari Mitsubishi Heavy Industries, Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering (MHIEC) mengkhususkan diri pada teknologi pengolahan limbah dan energi lingkungan. Perusahaan ini memiliki rekam jejak yang solid dalam pengembangan fasilitas WtE di Jepang dan seluruh Asia, dengan proyek-proyek monumental seperti TuasOne Waste-to-Energy Plant di Singapura dan proyek Lao Gang di Shanghai. MHIEC unggul dalam inovasi, mengembangkan teknologi insinerator tingkat tinggi, sistem pengolahan abu, dan kontrol emisi yang ketat. Di Indonesia, keahlian teknologi mereka telah diaplikasikan di TPST Bantargebang untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sejak tahun 2019.
Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd
Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd adalah perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Saham Shanghai (601827.SH), dengan WtE sebagai pilar utama bisnisnya sejak awal pendirian. Perusahaan ini mengadopsi teknologi grate incinerator terkemuka dari Martin GmbH Jerman, sekaligus mengembangkan manufaktur peralatan sendiri, mulai dari tungku pembakaran hingga sistem pemurnian gas buang yang efisien. Hingga tahun 2023, Sanfeng telah berhasil menerapkan teknologinya di lebih dari 250 proyek, dengan total kapasitas pengolahan sampah melebihi 220.000 ton per hari. Sanfeng tidak hanya berfungsi sebagai kontraktor EPC (Engineering, Procurement, and Construction), tetapi juga berperan sebagai investor dan operator melalui skema Build-Operate-Transfer (BOT) dan Public-Private Partnership (PPP).
Wangneng Environment Co., Ltd
Berbasis di Zhejiang, Wangneng Environment Co., Ltd berdedikasi pada pengelolaan terpadu sampah perkotaan. Perusahaan ini mengoperasikan 21 fasilitas insinerasi, dengan total kapasitas pengolahan melampaui 8,8 juta ton sampah per tahun. Dalam lini bisnis WtE, Wangneng berkontribusi signifikan dengan menghasilkan sekitar 3,04 miliar kWh listrik bersih setiap tahun. Jaringan anak usahanya yang luas tersebar di berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik, memperkuat posisinya sebagai pemimpin industri.
Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd
Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd adalah salah satu pemain terkemuka dalam teknologi dan operasi WtE di Tiongkok, menawarkan layanan komprehensif mulai dari desain, investasi, pembangunan, hingga pengoperasian fasilitas WtE. Pada tahun 2023, Weiming berhasil memproduksi sekitar 3,85 miliar kWh listrik dari pembangkit listrik berbasis limbah. Rekam jejaknya di Indonesia termasuk penjajakan kerja sama investasi di Bali dan penawaran teknologi insinerasi untuk proyek pengolahan sampah di Cirebon.
SUS Environment / SUS Indonesia Holding Limited
SUS Indonesia Holding Limited, sebagai bagian dari Shanghai SUS Environment Co., Ltd., memusatkan perhatiannya pada investasi dan pengembangan proyek WtE yang memanfaatkan teknologi insinerasi mutakhir. SUS telah aktif dalam puluhan proyek di seluruh dunia, termasuk pembangunan fasilitas WtE di Makassar dengan kapasitas pengolahan 1.300 ton sampah per hari dan produksi daya listrik sebesar 35 MW.
PT Jinjiang Environment Indonesia
PT Jinjiang Environment Indonesia adalah representasi dari Zheneng Jinjiang Environment Holding Co., Ltd., sebuah konglomerat WtE raksasa dari Tiongkok yang telah berkecimpung sejak tahun 1998. Di Indonesia, perusahaan ini telah berhasil membangun PLTSa Palembang, dengan kapasitas pengolahan 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan output listrik 20 MW. Proyek ini dijalankan melalui skema Build Own Operate (BOO) dengan kontrak selama 30 tahun, melibatkan investasi awal yang mencapai sekitar US$120 juta.
PT MCC Technology Indonesia
Sebagai bagian dari Metallurgical Corporation of China (MCC Group), sebuah perusahaan rekayasa milik negara Tiongkok, PT MCC Technology Indonesia memiliki pengalaman luas dalam proyek EPC (Engineering, Procurement, and Construction) berskala besar. Keahlian mereka mencakup pembangunan fasilitas pengolahan limbah dan pengembangan infrastruktur energi yang kompleks.
Kehadiran jajaran perusahaan global ini secara jelas menegaskan tingginya minat internasional terhadap proyek WtE di Indonesia, menandakan potensi besar untuk masa depan pengelolaan sampah yang lebih baik. Namun, keberhasilan program ini tidak semata-mata bergantung pada kecanggihan teknologi dan besarnya investasi. Faktor krusial lainnya adalah konsistensi regulasi, tingkat kesiapan pemerintah daerah, serta implementasi tata kelola jangka panjang yang berkelanjutan, demi tercapainya dampak lingkungan dan ekonomi yang optimal.