Tips puasa untuk penderita GERD dari Kemenkes: Ini pengobatannya

Secara medis, GERD adalah kondisi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan sehingga menimbulkan sensasi panas di dada, nyeri, dan gangguan pencernaan lainnya. Penyakit ini bisa menurunkan kualitas hidup dan berisiko menyebabkan komplikasi serius apabila terjadi terus-menerus.

Advertisements

Dalam keadaan normal, otot di bagian bawah kerongkongan yang disebut lower esophageal sphincter (LES) akan terbuka saat seseorang menelan makanan, lalu menutup kembali setelah makanan masuk ke lambung. Namun, otot ini bisa melemah akibat penyakit tertentu atau gaya hidup yang kurang sehat.

Apabila lower esophageal sphincter (LES) tidak menutup sempurna, asam lambung dapat naik ke kerongkongan dan memicu terjadinya GERD (gastroesophageal reflux disease), yang dikenal juga sebagai penyakit asam lambung.

Tips Puasa untuk Penderita Gerd dari Kemenkes Tips Puasa untuk Penderita Gerd dari Kemenkes (Unsplash)  

Advertisements

Baca juga:

  • Awal Puasa 19 Februari 2026: Ini Jadwal Imsyak dan Buka Puasa di Jakarta
  • Mengatur Asupan Nutrisi agar Tetap Bertenaga Saat Puasa
  • Kapan Libur Awal Puasa 2026? Ini Jadwal dan Rincian Lengkapnya

Dalam konten edukasi Kementerian Kesehatan, dokter spesialis penyakit dalam, dr. Elisabeth Sipayung membagikan sejumlah kiat agar asam lambung tidak kambuh selama Ramadan. Ia menekankan pentingnya memilih makanan saat sahur. Berikut tips puasa untuk penderita gerd dari Kemenkes:

1. Membatasi Makanan yang Berminyak

Metode pengolahan makanan cukup berpengaruh. Makanan berminyak dan digoreng sebaiknya dibatasi, lalu diganti dengan yang direbus, dikukus, atau dibakar. Konsumsi ikan lebih dianjurkan dibandingkan daging berlemak.

2. Tidak Merokok

Elisabeth juga menyarankan untuk tidak merokok, terutama ketika berbuka puasa. Bahkan, momen Ramadan bisa dimanfaatkan sebagai langkah awal untuk berhenti merokok karena tubuh sudah terbiasa menahan diri sejak sahur hingga Magrib.

3. Hindari Makan Terlalu Dekat dengan Waktu Tidur

Hindari makan terlalu dekat dengan waktu tidur. Kebiasaan tersebut, dapat memicu naiknya asam lambung, menimbulkan nyeri dada, mual, hingga muntah yang dapat mengganggu puasa.

4. Mempertahankan Berat Badan Ideal, Rutin Olahraga dan Mengelola Stres

Selain menjaga asupan makanan selama puasa, penderita GERD dianjurkan mempertahankan berat badan ideal, rutin berolahraga, mengelola stres, serta berkonsultasi dengan tenaga medis jika keluhan sering muncul. Penanganan yang tepat akan membantu ibadah puasa tetap lancar tanpa memperburuk kondisi kesehatan.

Penyebab GERD

Penyebab utama GERD yaitu melemahnya otot lower esophageal sphincter (LES), sehingga otot tersebut tidak mampu menahan isi atau asam lambung agar tetap berada di lambung. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, asam lambung yang naik dapat mengiritasi dinding kerongkongan dan memicu peradangan. Beberapa kondisi yang dapat memicu terjadinya GERD antara lain:

• Obesitas

• Kebiasaan langsung berbaring atau tidur setelah makan

• Gastroparesis, yaitu melemahnya otot lambung yang menyebabkan proses pengosongan lambung menjadi lambat

• Kehamilan

• Usia lanjut

• Gangguan jaringan ikat, seperti skleroderma atau lupus

• Efek samping obat tertentu, seperti aspirin, ibuprofen, benzodiazepin, antidepresan, atau terapi hormon untuk menopause

• Kelainan bawaan, misalnya hernia hiatus dan atresia esofagus

• Riwayat operasi di area dada atau perut bagian atas yang menyebabkan cedera pada kerongkongan

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang dapat memperburuk gejala GERD, di antaranya:

• Kebiasaan merokok atau sering terpapar asap rokok

• Pola makan tidak teratur, seperti diet ekstrem atau sering terlambat makan saat puasa

• Kebiasaan makan dalam porsi besar atau makan larut malam

• Konsumsi makanan asam, berlemak, atau pedas

• Minuman berkafein, beralkohol, atau bersoda

• Stres atau gangguan kecemasan yang tidak terkelola dengan baik (GERD anxiety)

Gejala GERD

GERD dapat dialami oleh siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. Saat asam lambung naik ke kerongkongan, berbagai gejala bisa muncul, di antaranya:

• Sensasi panas atau terbakar di dada (heartburn)

• Bau mulut

• Nyeri dada, rasa seperti ada angin di dada, atau nyeri ulu hati yang hilang timbul

• Nyeri saat menelan atau kesulitan menelan

• Sensasi seperti ada yang mengganjal di tenggorokan

• Suara menjadi serak

• Rasa asam atau pahit di mulut

• Mual dan muntah

• Kerongkongan terasa perih atau mengalami peradangan (esofagitis)

• Perut terasa kembung atau sering bersendawa

• Gigi menjadi lebih sensitif dan mulut terasa asam

Selain keluhan di atas, GERD juga dapat menimbulkan gejala yang menyerupai asma, seperti batuk kronis, sesak napas, atau mengi. Umumnya, gejala akan semakin terasa setelah makan dalam porsi besar atau makanan berlemak, serta ketika berbaring, membungkuk, atau saat malam hari.

Pada bayi dan anak-anak, gejala GERD dapat terlihat dalam bentuk:

• Lebih rewel atau menangis setelah makan

• Bau mulut

• Suara serak

• Sering muntah

• Sering cegukan atau bersendawa

• Menolak makan atau hanya makan dalam jumlah sedikit

• Sulit tidur

• Mengi

Diagnosis GERD

Untuk memastikan diagnosis GERD, dokter akan memulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:

• Keluhan atau gejala yang dirasakan

• Aktivitas atau posisi tubuh yang memperparah gejala

• Riwayat penyakit yang pernah atau sedang dialami

• Obat-obatan yang sedang dikonsumsi

• Seberapa sering gejala tersebut muncul

• Jenis makanan atau minuman yang diduga memicu keluhan

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Jika diperlukan, pemeriksaan lanjutan juga dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis atau mendeteksi kemungkinan komplikasi, di antaranya:

• Endoskopi, untuk melihat adanya peradangan pada kerongkongan akibat paparan asam lambung. Prosedur ini memungkinkan pengambilan sampel jaringan (biopsi) yang kemudian diperiksa dengan mikroskop.

• Pemeriksaan pH kerongkongan, guna mengukur tingkat keasaman di kerongkongan saat pasien beraktivitas, seperti ketika makan atau tidur.

• Foto Rontgen kerongkongan dan lambung, untuk mengetahui ada tidaknya penyempitan pada kerongkongan yang dapat mengganggu proses menelan.

• Manometri esofagus, yaitu pemeriksaan untuk menilai pola gerakan otot saat menelan sekaligus mengukur kekuatan otot kerongkongan.

Pengobatan GERD

GERD pada umumnya dapat membaik dengan sendirinya melalui perubahan gaya hidup serta menghindari kebiasaan yang dapat memicu atau memperburuk gejala. Konsumsi obat maag yang dijual bebas juga dapat membantu meredakan keluhan. Beberapa langkah mandiri yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala GERD antara lain:

• Menurunkan berat badan jika mengalami obesitas

• Menghindari makanan dan minuman yang dapat memicu naiknya asam lambung, seperti makanan berlemak serta minuman berkafein dan beralkohol

• Tidak membungkuk, bersandar, atau berbaring setidaknya selama 2 jam setelah makan

• Makan secara perlahan dengan porsi kecil tetapi lebih sering

• Mengonsumsi makanan yang baik untuk penderita GERD, misalnya yoghurt dan madu

• Menghindari pakaian yang terlalu ketat agar tidak menekan area perut

• Berhenti merokok

• Membatasi atau tidak mengonsumsi minuman beralkohol

• Tidur miring ke kiri atau menggunakan bantal tambahan untuk meninggikan posisi tubuh dari pinggang ke atas

• Mengonsumsi obat penurun asam lambung, seperti antasida atau asam alginat

Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut secara konsisten, gejala GERD biasanya dapat lebih terkontrol dan risiko kambuh dapat dikurangi.

Tips puasa untuk penderita gerd dari Kemenkes dapat menjadi panduan penting agar ibadah Ramadan tetap berjalan lancar tanpa memicu asam lambung kambuh. Dengan menjaga pola makan saat sahur dan berbuka, memilih metode pengolahan makanan yang sehat, menghindari rokok, mengatur waktu makan sebelum tidur, serta mengelola stres, penderita GERD tetap dapat berpuasa dengan aman.

Advertisements