
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberikan peringatan keras kepada Iran. Ia menegaskan bahwa Washington tidak akan segan untuk melancarkan serangan militer jika Teheran menunjukkan perilaku yang dianggap merugikan kepentingan Amerika Serikat. Saat ini, Trump dikabarkan masih menanti rumusan kesepakatan yang konkret terkait konflik di antara kedua negara.
Dalam keterangannya pada Sabtu (2/5), Trump menyoroti potensi eskalasi ketegangan. Jika Iran melakukan langkah-langkah yang provokatif, Trump mengisyaratkan bahwa opsi militer tetap menjadi kemungkinan yang bisa terjadi, sebagaimana dilansir dari Reuters.
Ketegasan Trump didasari oleh pendiriannya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Sehari sebelumnya, pada Jumat (1/5), ia secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh pihak Iran.
Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapan mereka untuk bernegosiasi, namun dengan syarat Amerika Serikat harus mengubah pendekatan diplomasi mereka. Pejabat senior Iran menjelaskan bahwa proposal yang sejauh ini ditolak oleh Trump sebenarnya dirancang untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan mengakhiri blokade ekonomi yang diberlakukan AS. Sebagai gantinya, Iran menawarkan penundaan diskusi mengenai program nuklir mereka demi fokus pada stabilitas regional.
Baca juga:
- Trump Tolak Proposal Teheran, AS dan Iran Terancam Kembali ke Medan Perang
Meski sempat menyatakan keengganannya terhadap aksi militer—bahkan telah mengirimkan surat kepada Kongres AS mengenai berakhirnya permusuhan berkat gencatan senjata—Trump kini berada di bawah tekanan domestik yang cukup kuat. Ia dituntut untuk mematahkan dominasi Iran di Selat Hormuz. Selain itu, Partai Republik juga menghadapi risiko respons negatif dari publik akibat melonjaknya harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan di kawasan tersebut.
Berdasarkan laporan media Iran, proposal 14 poin yang diajukan Teheran mencakup berbagai tuntutan krusial. Poin-poin tersebut meliputi penarikan pasukan AS, pencabutan blokade serta sanksi ekonomi, pembebasan aset Iran yang tertahan, pembayaran kompensasi, hingga penghentian perang di Lebanon dan pengaturan kontrol di Selat Hormuz.
Seorang pejabat Iran menyatakan optimisme bahwa proposal ini menjadi titik balik untuk memfasilitasi kesepakatan dengan AS. Secara garis besar, Iran menawarkan berakhirnya perang dengan jaminan bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak akan lagi melakukan serangan. Sebagai imbalannya, Iran bersedia menjamin kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz dan mengakhiri konfrontasi dengan AS.
Kendati demikian, Iran tetap menegaskan bahwa mereka akan membawa isu program nuklir ke meja perundingan di masa depan. Dalam pembicaraan tersebut, Teheran akan tetap menuntut Washington agar mengakui hak sah mereka dalam melakukan pengayaan uranium yang diklaim hanya ditujukan untuk kepentingan damai.
Kapal Tanker di Selat Hormuz (Reuters)
Ringkasan
Presiden Donald Trump kembali memberikan peringatan keras kepada Iran bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu melancarkan serangan militer jika Teheran melakukan langkah provokatif. Ketegasan ini didorong oleh penolakan Trump terhadap proposal perdamaian terbaru Iran serta kekhawatiran Washington mengenai pengembangan senjata nuklir di negara tersebut.
Di sisi lain, Iran mengajukan proposal 14 poin yang mencakup penarikan pasukan AS, pencabutan sanksi ekonomi, serta jaminan stabilitas di Selat Hormuz sebagai imbalan atas penghentian konfrontasi. Meskipun Iran menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi, ketegangan tetap tinggi karena adanya perbedaan mendasar mengenai program pengayaan uranium dan tekanan domestik yang dihadapi pihak Amerika Serikat.