
Kota Solo, yang tersohor sebagai destinasi wisata kuliner di Jawa Tengah, menawarkan pengalaman rasa yang tak terlupakan bagi setiap pengunjungnya. Kelezatan hidangan khas di tepian Sungai Bengawan Solo ini bahkan menjadi daya tarik utama dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-269 Pura Mangkunegaran yang berlangsung pada 1 hingga 3 Mei 2026.
Dalam rangkaian acara tersebut, terdapat tiga kuliner ikonik yang dinobatkan sebagai pilar legendaris kuliner Solo. Berikut adalah ulasan mengenai cita rasa otentik yang dihadirkan dalam perayaan tersebut:
Rawon Penjara Bu Har
Nama Rawon Penjara memiliki sejarah unik yang berawal dari celetukan maestro kuliner almarhum Bondan Winarno. Dahulu, warung ini dikenal dengan nama Rawon Timur LP karena lokasinya yang tepat berada di samping Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas 1 Surakarta. Terkesan dengan lokasi tersebut, Bondan mengusulkan nama Rawon Penjara yang kemudian menjadi identitas ikonik hingga saat ini.
Pradita, pengelola generasi ketiga, menuturkan bahwa Rawon Penjara Bu Har telah mempertahankan konsistensi rasa sejak tahun 1970. Resep rahasia keluarga diwariskan dari sang eyang kepada Ibu Haryati (Bu Har) pada tahun 1986, sebelum akhirnya diteruskan oleh anak-anaknya sejak tahun 2012.
Berbeda dengan rawon khas Jawa Timur yang cenderung pekat dan kental, Rawon Bu Har menawarkan sensasi kuah yang lebih ringan dan jernih. Meskipun begitu, cita rasanya tetap kuat berkat penggunaan kluwak berkualitas tinggi. Dengan harga Rp30 ribu per porsi, pelanggan dapat menikmati sepiring rawon lengkap dengan potongan daging melimpah, nasi, kecambah, dan sambal yang memanjakan lidah.
Tahu Kupat Sido Mampir
Sebagai salah satu primadona kuliner Solo, Tahu Kupat Sido Mampir telah berdiri sejak 1987 di Jalan Gajahmada Nomor 95, Banjarsari, Surakarta. Usaha yang dirintis oleh Cipto Pawiro ini selalu dipadati pelanggan yang ingin menikmati racikan tahu goreng, mie, bakwan, ketupat, taoge, kol, dan telur dadar.
Keunikan hidangan ini terletak pada guyuran kuah kecap yang dicampur dengan minyak bawang khas. Menariknya, kuah tersebut disimpan dalam kendi tanah liat untuk menjaga aroma dan rasa. Perpaduan rasa manis dan gurih dari bumbu yang meresap membuat Tahu Kupat Sido Mampir menjadi pilihan santapan yang mengenyangkan namun tetap terjangkau.
Teh Tjap Solo
Budaya minum teh di Solo bukan sekadar pendamping makan, melainkan sebuah ritual yang dikenal dengan istilah wasgitel (wangi, panas, legi/manis, dan kental). Salah satu jenama teh paling populer yang melambangkan identitas ini adalah Teh Tjap Solo.
Teh Tjap Solo dikenal dengan aroma melati yang kuat dan warna yang pekat. Untuk memenuhi kebutuhan modern, mereka menyediakan kemasan instan yang tetap mempertahankan karakter rasa seduhan teh tubruk asli. Produk ini sangat praktis bagi penikmat teh yang menginginkan keseimbangan rasa manis yang pas. Dalam satu renceng yang berisi 10 bungkus, produk ini dijual dengan harga yang sangat ekonomis, yakni Rp12 ribu.
Kehadiran ketiga kuliner tersebut dalam peringatan HUT Pura Mangkunegaran menjadi bukti bahwa tradisi kuliner Solo terus terjaga keberadaannya. Meskipun zaman berganti, dedikasi para pengelola dalam menjaga resep warisan leluhur memastikan bahwa cita rasa legendaris tetap menjadi napas bagi kemajuan kuliner di Kota Surakarta.
Ringkasan
Perayaan HUT ke-269 Pura Mangkunegaran pada 1-3 Mei 2026 mengangkat tiga kuliner legendaris sebagai daya tarik utama, yakni Rawon Penjara Bu Har, Tahu Kupat Sido Mampir, dan Teh Tjap Solo. Ketiga hidangan ini merupakan ikon kuliner Surakarta yang telah menjaga konsistensi resep dan cita rasa warisan leluhur selama puluhan tahun.
Rawon Penjara Bu Har menyajikan kuah ringan yang khas, sementara Tahu Kupat Sido Mampir mengandalkan kuah kecap minyak bawang yang disimpan dalam kendi tanah liat. Melengkapi sajian tersebut, Teh Tjap Solo menghadirkan pengalaman minum teh dengan aroma melati yang kuat, mencerminkan tradisi wasgitel khas masyarakat Solo yang otentik dan terjangkau.