Wall Street tak bergairah, Nasdaq turun 0,71% ditekan penurunan saham teknologi

Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat menunjukkan pergerakan yang variatif cenderung stagnan pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) waktu setempat. Para investor terpantau mengambil sikap waspada sembari menantikan rilis data inflasi penting lainnya yang akan menjadi arah kebijakan pasar selanjutnya.

Advertisements

Indeks S&P 500 tercatat melemah tipis 0,16% ke posisi 7.400,96, sementara indeks Nasdaq yang didominasi saham-saham teknologi mengalami koreksi lebih dalam sebesar 0,71% ke level 26.088,20. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average tampil berbeda dengan mencatatkan penguatan sebesar 56,09 poin atau sekitar 0,11%.

Tekanan pada pasar modal AS kali ini terutama dipicu oleh pelemahan signifikan di sektor teknologi serta lonjakan harga minyak mentah dunia. Meski demikian, Head of Portfolio Construction Citi Wealth, Olaolu Aganga, menilai bahwa tren investasi pada pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai merambah ke sektor-sektor di luar teknologi, yang pada gilirannya membuka peluang investasi baru bagi para pemodal.

Menurut pandangan Aganga, investor masih memiliki kesempatan untuk mencermati tema investasi jangka panjang yang memiliki fundamental kuat, seperti keamanan energi dan pembangunan infrastruktur dasar.

Advertisements

Baca juga:

  • Daftar Lengkap 18 Saham RI Terdepak dari Indeks MSCI, 13 Keluar dari Small Cap
  • IHSG Diramal Turun Imbas Rebalancing MSCI, Analis Jagokan Saham AADI, ISAT, CDIA
  • MSCI Depak 18 Emiten dari Indeks, 3 Saham Prajogo BREN, TPIA dan CUAN Tersingkir

“Kami memiliki pandangan global yang kami yakini akan bertahan lama, seperti keamanan energi dan infrastruktur. Ini mencakup perusahaan-perusahaan yang dapat memperoleh manfaat dari belanja modal terkait energi, jaringan listrik, dan kemandirian energi,” ungkap Aganga, sebagaimana dikutip dari CNBC, Rabu (13/5).

Aganga menambahkan bahwa meskipun beberapa investor mungkin merasa tertinggal dalam reli saham teknologi belakangan ini, masih terdapat sejumlah tema investasi jangka panjang lainnya yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan laba secara berkelanjutan.

Koreksi yang dialami sektor teknologi juga terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan mengenai kondisi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama sebulan. Trump menyebut situasi tersebut sangat rapuh dan sangat bergantung pada dukungan besar, menyusul penolakan terhadap proposal balasan dari Teheran yang dinilai tidak dapat diterima untuk mengakhiri konflik.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga merespons data Indeks Harga Konsumen atau consumer price index (CPI) periode April yang ternyata lebih tinggi dari perkiraan pasar. Data tersebut menunjukkan bahwa laju kenaikan harga di tingkat konsumen telah mencapai level tercepat dalam hampir tiga tahun terakhir.

Kini, fokus utama investor beralih pada rilis data Indeks Harga Produsen atau producer price index (PPI) untuk bulan April yang dijadwalkan keluar pada Rabu pagi waktu setempat. Berdasarkan survei ekonom yang dilakukan Dow Jones, PPI utama diprediksi mengalami kenaikan sebesar 0,5% secara bulanan, sejalan dengan realisasi kenaikan pada bulan Maret. Sementara itu, PPI inti yang mengecualikan komponen pangan dan energi diproyeksikan akan meningkat sebesar 0,4%.

Ringkasan

Bursa saham Wall Street ditutup bervariasi dengan indeks Nasdaq melemah 0,71% dan S&P 500 turun 0,16% akibat tekanan sektor teknologi serta kenaikan harga minyak dunia. Investor bersikap waspada setelah rilis data inflasi konsumen (CPI) bulan April yang tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar. Saat ini, fokus pelaku pasar tertuju pada rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) mendatang untuk menentukan arah kebijakan selanjutnya.

Meskipun sektor teknologi terkoreksi, analis menilai terdapat peluang investasi pada tema jangka panjang seperti keamanan energi dan infrastruktur dasar. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai masih rapuh. Investor disarankan tetap mencermati sektor-sektor dengan fundamental kuat di tengah fluktuasi pasar modal global.

Advertisements