
Presiden Prabowo Subianto buka suara menanggapi tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah kekhawatiran pasar, Presiden justru meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak perlu merasa resah.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat meresmikan operasional 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5). Menurut Presiden, masyarakat di tingkat desa tidak bersentuhan langsung dengan fluktuasi mata uang asing dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu pun, kalian di desa-desa tidak menggunakan dolar,” ujar Presiden. Beliau menambahkan, pihak yang merasa pusing dengan kondisi kurs saat ini biasanya adalah mereka yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Presiden menegaskan keyakinannya bahwa ekonomi serta fundamental Indonesia tetap kokoh dan berdaya saing.
Data Bloomberg mencatat, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level 17.600 per dolar AS pada Jumat (15/5), yang merupakan angka terlemah sepanjang sejarah. Sebelumnya, rupiah juga sempat menembus level 17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5) pagi.
Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh dinamika ekonomi global yang masif. Ketegangan geopolitik, seperti konflik antara Iran dengan AS dan Israel, telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Selain itu, kebijakan suku bunga AS yang tinggi turut menekan mata uang negara berkembang lainnya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa tekanan mata uang dialami oleh banyak negara. Sejak akhir Februari 2026, harga minyak dunia tercatat melonjak lebih dari 40%. Kondisi ini diperburuk dengan kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 4,5%, dibandingkan posisi 4% pada akhir Februari. Fenomena penguatan dolar AS ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga mata uang lain seperti peso Filipina, baht Thailand, rupee India, rand Afrika Selatan, peso Cile, hingga won Korea Selatan.
Di sisi lain, terdapat faktor domestik yang turut memengaruhi permintaan dolar AS, yakni adanya musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan operasional terkait penyelenggaraan ibadah haji.
Meskipun demikian, Bank Indonesia tetap optimistis dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI berkomitmen untuk terus memantau pasar secara aktif, baik di pasar domestik maupun internasional. “Begitu pasar Jakarta tutup, kami standby di pasar Eropa, kemudian kami lanjut standby di pasar Amerika untuk memastikan pergerakan nilai tukar rupiah tetap terjaga,” tegas Denny.
Ringkasan
Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat tetap tenang menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh level 17.600. Menurut Presiden, fluktuasi mata uang asing tidak berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat di desa, sehingga fundamental ekonomi Indonesia diyakini masih tetap kokoh.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh faktor global, seperti ketegangan geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak dunia serta tingginya kebijakan suku bunga AS. Selain memantau pasar secara aktif, Bank Indonesia juga mencatat faktor domestik seperti musim repatriasi dividen dan kebutuhan operasional ibadah haji turut memengaruhi permintaan dolar AS.