Potensi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk mencapai angka Rp 36.000 pada tahun 2035 menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan prediksi tersebut pasca pelantikan pada Senin (8/9). Pernyataan ini memicu diskusi di kalangan analis pasar modal mengenai realitas dan tantangan dalam mencapai target ambisius tersebut.
Muhammad Wafi, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa secara teoritis, IHSG berpotensi mencapai level Rp 36.000 pada 2035. Ia menjelaskan, dengan asumsi pertumbuhan laba (earnings) IHSG rata-rata 8-10% per tahun – sebagaimana target Presiden Prabowo Subianto – dan valuasi (P/E) yang tetap normal, IHSG bisa tumbuh 3 hingga 4 kali lipat dalam satu dekade. “Dari level 8.000 saat ini, target Rp 36.000 di 2035 bukanlah hal yang mustahil,” tegas Wafi saat dihubungi Katadata.co.id pada Senin (22/9).
Namun, Wafi menekankan tiga tantangan utama yang harus diatasi Indonesia untuk mencapai target tersebut. Pertama, pertumbuhan ekonomi nasional harus konsisten di atas 5%. Kedua, stabilitas politik dan makro ekonomi harus terjaga. Ketiga, pengembangan sektor-sektor baru, seperti digital, energi terbarukan, kendaraan listrik (EV), dan hilirisasi, dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan kapitalisasi pasar.
Pandangan yang lebih konservatif disampaikan oleh Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas. Ia menyebut target Rp 36.000 sangat optimistis, tetapi masih mungkin tercapai dengan catatan tidak terjadi krisis global besar dalam 10 tahun mendatang. Mirae Asset Sekuritas sendiri memprediksi IHSG akan mencapai level 10.500 dalam dekade mendatang, mempertimbangkan ketidakpastian global yang signifikan. “Syukur-syukur kalau dunia tidak menghadapi krisis global. Itu bisa jadi target 36.000 tercapai,” ujarnya.
Dari sisi fundamental, Nafan menilai ekonomi Indonesia cukup solid, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 4,6% hingga 5,4%, dengan median 5%. Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2025 bahkan melampaui ekspektasi, terutama didorong oleh investasi. Namun, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% seperti yang dicanangkan Presiden Prabowo, pemerintah perlu berkomitmen dalam menciptakan sumber pertumbuhan baru.
Nafan menambahkan bahwa Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada konsumsi domestik sebagai motor pertumbuhan ekonomi. Dorongan investasi yang kuat juga sangat krusial. “Mencapai pertumbuhan 8% itu bukan mustahil, tetapi membutuhkan upaya yang sangat luar biasa,” jelasnya. Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya juga menyatakan bahwa IHSG berpotensi mencapai level 36.000 pada 2035, mengingat kemampuan Indonesia dalam melewati berbagai krisis ekonomi. Sebagai informasi, pada Selasa (23/9), IHSG bergerak menguat 0,37% ke level 8.069 secara intraday.
Ringkasan
Potensi IHSG mencapai 36.000 pada 2035 diprediksi oleh Menteri Keuangan, memicu beragam analisis. Muhammad Wafi menyatakan hal tersebut memungkinkan dengan pertumbuhan laba IHSG rata-rata 8-10% per tahun dan valuasi normal, namun menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi konsisten di atas 5%, stabilitas politik dan ekonomi, serta pengembangan sektor-sektor baru.
Nafan Aji Gusta berpendapat target tersebut optimistis namun masih mungkin tercapai tanpa krisis global besar. Mirae Asset memprediksi IHSG mencapai 10.500 dalam dekade mendatang. Meskipun fundamental ekonomi Indonesia solid, memerlukan upaya luar biasa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% dan mendorong investasi yang kuat, bukan hanya mengandalkan konsumsi domestik.