
Sejumlah saham emiten mencatatkan transaksi crossing jumbo kala Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup anjlok 0,20% hingga ke 8.992 pada perdagangan saham hari ini, Kamis (22/1). Aksi ini terjadi di tengah meningkatnya volatilitas dan koreksi saham-saham berkapitalisasi besar
Crossing saham merupakan transaksi antara dua pihak atau investor yang menggunakan broker atau sekuritas yang sama. Transaksi jenis ini tidak terjadi di pasar reguler, melainkan di pasar negosiasi.
Berdasarkan data D’Origin emiten tambang emas afiliasi konglomerat Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatatkan crossing tertinggi hingga Rp 2,96 triliun di harga Rp 6.296 per lembar saham.
Kemudian diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan crossing di Rp 7.665 dengan nilai transaksi Rp 268,22 miliar, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) di harga Rp 8.900 senilai Rp 140 miliar, dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatatkan crossing senilai Rp 4.983 dengan nilai transaksi Rp 128,70 miliar
Baca juga:
- Investor Asing Disebut Berminat Masuk BEI, Peluang IPO Bursa Efek Kian Terbuka?
- Purbaya Deteksi 10 Perusahaan Nakal Terindikasi Lakukan Praktik Under Invoicing
- UNTR Mau Buyback Saham Rp 2 T setelah Izin Tambang Anak Usaha Dicabut Prabowo
Tak hanya itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukuka crossing saham di Rp 3.820 dengan nilai transaksi Rp 116,96 miliar dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) crossing di level Rp 627 senilai Rp 111,89 miliar. Apabila dikalkulasikan, nilai transaksi crossing enam emiten tersebut mencapai Rp 3,73 triliun.
Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume transaksi perdagangan sepanjang hari ini mencapai 71,80 miliar saham dan frekuensi sebanyak 4,07 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.391 triliun dengan total nilai transaksi sebesar Rp 37,51 triliun.
Sebanyak 345 saham menguat, 331 saham terkoreksi dan 128 saham tidak bergerak. Enam dari sepuluh sektor yang ada di BEI parkir di zona merah. Harga saham-saham di sektor energi mengalami penurunan paling dalam, yakni turun 1,86% secara sektoral.
Seiring dengan itu harga saham emiten-emiten konglomerasi pun anjlok. Misalnya Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) anjlok 9,84% atau 38 poin ke level Rp 348, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) jatuh 9,52% atau 70 poin ke level Rp 665. Kemudian, harga saham konglomerat Prajogo Pangestu PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 12,93% atau 1.600 poin ke level Rp 10.775.
Selain kumpulan saham Grup Bakrie dan Prajogo Pangestu, saham-saham “konglo” lainnya juga rontok. Dua emiten Happy Hapsoro, yaitu PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), masing-masing turun 4,33% dan 3,57%.
Dari sisi banyaknya nilai perdagangan, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) paling banyak ditransaksikan, yakni Rp 4,12 triliun. Disusul oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang diperdagangkan sebesar Rp 2,05 triliun dan PT Petrosea Tbk (PTRO) diperdagangkan sebesar Rp 1,50 triliun.