Sejumlah 1.440 Warga Negara Indonesia (WNI) telah mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh selama periode 16 hingga 20 Januari, menyusul pelarian mereka dari sindikat penipuan daring di Kamboja. Angka ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan dengan keseluruhan tahun 2025 yang mencatat 5.008 kasus serupa. KBRI Phnom Penh menduga lonjakan ini merupakan dampak langsung dari penindakan tegas yang dilakukan oleh Pemerintah Kamboja terhadap sindikat penipuan daring.
Diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah, mengingat Phnom Penh kini gencar melancarkan operasi penindakan terhadap jaringan kejahatan siber yang semakin merajalela. Fenomena ini menggarisbawahi urgensi masalah penipuan daring yang melibatkan WNI di Negeri Angkor Wat.
Babaumma telah merangkum beberapa lokasi yang diduga kuat menjadi pusat operasi sindikat penipuan daring di Kamboja, yaitu:
- Sihanoukville, Kota Kasino
Amnesty International berhasil melacak 15 video dan gambar yang menampilkan ribuan pekerja melarikan diri dari sindikat penipuan di Kamboja. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa mereka diduga kabur dari Sihanoukville, sebuah informasi yang dikutip dari The Guardian pada Rabu (21/1). Laporan ini turut didukung oleh foto karya fotografer AFP, Tang Chhin, yang menggambarkan para pekerja membawa barang-barang mereka ke dalam bus saat meninggalkan kompleks sindikat penipuan yang diduga berlokasi di Sihanoukville, Kamboja, pada 14 Januari. Kota ini dikenal sebagai pusat investasi Tiongkok yang dipenuhi dengan banyak kasino.
- Poipet, Kota Perbatasan
Menurut laporan dari The Phnom Penh Post pada 24 Februari 2025, pihak berwenang Kamboja telah melakukan penggerebekan di dua lokasi di Kota Poipet. Di kota perbatasan yang terkenal sebagai markas besar operasi call center scam ini, ditemukan total 230 warga asing, termasuk 68 perempuan, yang terlibat dalam aktivitas penipuan daring.
- Phnom Penh
Kementerian Informasi Kamboja pada Juli 2025 mengumumkan bahwa pasukan gabungan telah menggerebek beberapa lokasi di Phnom Penh yang terlibat dalam penipuan daring. Berdasarkan informasi dari Asia News Network, operasi yang dipimpin oleh Wakil Gubernur Hun Sorithy ini menargetkan praktik penipuan tersembunyi di Boeung Keng Kang III, distrik Boeung Keng Kang, serta di komune Khmuonh, distrik Sen Sok. Dalam operasi ini, sebanyak 100 warga negara asing ditahan, yang terdiri dari 75 warga Taiwan, 24 warga Tiongkok, dan satu warga Vietnam.
- Banteay Meanchey dan Kratie
Pada Juli 2025, komando terpadu provinsi, bekerja sama dengan pihak berwenang terkait, menggerebek sebuah bangunan berlantai tiga di desa Baliley 2 dan Komune Poipet. Di sana, mereka menemukan 271 WNI, termasuk 45 perempuan, yang terlibat dalam penipuan daring. Sementara itu, di Kratie, pihak berwenang menargetkan sebuah rumah sewaan di komune Pi Thnou, distrik Snuol, yang diduga menyembunyikan aktivitas penipuan daring. Mereka menahan 312 warga negara asing dari berbagai negara, yaitu Vietnam, Thailand, Bangladesh, Indonesia, Tiongkok, dan Myanmar, termasuk 56 perempuan di antaranya.
- Oddar Meanchey, Perbatasan Thailand
Cambojanews pada Juli 2025 melaporkan temuan ahli dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa penipuan daring memiliki kemampuan berpindah dan menyebar dengan sangat cepat. Aktivitas ini terdeteksi luas, mulai dari pusat-pusat kota hingga ke O’Smach dan Oddar Meanchey, yang merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Thailand.
Viral Banyak Warung Pecel Lele di Kamboja
Pada akhir 2024, sempat viral di kalangan warganet sorotan terhadap banyaknya kedai makanan khas Indonesia, seperti warung pecel lele di Kamboja, yang terlihat di Google Maps. Fenomena ini memicu kecurigaan bahwa keberadaan warung-warung tersebut terkait erat dengan WNI yang terlibat dalam bisnis judi daring atau penipuan daring.
Seorang warganet di platform X dengan akun @_n0t4lfiaccount mengunggah tangkapan layar dari Google Maps yang menampilkan sejumlah warung makan Indonesia di kawasan Bavet, Kamboja. Beberapa nama warung yang terlihat antara lain Pecel Lele Srikandi, Arena Angkringan, dan Gultik Blok M. Akun lain bernama @howtodresvvell turut membagikan foto warung Indonesia di Kamboja. Unggahan ini berhasil menarik perhatian besar, dengan lebih dari 20 ribu suka, 200 komentar, dan tiga ribu kali dibagikan per pukul 12.28 WIB, Kamis (21/11).
Banyak netizen berkomentar bahwa mereka mencurigai banyaknya WNI yang bekerja di sana dalam bidang judi daring. Mereka juga menyematkan video dari kanal YouTube Harian Kompas yang membahas tentang WNI yang bekerja di Kamboja dalam bisnis judi daring. “Kompas mungkin menjadi media pertama yang menginvestigasi judi online sampai ke jantungnya, yakni di Kamboja,” ujar seorang jurnalis Kompas, dikutip dari YouTube Harian Kompas pada 15 November 2024.
Katadata.co.id melakukan penelusuran lebih lanjut di Google Maps dan menemukan beberapa kedai kuliner bernuansa Indonesia lainnya. Salah satunya adalah Kedai Yeci – Masakan Indonesia di Cendana, Preah Sihanouk, Kamboja, yang memiliki rating 4,7 dari lima di Google Maps. Berdasarkan foto-foto yang diunggah konsumen, masakan yang disajikan meliputi tempe goreng hingga ayam goreng. Di sekitar kedai tersebut, juga terdapat tempat makan khas Indonesia lainnya bernama Kedai Ayam Oneng The Best Indonesia. Selain itu, di kawasan Bavet, Kamboja, juga ditemukan kedai Inafood, IndoFood, dan Café Indonesia. Kamboja sendiri merupakan pasar terbesar untuk rokok kretek dari Indonesia per Oktober 2023.
Direktur Informasi dan Media, Hartyo Harkomoyo, menjelaskan bahwa terdapat sekitar 89 ribu WNI yang memiliki izin tinggal di Kamboja. “Besarnya komunitas ini menjadi salah satu pendorong munculnya bisnis restoran dengan makanan khas Indonesia,” ungkapnya kepada Katadata.co.id pada November 2024. Namun, ia tidak dapat memastikan jumlah WNI yang bekerja di sektor judi daring di Kamboja. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa ada warga negara yang belum melaporkan diri tinggal di Kamboja ke KBRI Phnom Penh. “Dari 89 ribu WNI, hanya sekitar 17 ribu yang melakukan lapor diri secara aktif,” pungkas Hartyo.