Emiten pertambangan terkemuka, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang merupakan kongsi strategis antara Grup Bakrie dan Grup Salim, sedang gencar menjajaki proyek ambisius gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Proyek hilirisasi ini bahkan telah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah, dengan jadwal pemancangan tiang pertama atau groundbreaking yang direncanakan berlangsung antara Januari hingga Maret tahun ini.
Langkah strategis ini bukan tanpa alasan. Renno Wicaksono, Group Head of Corporate Communications & CSR Bumi Resources, menegaskan bahwa proyek hilirisasi merupakan inti dari strategi diversifikasi perusahaan. “Ini adalah salah satu proyek utama yang sedang kami kembangkan,” ujar Renno di Jakarta. Selain fokus pada pengembangan DME, perseroan juga aktif menjajaki ekspansi ke sektor mineral strategis seperti emas, tembaga, dan bauksit. Upaya diversifikasi ini tidak hanya untuk memenuhi perizinan usaha, tetapi juga sebagai bentuk dukungan nyata terhadap visi pemerintah dalam mendorong hilirisasi industri di Indonesia.
Pentingnya proyek DME ini ditekankan oleh pemerintah, yang mencatatnya sebagai salah satu dari 18 proyek hilirisasi yang fasilitasnya mulai dibangun tahun ini. Pengembangan ini sejalan dengan rencana besar pemerintah untuk secara bertahap mengalihkan subsidi liquefied petroleum gas (LPG) ke DME, yang diharapkan lebih efisien dan berkelanjutan. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, sebelumnya menyampaikan bahwa pembangunan fasilitas DME akan dilakukan di beberapa lokasi strategis. “Ada beberapa program yang berkaitan dengan energi, pembangunan beberapa titik DME,” tutur Prasetyo pada Selasa (6/1), mengonfirmasi bahwa groundbreaking proyek hilirisasi telah dan akan terus berlanjut pada Februari dan Maret ini, menargetkan 18 proyek memasuki tahap konstruksi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, lebih lanjut menguraikan bahwa proyek hilirisasi batu bara memiliki tujuan krusial untuk menekan angka impor LPG yang selama ini membebani neraca perdagangan. Saat ini, total kebutuhan LPG nasional mencapai 8,5 juta ton, namun pasokan domestik hanya mampu memenuhi sekitar 1,3 juta ton. Akibatnya, Indonesia harus mengandalkan impor hingga 7 juta ton LPG setiap tahunnya, diperparah dengan produksi LPG dalam negeri yang masih terbatas karena perbedaan karakteristik gas.
Sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia, BUMI memiliki peran vital dalam mendukung inisiatif ini. Pada tahun 2024, perseroan berhasil mencatat produksi batu bara sebesar 74,7 juta ton, yang berkontribusi sekitar 9% terhadap produksi batu bara nasional. Estimasi produksi perseroan untuk tahun 2025 diperkirakan akan tetap stabil, berkisar antara 73–75 juta ton (MT), menunjukkan kapasitas yang solid untuk mendukung proyek gasifikasi.
Meski demikian, dinamika operasional tetap menjadi perhatian. Hingga September 2025, penjualan batu bara perseroan sempat mencatatkan penurunan, sejalan dengan menyusutnya produksi akibat kondisi cuaca yang menantang di wilayah operasional PT Kaltim Prima Coal (KPC), salah satu anak usaha strategis BUMI. Di sisi lain, PT Arutmin Indonesia (Arutmin), perusahaan tambang batu bara terkemuka di Kalimantan Selatan dan juga anak usaha BUMI, justru menorehkan pertumbuhan penjualan sebesar 13%. Manajemen BUMI mengklaim bahwa perseroan berhasil menjaga biaya produksi tetap kompetitif melalui implementasi berbagai inisiatif cost saving yang efektif.