Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025, yang diselenggarakan pada 10-11 Oktober 2025, sukses besar dengan memobilisasi total 18 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding), komitmen investasi, serta letter of intent yang mencapai nilai fantastis Rp 278,33 triliun atau setara dengan US$ 17,4 miliar. Angka ini menegaskan keseriusan Indonesia dalam mendorong agenda pembangunan berkelanjutan di kancah global.
Dari total komitmen tersebut, sebagian besar, yakni Rp 90 triliun, dialokasikan untuk pengembangan fasilitas Waste to Energy (WtE) di 33 kota di Indonesia, sebuah langkah signifikan untuk pengelolaan limbah dan energi terbarukan. Selain itu, nota kesepahaman strategis lainnya mencakup berbagai inisiatif krusial seperti pengembangan solusi biopackaging ramah lingkungan, pemanfaatan energi geotermal, produksi hidrogen hijau, serta upaya dekarbonisasi di sektor maritim yang vital.
Pencapaian gemilang ini disampaikan langsung oleh Nurul Ichwan, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dalam pidato penutupan ISF 2025 di Jakarta International Convention Center pada Sabtu (11/10). Ini menjadi penutup manis bagi forum yang telah mengukir sejarah baru dalam investasi berkelanjutan di Indonesia.
ISF 2025, yang kini memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, mengusung tema inspiratif “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World.” Tema ini tidak hanya merefleksikan visi global, tetapi juga aspirasi Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam mewujudkan masa depan yang tangguh, berkelanjutan, dan makmur.
Baca juga:
- Banyak Pekerjaan Hilang pada 2050, Ini Keterampilan yang Direkomendasikan UNESCO
- Menlu: Pengembangan Mineral Kritis Indonesia Tetap Dukung Dekarbonisasi Global
- ISF 2025: Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Perlu Selaras dengan Pembangunan Hijau
Nurul Ichwan lebih lanjut menjelaskan bahwa tema forum tahun ini memancarkan keinginan kuat Indonesia untuk berperan sebagai pusat regional (regional hub) dan berkontribusi aktif dalam agenda iklim global. Ia menekankan, “Sesuai dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo, sustainability bukan lagi pilihan, melainkan fondasi esensial untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 serta mendukung target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif.”
Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia bertekad untuk memaksimalkannya melalui kebijakan hilirisasi industri. Proses ini dikembangkan secara komprehensif, mulai dari nikel hingga komoditas strategis lainnya seperti tembaga, bauksit, bahkan rumput laut, yang semuanya memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai ekspor dan daya saing di pasar global.
Lebih jauh, Nurul Ichwan menegaskan bahwa Indonesia memegang peran kunci dalam solusi iklim global melalui teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Potensi penyimpanan karbon di Indonesia diperkirakan tidak kurang dari 577 gigaton, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia. “Potensi ini bisa menyimpan emisi karbon, baik domestik maupun luar negeri, hingga 200 tahun ke depan, yang secara otomatis mengukuhkan posisi Indonesia sebagai hub utama untuk CCS di Asia,” tambahnya.
Penyelenggaraan ISF 2025 merupakan buah kolaborasi sinergis tiga pilar utama: Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Sinergi ini menunjukkan komitmen kolektif dalam mewujudkan investasi berkelanjutan.
Indonesia Penggerak Kolektif Pembangunan Berkelanjutan
Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, menegaskan bahwa ISF 2025 adalah bukti konkret peran Indonesia sebagai penggerak kolektif dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
“ISF 2025 menjadi bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya berperan sebagai tuan rumah forum global, tetapi juga sebagai penggerak utama aksi kolektif untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan,” ujar Rachmat. Ia menambahkan, “Kami bertekad memastikan bahwa setiap komitmen yang lahir dari forum ini akan bertransformasi menjadi tindakan nyata yang berdampak.”
Pentingnya sinergi antara seluruh pemangku kepentingan dalam mencapai pembangunan berkelanjutan yang konkret tidak bisa diabaikan. Rachmat menekankan bahwa melalui kolaborasi lintas sektor, Indonesia berupaya mempercepat laju pertumbuhan ekonomi hijau dan menyatukan para pemimpin serta inovator global untuk berinvestasi demi terciptanya kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Sebagai sebuah platform transformatif, ISF 2025 berhasil mengubah dialog dan visi menjadi komitmen konkret dan aksi kolektif. Forum bergengsi ini menarik perhatian lebih dari 10.000 partisipan, didukung oleh kehadiran 129 pembicara ahli terkemuka dari dalam dan luar negeri yang membagikan wawasan mendalam.
Sepanjang ISF 2025, berbagai sesi diskusi dan dialog tematik telah membahas isu-isu strategis yang meliputi ketahanan air, peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan ekonomi biru, pencapaian target nol emisi karbon, hubungan iklim dan perdagangan global, pengelolaan sampah yang efektif, transisi energi baru, hingga upaya mewujudkan udara bersih. Ini menunjukkan cakupan luas forum dalam mengatasi tantangan pembangunan berkelanjutan.
Ringkasan
Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 berhasil memobilisasi komitmen investasi hijau senilai Rp 278,33 triliun melalui 18 nota kesepahaman. Sebagian besar komitmen, yakni Rp 90 triliun, akan dialokasikan untuk pengembangan fasilitas Waste to Energy (WtE) di 33 kota di Indonesia.
Selain WtE, komitmen lainnya mencakup pengembangan solusi biopackaging, pemanfaatan energi geotermal, produksi hidrogen hijau, dan dekarbonisasi sektor maritim. ISF 2025, yang bertema “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World,” menegaskan peran Indonesia sebagai pusat regional dan kontributor aktif dalam agenda iklim global, selaras dengan visi Indonesia Emas 2045.