
Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengirimkan pasukan perdamaian ke Palestina, guna mendukung upaya perdamaian di kawasan tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam High-level International Conference for the Peaceful Settlement of the Question of Palestine and the Implementation of the Two-State Solution di Markas Besar PBB, New York. Dalam pidatonya, Prabowo menekankan komitmen Indonesia terhadap solusi dua negara sebagai jalan keluar konflik Palestina-Israel. “Kami siap turut ambil bagian dalam perjalanan menuju perdamaian ini. Kami siap menyediakan pasukan penjaga perdamaian,” ujarnya dalam bahasa Inggris. Kesiapan ini juga ditegaskan kembali melalui akun media sosial Presiden, yang menyatakan Indonesia siap menempatkan pasukan penjaga perdamaian untuk mengakhiri perang dan menjamin keamanan rakyat Palestina.
Komitmen Indonesia terhadap perdamaian di Timur Tengah bukan hal baru. Sejak tahun 2006, Indonesia telah aktif mengirimkan pasukan perdamaian melalui Kontingen Garuda (Konga) dalam misi Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL). Pengalaman berharga ini menjadi landasan kuat bagi kesiapan Indonesia dalam mendukung perdamaian di Palestina.
UNIFIL sendiri didirikan pada 19 Maret 1978 berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 425 dan 426, sebagai respons atas invasi Israel ke Lebanon. Misi awal UNIFIL adalah memastikan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, serta membantu mengembalikan otoritas Pemerintah Lebanon. Setelah konflik Israel-Hizbullah tahun 2006, mandat UNIFIL diperluas melalui Resolusi 1701, yang mencakup pula bantuan kepada Pemerintah Lebanon dalam mengamankan perbatasannya.
Indonesia telah secara konsisten berkontribusi pada UNIFIL, dengan rotasi pasukan Konga setiap tahunnya. Pada tahun 2025, Indonesia bahkan tercatat sebagai penyumbang personel terbesar bagi UNIFIL, dengan jumlah pasukan mencapai 1.256 personel per Agustus 2025. Hal ini menempatkan Indonesia di atas negara-negara seperti Italia (1.193 personel), India (903), Nepal (877), dan Ghana (876).
Keikutsertaan TNI dalam UNIFIL merupakan bagian dari komitmen panjang Indonesia dalam misi perdamaian PBB sejak tahun 1957, sesuai amanat UUD 1945. Sejarah panjang keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian PBB juga mencakup kontribusi di berbagai negara, termasuk Kongo (1961-1963), Vietnam (1973-1975), Irak (1989), Namibia (1989), Kuwait (1992), Kamboja (1993), Somalia (1993), Bosnia (1993-1996), Filipina (1999), Tajikistan (1998), Sierra Leone (1999), Nepal (2007), dan Darfur (2007), menurut data Kementerian Pertahanan.
Ringkasan
Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia siap mengirimkan pasukan perdamaian ke Palestina untuk mendukung solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina. Kesiapan ini diungkapkan dalam konferensi di Markas Besar PBB, New York, dan ditegaskan melalui media sosial, yang berfokus pada pengakhiran perang dan jaminan keamanan rakyat Palestina.
Indonesia memiliki pengalaman dalam misi perdamaian PBB sejak 2006 melalui Kontingen Garuda (Konga) di UNIFIL Lebanon. Pada Agustus 2025, Indonesia tercatat sebagai kontributor personel terbesar untuk UNIFIL, yang menunjukkan komitmen panjang Indonesia dalam misi perdamaian PBB sejak 1957, sesuai amanat UUD 1945 di berbagai negara.