
Pada Selasa (23/9), dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan skeptismenya terhadap perubahan iklim, menyebutnya sebagai “penipuan terbesar” yang pernah ada. Pernyataan kontroversial ini menggarisbawahi penolakan pemerintahan Trump terhadap inisiatif lingkungan global dan kerja sama multilateral.
Berbeda dengan pandangan Trump, konsensus ilmiah yang kuat menyatakan bahwa perubahan iklim adalah fenomena nyata, sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia, dan dampaknya semakin memburuk. Kenaikan suhu global, intensitas badai yang meningkat, dan mencairnya es di kutub menjadi bukti nyata dari krisis iklim ini. Organisasi seperti PBB telah memperingatkan tentang konsekuensi serius dari penundaan aksi, mengancam kerusakan parah bagi planet dan umat manusia.
Selama pidato yang berlangsung hampir satu jam, Trump meluangkan beberapa menit untuk menyerang isu perubahan iklim. Ia mengkritik kebijakan Uni Eropa dalam mengurangi emisi karbon, yang menurutnya berdampak negatif pada perekonomian, dan memperingatkan negara-negara yang berinvestasi besar dalam energi terbarukan akan menghadapi kerugian ekonomi. “Itu penipuan terbesar yang pernah dilakukan terhadap dunia, menurut saya,” tegas Trump kepada Sidang Umum, seperti dikutip Reuters. Ia menambahkan bahwa prediksi perubahan iklim yang dibuat oleh badan-badan internasional, termasuk PBB, seringkali keliru dan dihasilkan oleh orang-orang yang dianggapnya bodoh, telah menghabiskan kekayaan negara mereka, dan menghalangi keberhasilan.
Sejak menjabat pada Januari 2017, AS di bawah kepemimpinan Trump telah mengajukan penarikan diri dari Perjanjian Paris, perjanjian iklim tahun 2015 yang melibatkan 195 negara untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius. Selain AS, Yaman, Iran, dan Libya juga telah menarik diri dari perjanjian tersebut.
Pemerintahan Trump memprioritaskan agenda “dominasi energi” yang berfokus pada produksi dan ekspor minyak, gas, batu bara, dan energi nuklir, mengesampingkan pengembangan energi terbarukan yang telah menunjukkan daya saing secara biaya. “Kita memiliki minyak terbanyak dari negara mana pun di dunia, minyak dan gas di dunia, dan jika Anda menambahkan batu bara, kita memiliki yang terbanyak dari negara mana pun di dunia,” klaim Trump.
Pernyataan Trump ini muncul sehari sebelum Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyelenggarakan KTT Iklim PBB yang bertujuan untuk membahas rencana aksi iklim baru dari berbagai negara. Guterres secara konsisten mendorong transisi global dari bahan bakar fosil menuju energi bersih. Ia menekankan pergeseran investasi global yang signifikan ke arah energi bersih, dengan angka investasi mencapai US$ 2 triliun pada tahun lalu – US$ 800 miliar lebih tinggi dibandingkan investasi di bahan bakar fosil dan meningkat hampir 70% dalam satu dekade.
Baca juga:
- Prabowo Minta Trump Pimpin Penyelesaian Konflik di Gaza
- Prabowo Kritik Beban Negara Berkembang Akibat Krisis Iklim di Sidang Umum PBB
- Prabowo di Sidang PBB: Dunia Harus Tolak Doktrin Yang Kuat Bisa Berbuat Semaunya
Ringkasan
Dalam Sidang Umum PBB, Presiden Trump kembali menyatakan perubahan iklim sebagai “penipuan terbesar,” menolak konsensus ilmiah yang menunjukkan sebaliknya dan dampak buruknya. Ia mengkritik kebijakan Uni Eropa terkait pengurangan emisi karbon dan memperingatkan kerugian ekonomi dari investasi energi terbarukan, sekaligus membela kebijakan energi AS yang berfokus pada bahan bakar fosil.
Penolakan Trump terhadap perubahan iklim ditunjukkan dengan penarikan AS dari Perjanjian Paris. Hal ini bertolak belakang dengan upaya Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, yang mendorong transisi global ke energi bersih dan mencatat peningkatan investasi global yang signifikan di sektor ini. Pernyataan Trump ini menimbulkan kontroversi mengingat konsensus ilmiah yang kuat mengenai realitas dan dampak perubahan iklim.