
Pada Sabtu (24/1), Presiden Cina Xi Jinping secara mengejutkan memecat sejumlah jenderal penting dari jajaran militer negara tersebut. Para petinggi militer yang dicopot dari jabatannya itu kini tengah menjalani pemeriksaan intensif atas dugaan pelanggaran disiplin dan hukum yang sangat serius.
Di antara para jenderal yang diperiksa adalah Jenderal Zhang Youxia, seorang figur krusial yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC), serta Jenderal Liu Zhenli yang memimpin Departemen Staf Gabungan CMC. Langkah drastis ini sontak memicu beragam spekulasi dan analisis dari para pakar.
Sejumlah pengamat berpendapat bahwa pemecatan Zhang Youxia, yang dikenal sebagai sekutu lama dan terpercaya Xi, merupakan manuver strategis untuk semakin mengonsolidasikan kekuasaan di tangan Presiden. Tindakan ini dipercaya akan membuat sistem komando militer Cina menjadi lebih tertutup dan rahasia. Lebih jauh, para ahli juga mengindikasikan bahwa langkah ini berpotensi mengecilkan peluang Cina untuk melakukan serangan terhadap Taiwan dalam waktu dekat.
Jonathan Czin, seorang analis terkemuka dari Brookings Institution, seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (27/1), menyoroti dampak psikologis dari pemecatan ini. “Pencopotan Zhang berarti bahwa benar-benar tidak ada seorang pun di jajaran kepemimpinan yang aman sekarang,” ujar Czin. Ia juga menggarisbawahi perubahan pola dalam pembersihan internal militer; jika sebelumnya penargetan menyasar mereka yang tidak memiliki kedekatan dengan pemimpin Cina, kini sasarannya justru melibatkan petinggi militer yang punya ikatan kuat dengan Xi Jinping.
Kedekatan antara Xi dan Zhang sendiri bukanlah rahasia. Keduanya merupakan anak-anak dari mantan perwira senior. Bahkan, Zhang, yang kini berusia 75 tahun, seharusnya pensiun pada tahun 2022, namun Xi secara pribadi mempertahankannya di Komisi Militer Pusat (CMC) untuk masa jabatan ketiga. Mengenai motif di balik pemecatan, Czin menambahkan, “Saya pikir kekhawatiran tentang korupsi mungkin nyata, meskipun itu biasanya lebih merupakan dalih untuk menyingkirkan seseorang dalam politik Cina.” Ini menunjukkan kompleksitas lapisan politik di balik tuduhan korupsi.
Sebagai Ketua CMC, selain jabatannya sebagai Presiden, Xi Jinping memang memegang kewenangan tertinggi dalam pengambilan keputusan militer. Lyle Morris, seorang peneliti di Asia Society Policy Institute’s Center for China Analysis, menginterpretasikan pemecatan ini sebagai dua indikasi utama: “Xi mendapat dukungan penuh dari Partai Komunis Cina, dan Xi yakin akan konsolidasi kekuasaannya atas militer.” Lebih lanjut, James Char, akademisi dari S. Rajaratnam School of International Studies, menilai bahwa investigasi terhadap Zhang merupakan upaya Xi untuk menunjukkan sikap tanpa tebang pilih dalam pemberantasan korupsi, bahkan terhadap lingkaran terdekatnya. Char menunjuk pada fakta bahwa Zhang sebelumnya luput dari hukuman meskipun anak buahnya, Li Shangfu, terlibat masalah pada paruh kedua tahun 2023, yang kembali menyoroti isu dugaan korupsi dalam tubuh militer Cina.
Meskipun demikian, para pakar juga menyuarakan kekhawatiran tentang bagaimana militer terbesar di dunia ini akan beroperasi tanpa kepemimpinan utama yang lengkap. Mereka memperkirakan bahwa berbagai inisiatif pertahanan akan melambat drastis hingga Xi Jinping berhasil mengisi kembali jabatan-jabatan strategis di CMC. Dengan dinamika global yang ada, di mana perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang teralihkan ke isu lain, dan dengan pemilihan umum di Taiwan baru akan berlangsung pada tahun 2028, Xi diperkirakan memiliki jeda waktu yang cukup untuk melanjutkan upaya pembersihan internal militer ini. Neil Thomas, peneliti di Asia Society, menegaskan visi Xi: “Dia akan melakukan apa pun untuk memastikan Partai dan militernya loyal secara politis dan berkomitmen secara ideologis.”