
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah secara terbuka mengisyaratkan pergeseran kepemimpinan Federal Reserve (The Fed) dengan menunjuk dua nama sebagai kandidat terkuat untuk posisi Ketua The Fed berikutnya: Kevin Warsh dan Kevin Hassett. “Saya pikir mereka berdua ini hebat,” kata Trump dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, yang dikutip dari Bloomberg pada Minggu (14/12). Salah satu dari mereka dipastikan akan menggantikan Jerome Powell.
Tak hanya mengisyaratkan calon pemimpin baru, Trump juga menyoroti potensi perubahan paradigma dalam pengambilan keputusan moneter. Dalam wawancara yang sama, Trump mengungkapkan pandangannya bahwa Ketua The Fed yang baru seharusnya berkonsultasi dengannya dalam menentukan tingkat suku bunga. Ini merupakan penyimpangan signifikan dari praktik umum di mana presiden AS secara tradisional menyerahkan keputusan suku bunga sepenuhnya kepada bank sentral yang independen. “Hal itu sudah tidak dilakukan lagi. Dulu itu dilakukan secara rutin. Seharusnya itu bisa dilakukan lagi,” tegas Trump. “Saya tidak berpikir dia harus melakukan persis apa yang kami katakan, tapi tentu saja suara presiden seharusnya bisa didengarkan.”
Pernyataan Trump ini sontak menjadi sorotan pasar dan menimbulkan kekhawatiran serius. Kebijakan moneter Amerika Serikat selama ini dijalankan secara independen, sebuah pilar penting untuk menjaga stabilitas harga dan kepercayaan investor. Potensi intervensi politik atau pengaruh eksekutif dalam penetapan suku bunga dapat memengaruhi persepsi independensi The Fed, yang berpotensi menggoyahkan stabilitas ekonomi dan pasar.

Pandangan kontroversial ini bukanlah hal baru dari Trump. Sebelumnya, ia kerap melayangkan kritik tajam terhadap Ketua The Fed saat itu, Jerome Powell, karena dinilai lambat dalam memangkas suku bunga. Kritik tersebut muncul meski The Fed pada Rabu lalu baru saja menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sebuah langkah yang tampaknya belum cukup memenuhi ekspektasi presiden.