Penawaran Umum Perdana (IPO) saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), atau yang lebih dikenal sebagai Superbank, telah rampung dengan hasil yang fenomenal. Dalam catatan sejarah pasar modal Indonesia, SUPA berhasil mencatat kelebihan permintaan atau oversubscribe hingga 318,69 kali dan memecahkan rekor dengan diburu lebih dari 1 juta order dari investor. Pencapaian ini menandai antusiasme pasar yang luar biasa terhadap kehadiran bank digital.
Harga pelaksanaan IPO Superbank ditetapkan pada angka Rp 635 per lembar saham. Harga ini berada di rentang tengah dari penawaran awal yang dilakukan selama fase pemesanan awal atau book building. Mengacu pada prospektus tambahan IPO yang diterbitkan pada Selasa (9/12), Superbank dijadwalkan akan secara resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (17/12). SUPA akan melepas maksimal 4,40 miliar saham baru, yang setara dengan 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Setiap saham memiliki nilai nominal Rp 100, dengan potensi dana segar yang berhasil dihimpun mencapai Rp 2,79 triliun.
CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, memberikan tanggapan positif terhadap tingginya minat investor pada IPO Superbank. Menurutnya, hal ini merupakan sinyal positif yang kuat bagi pasar modal Indonesia secara keseluruhan. Tingginya permintaan tersebut secara jelas mencerminkan kepercayaan pasar yang mendalam terhadap fundamental serta prospek pertumbuhan Superbank di masa depan.
Tidak hanya itu, Bernadus juga berharap kelebihan permintaan ini akan memberikan dampak positif pada likuiditas perdagangan saham SUPA setelah pencatatan perdana. Lebih jauh, ia meyakini bahwa fenomena ini akan menjadi pendorong penting bagi pengembangan sektor perbankan digital di Indonesia. “Respons seperti ini menandakan bahwa appetite investor terhadap IPO sektor perbankan digital masih sangat kuat,” ujar Bernadus dalam keterangan yang dikutip pada Selasa (16/12).
Sebagai perbandingan, beberapa perusahaan lain yang telah mencatatkan IPO sebelumnya juga menunjukkan minat investor yang tinggi. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), yang melantai pada 8 Desember 2025, mencatatkan oversubscribe hingga 948,25 kali dengan 775 ribu SID. Catatan ini bahkan melampaui beberapa IPO perusahaan mercusuar atau lighthouse company. Misalnya, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pada 9 Juli 2025 mencatat oversubscription hingga 563,64 kali. Lalu, emiten anak usaha PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), yakni PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) sempat mencatatkan oversubscribe sebesar 313,15 kali. Selain itu, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) juga mengalami kelebihan permintaan hingga 148,5 kali. Presiden Direktur Bangun Kosambi Sukses, Steven Kusumo, sebelumnya menyatakan bahwa PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), yang mencatatkan saham perdana pada Januari 2025, mengalami oversubscribe sekitar 344,28 kali dengan partisipasi sekitar 168.874 investor.
Valuasi IPO SUPA
Dengan harga penawaran Rp 635 per saham, Sucor Sekuritas menilai Superbank memiliki rasio Price to Book Value (PBV) sekitar 2,64 kali. Angka ini menempatkan Superbank sebagai salah satu bank digital dengan valuasi paling kompetitif dan rendah dibandingkan para pesaingnya di industri.
Bernadus menegaskan bahwa Superbank berada pada level valuasi yang sangat menarik. Ia menyebut Superbank sebagai salah satu bank digital dengan valuasi termurah di pasar saat ini. Menurutnya, valuasi SUPA jauh di bawah PBV bank digital lain seperti Bank Jago (ARTO), Allo Bank Indonesia (BBHI), maupun Bank Aladin Syariah (BANK). “Jika dibandingkan dengan ARTO, BBHI, atau Aladin yang PBV-nya jauh lebih tinggi, maka secara valuasi Superbank berada pada level yang sangat menarik bagi investor,” terang Bernadus dalam keterangannya, Selasa (9/12).
Bernadus menambahkan bahwa rendahnya valuasi Superbank membuka ruang yang besar untuk potensi rerating di masa mendatang. Hal ini terutama dapat terwujud jika bank mampu mengeksekusi strategi pertumbuhan yang efektif dan memaksimalkan ekosistem digitalnya secara optimal. Ia menjelaskan bahwa bank digital pada umumnya diperdagangkan dengan valuasi premium karena prospek pertumbuhannya yang tinggi, namun Superbank saat ini justru berada pada level yang konservatif dan menguntungkan bagi investor.