Tren harga batu bara acuan (HBA) Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan dinamika yang fluktuatif, namun dengan kecenderungan penurunan yang signifikan. Kondisi ini diprediksi akan berlanjut hingga tahun 2026, sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Gita Maharani.
Gita menjelaskan kepada Katadata pada Selasa (16/12) bahwa pergerakan harga batu bara diperkirakan tidak akan jauh berubah. “Kami rasa harga batu bara tidak akan bergerak jauh karena belum terlihat adanya faktor pendorong pergerakan batu bara secara signifikan,” ujarnya.
Secara spesifik, HBA periode kedua Desember 2025 ditetapkan sebesar US$ 100,81 per ton, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 420.K/MB.01/MEM.B/2025. Angka ini menunjukkan kenaikan tipis US$ 2,55 per ton dibandingkan periode pertama Desember yang mencapai US$ 98,26 per ton. Namun, jika dibandingkan dengan penetapan Januari 2025 yang sempat menyentuh US$ 124,01 per ton, nilai HBA akhir tahun tersebut jelas menunjukkan penurunan yang cukup berarti.
Lebih lanjut, Gita menguraikan bahwa stagnasi pergerakan harga batu bara tidak hanya disebabkan oleh minimnya faktor pendorong, tetapi juga karena meningkatnya berbagai tantangan yang dihadapi oleh industri batu bara. Tantangan ini meliputi rencana perubahan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan potensi penerapan bea keluar batu bara, yang berpotensi menekan profitabilitas dan daya saing.
Senada dengan pandangan Gita, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan, Bisman Bakhtiar, turut memprediksi bahwa pergerakan harga batu bara akan cenderung stagnan di tahun mendatang. “Bisa bertahan saja sudah cukup bagus,” kata Bisman kepada Katadata. Ia menambahkan, kenaikan harga hanya mungkin terjadi jika ada konflik atau situasi global yang memanas, yang dapat memicu sentimen peningkatan permintaan batu bara dan harga.
Tren 2025
Gita mengidentifikasi beberapa faktor utama di balik tren penurunan HBA sepanjang 2025. Pertama, adanya suplai global yang kuat, terutama dari produsen raksasa seperti Tiongkok dan India. Kedua negara ini, yang notabene merupakan tujuan utama ekspor Indonesia, telah meningkatkan produksi batu bara domestik mereka. Akibatnya, kebutuhan impor menurun drastis, menyebabkan tekanan pada pasokan global yang melimpah.
Kedua, tingkat pertumbuhan permintaan global batu bara yang melambat atau cenderung datar. Penurunan ini sangat terasa di Tiongkok, yang bahkan diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan permintaan pada tahun 2026. “Jadi, kalau bicara mengenai pergerakan harga sepanjang 2025, kami melihat bahwa tren pelemahan yang terjadi disebabkan dari kombinasi beberapa hal,” jelas Gita.
Meski demikian, HBA sempat menunjukkan peningkatan dan mencapai level tertinggi pada Maret 2025, yaitu sekitar US$ 128,24 per ton. Kenaikan ini terjadi setelah pemerintah melakukan penyesuaian pada mekanisme penetapan HBA menjadi dua periode dalam sebulan. Namun, tren penurunan harga batu bara mulai kembali terlihat pada semester II 2025. Pada Juli lalu, harganya merosot hingga mencapai US$ 97,50 per ton. Selain dua faktor di atas, Gita juga menyebutkan bahwa penurunan HBA turut disumbang oleh faktor transisi energi global yang kian gencar.