
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melambung tinggi, mencapai level 10.500 pada tahun ini. Proyeksi optimis ini datang dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, yang melihat prospek pasar modal Indonesia pada tahun 2026 tetap solid dan menjanjikan. Kinerja bursa tahun ini diharapkan mendapatkan dorongan kuat dari ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, di samping potensi munculnya kebijakan pemerintah yang lebih akomodatif.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan bahwa IHSG telah memperlihatkan tren penguatan yang impresif sejak awal tahun 2026, melanjutkan momentum positif dari tahun sebelumnya. Bahkan, indeks kebanggaan pasar modal Indonesia ini berhasil mencatatkan rekor tertinggi baru pada angka 9.032,59 untuk level penutupan perdagangan harian pada Rabu (14/1) sore. Tidak hanya itu, IHSG juga sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high untuk perdagangan intraday di level 9.049,30, beberapa menit menjelang pasar ditutup.
Fenomena menariknya, penguatan IHSG di awal tahun 2026 ini terjadi di tengah data ekonomi makro yang kurang menggembirakan. Rully memaparkan, kondisi ini diwarnai oleh inflasi Desember 2025 yang masih tinggi, surplus neraca perdagangan yang menurun, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang belum optimal.
Di sisi lain, pasar keuangan domestik terus dibayangi oleh tekanan eksternal yang cukup kuat. Sentimen risk-off yang dominan di tingkat global telah memicu penguatan Indeks Dolar AS (DXY), yang pada gilirannya menekan nilai tukar rupiah secara signifikan. Kondisi ini menyebabkan rupiah terdepresiasi hingga menembus level psikologis baru di atas 16.800 per dolar AS, mencatatkan posisi terendah sejak April 2025.
Situasi pelik ini semakin mempersempit ruang gerak kebijakan moneter nasional. Dengan kombinasi tekanan inflasi yang masih tinggi dan pelemahan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) diprediksi hanya memiliki celah yang sangat terbatas untuk memangkas suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Januari 2026 mendatang. Rully memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, kebijakan moneter akan cenderung bersifat sangat konservatif dan berhati-hati.
Kendati demikian, bursa saham justru tetap menunjukkan performa positif yang kontras dengan kondisi tersebut. Hal ini mencerminkan optimisme kuat para pelaku pasar terhadap prospek ekonomi ke depan, terutama jika terdapat sinkronisasi yang baik antara kebijakan moneter yang prudent dan langkah fiskal pemerintah yang strategis.
Untuk jangka menengah, Rully memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami akselerasi signifikan ke level 5,3% pada tahun 2026, meningkat dari realisasi sekitar 5,1% pada tahun 2025. Namun, capaian ambisius ini sangat bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal, khususnya dalam mengoptimalkan belanja produktif guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“Kunci utama untuk mencapai target IHSG di level 10.500 adalah keselarasan harmonis antara kebijakan moneter dan fiskal. Pasar akan memiliki fundamental yang kokoh apabila likuiditas tetap terjaga dengan baik dan stimulus fiskal terserap secara efektif dan tepat sasaran,” tegas Rully.
Dalam perspektif jangka panjang, konsistensi arah kebijakan ekonomi menjadi faktor krusial untuk mempertebal kepercayaan investor global. Dari sisi sektoral, reli IHSG sejak awal tahun ini didorong oleh performa cemerlang emiten komoditas dan tambang seperti AMMN, BUMI, BYAN, serta BRMS. Tren positif ini diperkirakan akan berlanjut seiring dengan lonjakan harga komoditas global, terutama emas, yang dipicu oleh tingginya ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi.
Ia menambahkan, sektor telekomunikasi dan infrastrukturnya juga berpeluang besar menjadi mesin penggerak IHSG di masa mendatang. Hal ini didukung oleh pesatnya pertumbuhan ekonomi digital serta kebutuhan investasi jaringan yang masif dan berkelanjutan. Dengan berbagai katalis positif tersebut, Mirae Asset tetap mempertahankan pandangan bullish dan optimistis terhadap kinerja pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2026.
Baca juga:
- IHSG Ditutup di 9.032, Saham BUMI, GOTO, MBMA, BBCA Diburu Investor
- Toba Pulp Lestari dalam Pusaran Deforestasi Sumatra, KPK Diminta Turun Tangan
- Emiten Prajogo PTRO dalam Pusaran MSCI dan FTSE 2026, Target Saham ke Rp 16.000?