Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjelma menjadi salah satu agenda pangan dan gizi paling ambisius yang pernah diinisiasi pemerintah Indonesia. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, skala produksinya telah melonjak tajam, menempatkan MBG tak hanya sejajar, namun bahkan berpotensi melampaui kapasitas layanan raksasa restoran cepat saji global seperti McDonald’s.
Menurut proyeksi pemerintah, jumlah penerima manfaat program MBG diperkirakan akan menembus angka 82 juta orang pada akhir tahun 2026. Angka fantastis ini secara signifikan melampaui rata-rata jumlah pelanggan harian McDonald’s secara global yang selama ini berada di kisaran 70 juta orang per hari. Perbandingan ini secara jelas menunjukkan magnitud operasional yang akan dicapai oleh MBG.
Perbedaan mendasar dalam model operasional juga sangat mencolok. Jika McDonald’s mengandalkan jaringan gerai komersial yang tersebar di berbagai negara untuk melayani puluhan juta pelanggannya setiap hari, MBG dirancang untuk mengorkestrasi produksi dan distribusi makanan bergizi melalui ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Ini merupakan sebuah tantangan logistik yang monumental dan belum pernah ada sebelumnya.
Skala dan kompleksitas ini secara otomatis menempatkan MBG sebagai salah satu sistem penyediaan makanan terbesar di dunia. Lebih dari sekadar kuantitas, program ini memiliki target penerima yang jauh lebih spesifik dan berorientasi pada pemenuhan gizi jangka panjang bagi generasi penerus bangsa.
Lonjakan capaian ini sudah mulai terlihat dari perkembangan penerima manfaat sepanjang tahun 2025. Pada triwulan I, jumlah penerima MBG baru mencapai sekitar 2,05 juta orang. Angka tersebut kemudian meningkat lebih dari dua kali lipat pada triwulan II, mencapai 5,56 juta penerima, menunjukkan awal ekspansi yang menjanjikan.
Memasuki paruh kedua tahun 2025, akselerasi program terjadi jauh lebih agresif dan masif. Pada triwulan III, jumlah penerima melonjak drastis hingga sekitar 30 juta orang, lalu kembali meningkat pesat menjadi 55,5 juta orang pada triwulan IV. Pola pertumbuhan eksponensial ini mengindikasikan fase ekspansi besar-besaran, tidak hanya dari sisi cakupan wilayah, tetapi juga jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif, serta peningkatan kapasitas produksi harian yang signifikan.
Namun, perbedaan fundamental antara produksi harian MBG dan McDonald’s tidak hanya terletak pada skala saja. MBG merupakan program layanan publik yang strategis, dengan sasaran utama siswa, balita, dan ibu hamil. Setiap porsi makanan yang disalurkan harus memenuhi standar gizi tertentu yang telah ditetapkan dan didistribusikan secara rutin. Oleh karena itu, perbandingan ini menegaskan bahwa MBG jauh melampaui sekadar program bantuan sosial; ia adalah sebuah sistem logistik pangan berskala nasional yang kompleks dan berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.