Nilai transaksi saham di Malang tumbuh 151,79%

MALANG — Kinerja pasar modal di wilayah Malang menunjukkan geliat yang sangat positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mencatat lonjakan signifikan pada rata-rata nilai transaksi saham, yang per November 2025 melonjak hingga 151,79% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini tumbuh dari Rp2,687 triliun pada November 2024 menjadi Rp6,766 triliun pada November 2025. Tak hanya nilai, frekuensi transaksi saham juga mengalami peningkatan impresif, mencapai 1.268.346 kali per November 2025, atau tumbuh sebesar 141,05% yoy.

Advertisements

Peningkatan aktivitas ini sejalan dengan bertambahnya basis investor pasar modal. Menurut Kepala Kantor OJK Malang, Farid Faletehan, jumlah investor di wilayah kerjanya telah melonjak sebanyak 78.338 individu, mencapai total 373.641 investor per November 2025. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan tahunan sebesar 26,53% dari 295.303 investor pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan investor juga terlihat pada identifikasi investor tunggal (SID). SID C-BEST, yang mencakup instrumen saham dan obligasi korporasi, naik 32,76% yoy dari 132.593 SID menjadi 176.028 SID. Di sisi lain, SID S-INVEST, yang mayoritas diisi oleh reksa dana, juga menunjukkan pertumbuhan 25,89% yoy, dari 279.749 SID menjadi 352.188 SID.

Tren positif di sektor reksa dana semakin menguat. Tercatat, jumlah nasabah reksa dana per akhir November 2025 menembus 42.425, tumbuh 20,84% yoy. Tidak hanya itu, nilai penjualan reksa dana juga meroket 214,37%, mencapai Rp1 triliun dari semula Rp320 miliar pada November 2024. Ini menunjukkan peningkatan minat yang luar biasa terhadap instrumen investasi kolektif tersebut.

Farid Faletehan menggarisbawahi bahwa pencapaian gemilang ini tidak lepas dari stabilitas kinerja perekonomian nasional dan sentimen positif di pasar keuangan global. “Perkembangan tersebut sejalan dengan terjaganya kinerja perekonomian nasional dan sentimen positif di pasar keuangan global, pasar modal Indonesia menutup 2025 dengan kinerja yang baik,” ujarnya, dikutip pada Minggu (25/1/2026). Pernyataan ini menegaskan optimisme terhadap prospek investasi di Tanah Air.

Advertisements

Menanggapi fenomena ini, Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, memberikan perspektifnya. Ia mengakui bahwa pasar modal merupakan instrumen investasi yang sangat menjanjikan, meskipun tidak dapat dipungkiri sensitif terhadap ketidakpastian global. Namun, Joko menyoroti peran strategis investor milenial dan Gen Z yang kian masif dan melek teknologi serta informasi. Menurutnya, kelompok investor ini justru melihat volatilitas jangka pendek sebagai peluang emas untuk meraih keuntungan (cuan) di pasar modal.

Meskipun demikian, Joko Budi Santoso mengingatkan para investor untuk selalu berinvestasi dengan penuh kehati-hatian dan mengendalikan risiko. Ia menekankan pentingnya menghindari sikap ‘jor-joran’ dalam transaksi saham maupun valuta asing demi mengejar keuntungan besar secara instan. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa literasi keuangan yang komprehensif sangat diperlukan. “Jadi masih dibutuhkan sosialisasi yang berkelanjutan dari OJK dan institusi lain untuk terus meningkatkan literasi keuangan, khususnya dalam penguasaan preferensi dan instrumen investasi,” pungkasnya. Edukasi yang konsisten akan membentuk investor yang cerdas dan berjangka panjang di pasar modal.

Advertisements