
Babaumma JAKARTA — Pergerakan laju Indeks Bisnis-27 dibuka di zona merah pada perdagangan Senin (26/1/2026). Saham PT Astra International Tbk. (ASII), saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) hingga saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turut dibuka melemah.
Berdasarkan data IDX Mobile pada Puku 09.05 WIB, indeks saham hasil kerja sama Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan Bisnis Indonesia itu dibuka melemah sebesar 0,15,% pada level Rp563,91.
Saham-saham yang terpantau melemah yakni PT Alamtri Minerals Indonesi Tbk. (ADMR) turun sebesar 0,88% menuju level Rp2.260 selanjutnya saham PT Alamtri Resources Tbk. (ADRO) juga turut melemah 0,83% menuju level Rp2.380.
Selain itu ada saham PT Astra International Tbk. (ASII) melemah 0,73% pada level Rp6.775, saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) turun sebesar 0,56% ke level Rp358. Tak hanya itu saham sejumlah perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 0,33% ke level Rp7.625, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) turun 0.22% ke level Rp4.590
Sementara itu, laju penguatan tampak dari saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menguat sebesar 4,43% ke level Rp4.480, saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) naik sebesar 0,39% ke level Rp2.570, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) naik 0.85% ke level Rp1.125.
Senada, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) naik 0,27% ke level Rp3.780 dan saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) juga menguat sebesar 2,32% ke level Rp2.650.
: IHSG Dibuka Rebound Didorong Laju Saham AMMN, BRMS, hingga MORA
Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan setelah IHSG mengalami koreksi selama tiga hari berturut-turut, indeks berpeluang melanjutkan technical rebound dengan target resistance terdekat di kisaran 9.000–9.030.
“Dari sisi sektoral, kenaikan harga komoditas global menjadi katalis utama yang berpotensi mendorong kinerja saham-saham berbasis komoditas, khususnya emas, batu bara, nikel, dan minyak bumi,” tulis timnriset dikutip
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menyampaikan meningkatnya sikap kehati-hatian investor di tengah beragam sentimen global dan agenda pasar ke depan.
Pasar juga akan mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting di Amerika Serikat atau AS seperti Non-Farm Payrolls (NFP), neraca perdagangan serta data jobless claims, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar dan membentuk ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter selanjutnya.
Sementara itu dari sisi domestik makro, pemerintah Indonesia diperkirakan akan semakin memfokuskan kebijakan pada upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.
“Langkah tersebut tecermin dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang berkelanjutan, mulai dari pengendalian defisit anggaran, optimalisasi penerimaan negara, hingga pengelolaan belanja yang lebih terarah,” katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.