IAI respons program gentengisasi Prabowo: Material harus andal

Program “gentengisasi” atau penggantian atap seng dengan genteng yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto telah memicu perhatian luas, termasuk dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Menurut IAI, pemilihan material atap, baik itu genteng tanah liat tradisional maupun material ringan modern seperti seng dan zincalume, tidak dapat diputuskan secara tunggal. Sebaliknya, keputusan vital ini harus didasarkan pada pertimbangan komprehensif yang mencakup konteks wilayah, potensi risiko bencana, serta penilaian menyeluruh terhadap siklus hidup material tersebut.

Advertisements

IAI menekankan bahwa pemilihan material harus ditempatkan dalam kerangka arsitektur yang holistik. Pendekatan ini wajib memperhitungkan aspek-aspek krusial seperti keandalan bangunan, keselamatan penghuni, hingga prinsip keberlanjutan lingkungan. Setiap pilihan material memiliki karakteristik unik yang perlu diselaraskan dengan kondisi spesifik di lapangan.

Ketua Umum IAI, Georgius Budi Yulianto, menyoroti gagasan Presiden Prabowo Subianto tentang pemanfaatan genteng tanah liat. Ia menjelaskan bahwa genteng telah lama menjadi bagian integral dari warisan arsitektur Nusantara, yang secara turun-temurun beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia dan memanfaatkan ketersediaan sumber daya lokal. Ini menunjukkan relevansi historis dan fungsionalnya dalam kontektur budaya.

“Dari sudut pandang mikroklimatik, genteng tanah liat memiliki kapasitas isolasi termal yang relatif baik, sehingga secara signifikan berkontribusi pada kenyamanan ruang di bawahnya. Material ini juga bersumber dari bahan alami dan berpotensi didaur ulang, menjadikannya kerap dianggap ramah lingkungan,” ujar Georgius kepada Katadata.co.id pada Kamis (5/2), memberikan perspektif positif terkait penggunaan genteng tanah liat.

Advertisements

Meski demikian, Georgius mengingatkan bahwa klaim keberlanjutan tidak dapat hanya dilihat dari asal bahan semata. Penilaian yang akurat harus mencakup seluruh siklus hidup material, mulai dari proses ekstraksi bahan baku, produksi, distribusi, hingga penanganan di akhir masa pakainya. Pendekatan ini penting untuk mendapatkan gambaran keberlanjutan yang objektif.

Sebagai contoh, proses produksi genteng tanah liat memerlukan pembakaran pada suhu tinggi. Tahapan ini umumnya menggunakan bahan bakar fosil atau biomassa dalam jumlah besar, yang kemudian berimplikasi pada emisi karbon. “Proses ini menghasilkan emisi karbon yang tidak kecil. Oleh karena itu, klaim ramah lingkungan perlu dikaji secara kritis dengan melihat efisiensi teknologi pembakaran dan sumber energi yang digunakan,” tambahnya, menyerukan evaluasi lebih dalam.

Seng Lebih Ringan, Lebih Aman Saat Gempa

Di sisi lain, material atap ringan seperti seng, zincalume, atau panel polimer, meskipun memiliki jejak karbon awal yang lebih tinggi akibat proses industri dan ekstraksi mineral, menawarkan keunggulan struktural yang signifikan. Keunggulannya ini menjadi pertimbangan penting dalam desain bangunan modern dan tahan bencana.

Bobotnya yang ringan memungkinkan dimensi rangka bangunan dibuat lebih ramping, transportasi material menjadi lebih efisien, dan waktu konstruksi dapat dipercepat. Lebih krusial lagi, dalam konteks daerah rawan gempa, pengurangan massa atap dinilai sangat penting untuk menurunkan gaya inersia yang bekerja pada bangunan, sehingga meningkatkan ketahanan struktur.

“Artinya, keberlanjutan material tidak hanya soal emisi produksi, tetapi juga kontribusinya terhadap efisiensi struktur dan keselamatan penghuni sepanjang umur bangunan,” kata Georgius, menggarisbawahi bahwa aspek keselamatan adalah dimensi keberlanjutan yang tak kalah penting.

Tidak Semua Wilayah Cocok Genteng

IAI juga menegaskan bahwa pemerintah perlu mempertimbangkan keragaman geografis Indonesia yang luas. Tidak semua daerah memiliki ketersediaan tanah liat yang memadai atau industri genteng yang beroperasi secara efisien energi. Di sejumlah wilayah, distribusi genteng dari sentra produksi justru dapat meningkatkan jejak karbon akibat transportasi jarak jauh yang tidak efisien.

Sebaliknya, di kawasan kepulauan, pesisir, atau wilayah dengan risiko gempa dan angin kencang yang tinggi, material atap ringan sering kali terbukti lebih rasional. Pilihan ini menguntungkan baik dari sisi keselamatan struktural maupun efisiensi logistik pengadaan dan pemasangan material.

Menurut Georgius, ada dua prinsip utama yang harus menjadi landasan dalam pemilihan material atap. Pertama, keandalan bangunan, yang mencakup keselamatan dan kesehatan penghuni, ketahanan terhadap bencana alam, serta kemudahan pemeliharaan. Kedua, keberlanjutan, yang harus dihitung secara holistik melalui pendekatan siklus hidup material secara komprehensif.

“Material lokal tetap relevan selama didukung proses produksi yang efisien energi dan sesuai dengan karakter risiko wilayah. Tidak ada satu material yang unggul untuk semua tempat,” tandasnya, menekankan pentingnya pendekatan yang kontekstual dan adaptif.

IAI menilai, genteng tanah liat merupakan pilihan yang tepat pada wilayah yang memiliki bahan baku lokal berlimpah, teknologi produksi yang memadai, dan risiko kebencanaan relatif rendah. Namun, pada daerah dengan kondisi geografis dan risiko yang berbeda, fleksibilitas pemilihan material harus tetap diberikan agar solusi yang diterapkan optimal dan aman.

“Pendekatan berbasis keandalan dan penilaian siklus hidup inilah yang sejalan dengan arsitektur berkelanjutan. Arsitek memiliki kewajiban untuk merespons tantangan lingkungan dan keselamatan masyarakat secara rasional dan kontekstual,” pungkas Georgius, menegaskan peran krusial arsitek dalam mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan dan aman.

Advertisements