
Dokumen yang baru saja dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) kembali membongkar lapisan detail yang mengejutkan tentang jejaring internasional Jeffrey Epstein. Arsip yang dipublikasikan pada Jumat (30/1/2026) ini secara gamblang menguak upaya gigih dan konsisten terpidana kasus kejahatan seksual tersebut untuk mendekati Presiden Rusia, Vladimir Putin, selama bertahun-tahun. Terungkap bahwa manuver ambisius ini tak surut, bahkan setelah Epstein menjalani vonis pertamanya atas kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur. Menariknya, meskipun arsip tersebut mencatat berbagai langkah rinci yang dilakukan Epstein, hingga kini belum ada bukti konkret yang mengonfirmasi terjadinya pertemuan langsung antara dirinya dan Vladimir Putin.
Rilisan arsip DOJ ini merupakan bagian integral dari penyelidikan ekstensif terhadap aktivitas global Jeffrey Epstein yang telah berlangsung lama. Lebih dari tiga juta dokumen telah dibuka untuk publik, meliputi korespondensi internal, surat elektronik, serta berbagai catatan komunikasi lintas negara yang terbentang dari awal 2010-an hingga tahun 2018. Luasnya dokumen ini secara tegas menunjukkan jangkauan jejaring Epstein yang fenomenal di berbagai penjuru dunia. Dalam tumpukan arsip tersebut, nama Vladimir Putin tercatat muncul sebanyak 1.055 kali, sebuah frekuensi yang luar biasa tinggi, menjadikannya salah satu figur yang paling sering disebut dalam seluruh dokumen Epstein.
Berusaha Mendekati Putin Sejak 2010 presiden rusia vladimir putin (skynews)
Dokumen-dokumen Departemen Kehakiman AS secara terang benderang mengungkap kegigihan Jeffrey Epstein dalam membangun jalur komunikasi dengan Vladimir Putin. Upaya intensif ini, yang berlangsung sejak sekitar tahun 2010 hingga menjelang akhir hidupnya, dilakukan melalui serangkaian pendekatan beragam serta pemanfaatan jaringan perantara internasional yang luas. Bahkan status hukumnya sebagai terpidana kasus kejahatan seksual tidak menyurutkan langkah-langkahnya untuk menjangkau lingkaran kekuasaan di Rusia.
Dalam korespondensi surelnya, Epstein berulang kali menyuarakan hasratnya untuk membahas isu-isu ekonomi strategis langsung dengan Putin. Ia berambisi mengangkat topik utama seperti peluang investasi asing di Rusia dan diversifikasi ekonomi negara tersebut. Dengan piawai, Epstein memposisikan dirinya sebagai jembatan penting yang mampu mempertemukan kepentingan ekonomi internasional dengan agenda pembangunan Rusia.
Selain itu, arsip tersebut juga membuktikan bahwa Epstein telah berupaya keras mendapatkan visa Rusia sejak 2010. Dalam sebuah pesan surel yang eksplisit, ia bahkan mempertanyakan perihal kebutuhan visa sambil menyiratkan bahwa dirinya memiliki relasi yang mengenal Putin. Ini menegaskan upayanya yang sistematis, baik melalui jalur administratif formal maupun koneksi personal, demi melancarkan aksesnya menuju Rusia.
Berupaya Mendekati Putin Lewat Relasi Politik
Untuk membuka pintu menuju Kremlin, Jeffrey Epstein dengan cerdik memanfaatkan jaringan politik internasional yang telah ia bangun. Salah satu figur kunci yang sering muncul dalam dokumen adalah Thorbjorn Jagland, mantan Perdana Menteri Norwegia yang kala itu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Council of Europe. Posisi strategis Jagland memberinya akses luas ke para pemimpin negara-negara Eropa, termasuk Rusia, yang sangat berharga bagi Epstein.
Melalui berbagai komunikasi, Jagland tercatat beberapa kali berdiskusi dengan Epstein tentang Rusia dan isu-isu terkait. Bahkan, Jagland sempat menawarkan diri untuk mempresentasikan potensi investasi Epstein kepada Vladimir Putin. Meskipun jalur komunikasi ini bersifat informal dan tidak resmi, Epstein sangat menganggapnya penting dalam usahanya membangun akses ke lingkaran kekuasaan Rusia.
Selain melalui jejaring politik, dokumen Departemen Kehakiman AS juga merinci beberapa upaya Epstein untuk mengatur pertemuan langsung dengan Putin. Pada Juni 2013, misalnya, Epstein mengundang Putin untuk makan malam di Paris, bahkan mengklaim bahwa Bill Gates akan menginap di kediamannya. Namun, tidak ada konfirmasi bahwa upaya ini membuahkan hasil.
Epstein juga memperluas jaringannya untuk mencoba menjangkau pejabat tinggi Rusia lainnya. Pada tahun 2018, ia berupaya mengirim pesan kepada Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, lagi-lagi melalui perantara Jagland. Setahun sebelumnya, pada 2017, Epstein juga meminta Jagland untuk mendiskusikan masa depan mata uang digital dengan Putin, menunjukkan spektrum minatnya yang luas.
Menariknya, dokumen tersebut turut mencatat klaim Epstein mengenai pemahamannya yang mendalam terhadap dinamika politik Amerika Serikat. Ia menyebut memiliki wawasan khusus tentang pola pikir Presiden AS kala itu, Donald Trump, dan secara percaya diri mengklaim bahwa informasi tersebut dapat membantu kepentingan diplomatik Rusia. Meskipun demikian, dokumen ini tidak menyertakan bukti independen yang mendukung klaim sensasional Epstein, dan tidak ada indikasi konkret bahwa pihak Rusia menindaklanjuti tawaran tersebut.