Babaumma – , JAKARTA — Sejumlah analis pasar tengah mencermati potensi risiko koreksi pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun 2026. Skenario terburuk yang menjadi perhatian utama adalah kemungkinan penurunan status Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), sebuah langkah yang dapat berdampak signifikan pada lanskap pasar saham Indonesia.
Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawa, mengungkapkan pihaknya masih optimistis dengan fundamental domestik yang solid, mematok target IHSG pada level 9.440 hingga akhir 2026. Namun, Erindra juga menyoroti adanya risiko koreksi IHSG ke kisaran 8.900–9.175. Penurunan ini berpotensi terjadi apabila flow premium pada saham-saham kelompok konglomerasi mulai menyusut, sebuah dinamika yang patut diwaspadai investor.
Lebih lanjut, Erindra Krisnawa mengidentifikasi risiko terbesar atau worst case scenario bagi pasar saham Indonesia adalah apabila MSCI memutuskan untuk mengeluarkan Indonesia dari kategori emerging market. Meskipun skenario ini dianggap ekstrem dan belum menjadi asumsi utama bagi BRI Danareksa saat ini, implikasinya tidak dapat diabaikan. Pasalnya, MSCI telah memberikan tenggat waktu hingga Mei tahun ini agar Indonesia menunjukkan kemajuan konkret dalam perbaikan transparansi dan struktur pasar modal.
Kegagalan Indonesia dalam memenuhi ekspektasi tersebut dapat berujung pada pemangkasan bobot saham nasional dalam indeks pasar berkembang. Dalam skenario terburuk, Indonesia bahkan bisa kehilangan statusnya sebagai emerging market dan terdegradasi menjadi frontier market. Dampak dari perubahan status ini sangat signifikan, mengingat banyak investor global memiliki mandat investasi yang secara ketat membatasi eksposur mereka hanya pada emerging market, sehingga berpotensi memicu arus keluar modal.
Di sisi lain, Sinarmas Sekuritas menyampaikan pandangan yang lebih optimistis terhadap prospek IHSG. Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas, Ike Widiawati, meyakini IHSG masih berada dalam tren bullish. Ia menetapkan target IHSG moderat di kisaran 9.000, dengan potensi mencapai 9.600 pada skenario terbaik, menunjukkan keyakinan kuat terhadap potensi pertumbuhan.
Menurut Ike, optimisme ini didukung oleh sejumlah katalis domestik yang kuat. Faktor-faktor tersebut meliputi sinergi Danantara, peningkatan alokasi investasi saham oleh dana pensiun dan asuransi dari 8% menjadi 20%, potensi pelonggaran suku bunga, serta peluang rebound pada saham-saham blue chip dan berfundamental kuat. Katalis-katalis ini diharapkan mampu menopang penguatan IHSG ke depan.
Sementara itu, Head of Research Analyst RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, mencatat bahwa pasar saham Indonesia cenderung merespons positif terhadap rilis data ekonomi domestik sepanjang tahun 2025. Data tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11%, mengindikasikan ketahanan ekonomi. Namun demikian, seiring dengan banyaknya perkembangan terbaru yang dinamis, RHB Sekuritas saat ini tengah meninjau ulang proyeksi IHSG. “Sebelumnya target IHSG kami berada di level 9.400 untuk 2026, dan saat ini sedang dalam proses review,” pungkas Andrey, menunjukkan adaptasi terhadap kondisi pasar yang terus berubah.