Pasar tunggu rilis data global & domestik, IHSG pekan depan diprediksi fluktuatif

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan bergerak dalam rentang fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas pada perdagangan pekan depan, tepatnya 9–13 Februari 2026. Proyeksi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor dalam menyikapi berbagai dinamika ekonomi, baik dari kancah global maupun domestik.

Advertisements

Menurut pandangan Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, tekanan yang membayangi pasar saham Indonesia saat ini sebagian besar dipicu oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter global. Selain itu, para pelaku pasar juga tengah menantikan rilis sejumlah data ekonomi utama yang diperkirakan akan memberikan konfirmasi lebih lanjut mengenai kondisi perekonomian.

“Pergerakan IHSG diprediksi akan bervariasi dengan kecenderungan pelemahan terbatas, berada pada level support 7.716 dan level resistance 8.207,” jelas Imam dalam risetnya pada Minggu (8/2/2026). Angka-angka ini menjadi patokan penting bagi investor untuk memitigasi risiko dalam mengambil keputusan investasi di tengah ketidakpastian.

Dari lanskap global, perhatian utama pelaku pasar akan tertuju pada Amerika Serikat. Fokus utama adalah rilis data inflasi AS yang diperkirakan akan menunjukkan penurunan ke level 2,5% secara tahunan (yoy) dari sebelumnya 2,7% yoy. Penurunan inflasi ini berpotensi besar untuk memperkuat ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Federal Reserve, yang tentunya akan menjadi sentimen positif bagi pasar global.

Advertisements

Selain inflasi, data ketenagakerjaan AS juga menjadi sorotan. Angka initial jobless claims diperkirakan akan berada pada kisaran 235.000, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan stabil di level 4,4%. Indikator-indikator ini mengisyaratkan bahwa pasar tenaga kerja di AS mulai melandai, memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Sentimen eksternal lainnya yang patut dicermati datang dari China. Pasar akan dengan saksama memperhatikan rilis data inflasi China yang diperkirakan akan turun menjadi 0,4% secara tahunan dari sebelumnya 0,8%. Proyeksi ini tidak hanya mengindikasikan adanya tekanan pada permintaan domestik yang masih lemah, tetapi juga membuka ruang bagi otoritas China untuk menerapkan kebijakan yang lebih longgar guna menstimulasi ekonomi China.

Data China sangat krusial mengingat perannya sebagai mitra dagang utama Indonesia serta pengaruhnya yang signifikan terhadap pergerakan harga komoditas global,” terang Imam, menggarisbawahi betapa eratnya hubungan ekonomi antara kedua negara dan dampaknya terhadap harga-harga komoditas yang menjadi tumpuan ekspor Indonesia.

Beralih ke ranah domestik, fokus investor akan tertuju pada rilis data penjualan ritel Desember 2025. Data ini penting sebagai indikator daya beli masyarakat menjelang akhir tahun. Tak kalah penting, data penjualan mobil Januari 2026 juga akan dicermati sebagai gambaran awal tren konsumsi domestik di awal tahun, memberikan petunjuk tentang geliat perekonomian masyarakat.

“Data-data ini akan menjadi konfirmasi lanjutan atas ketahanan konsumsi rumah tangga, yang selama ini terbukti menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” imbuhnya, menegaskan vitalnya sektor konsumsi dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Di luar faktor data ekonomi, pasar juga masih menaruh perhatian pada perkembangan kebijakan lembaga pemeringkat Moody’s. Khususnya, dampak dari penurunan outlook terhadap beberapa perusahaan Indonesia dinilai berpotensi memengaruhi persepsi risiko investasi, biaya pendanaan, serta keseluruhan sentimen investor terhadap pasar saham domestik.

Sebagai kilas balik, selama satu pekan terakhir, IHSG telah terkoreksi cukup dalam sebesar 4,73%, menutup perdagangan pada level 7.935. Penurunan ini disertai dengan outflow signifikan di pasar reguler yang mencapai Rp1,2 triliun, mencerminkan adanya tekanan jual dari investor.

Sentimen negatif dari MSCI yang mengancam Indonesia akan dimasukkan ke dalam kategori frontier market jika tidak dapat memenuhi permintaan terkait transparansi pemegang saham, masih menjadi penyebab utama pelemahan. Di samping itu, pasar saham Indonesia juga dipengaruhi oleh beragam sentimen lain, baik dari ranah global maupun domestik.

Dari sisi global, ada sentimen geopolitik antara AS dan Iran. Kabar baik datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan bahwa pembicaraan tidak langsung AS-Iran yang dimediasi Oman di Muscat berjalan sangat baik. Hal ini membuka peluang pertemuan lanjutan awal pekan depan, sejalan dengan pernyataan Iran yang menilai perundingan awal berlangsung positif untuk meredam ketegangan dan menghindari konflik militer, membawa sedikit harapan di tengah ketidakpastian.

Advertisements