
JAKARTA, Babaumma — Tahun Kuda Api 2026 diproyeksikan membawa tantangan sekaligus peluang signifikan bagi pasar modal Indonesia. Para pelaku pasar perlu mempersiapkan diri menghadapi periode dinamis ini, terutama dengan menyoroti potensi cemerlang dari emiten di sektor-sektor yang berasosiasi dengan elemen kayu, tanah, air, dan api, yang diperkirakan akan menjadi lebih menguntungkan sepanjang tahun.
Kondisi pasar yang penuh dinamika ini telah tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat, 13 Februari 2026, IHSG menutup perdagangan di level 8.212,27. Angka ini menunjukkan koreksi tipis sebesar 0,64% atau setara 53,08 basis poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Sepanjang sesi perdagangan, indeks kebanggaan bursa Tanah Air ini sempat bergerak dalam rentang 8.170,59 hingga 8.251,99, menandakan adanya gejolak internal pasar.
Total nilai transaksi pada hari tersebut cukup substansial, mencapai Rp23,37 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 45,79 miliar saham. Namun, sentimen pasar cenderung negatif dan selektif, tercermin dari dominasi saham yang melemah. Sebanyak 429 saham konstituen berakhir di zona merah, sementara 282 saham menguat, dan 247 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Menjelaskan lebih lanjut mengenai dinamika pasar modal ini, Founder Feng Shui Consulting Indonesia, Yulius Fang, memprediksi bahwa IHSG akan menunjukkan tren volatilitas yang cukup tinggi, setidaknya hingga paruh pertama Tahun Kuda Api 2026. Prediksi ini memberikan gambaran awal bagi investor untuk lebih berhati-hati.
Dalam analisis feng shui-nya, Yulius Fang menggarisbawahi bahwa Tahun Kuda Api memang akan memancarkan aura optimisme yang dapat menyuntik semangat pasar. Namun, di sisi lain, energi api juga berpotensi memicu ketidaksabaran di kalangan investor, yang mungkin menginginkan hasil cepat. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya momentum ini untuk mengasah dan meningkatkan disiplin dalam mengelola aset serta strategi investasi jangka panjang.
Yulius Fang menegaskan, “Tahun ini adalah tahun ketidakstabilan dan tantangan. Oleh karena itu, sangat krusial untuk mengatur cashflow dan menghindari strategi ‘all in‘. Ini bukan tentang kecepatan, melainkan tentang kestabilan.” Pernyataan ini disampaikannya dalam acara BRI Danareksa Outlook 2026 pada Jumat, 13 Februari 2026, menggarisbawahi pentingnya kehati-hatian dalam setiap langkah investasi.
Meskipun demikian, di tengah bayang-bayang volatilitas pasar, Yulius Fang juga menyoroti beberapa sektor yang dinilai prospektif berdasarkan analisis elemen. Menurutnya, sektor-sektor dengan elemen kayu, tanah, air, dan api akan mengalami penguatan yang signifikan. Sebaliknya, sektor dengan elemen logam diproyeksikan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar, membutuhkan strategi adaptif dari para pelaku usahanya.
Secara analogi, elemen api yang mendominasi Tahun Kuda Api memiliki kemampuan untuk “membakar” logam. Oleh karena itu, sektor-sektor yang terkait dengan elemen logam seperti otomotif, elektronik, komputer, dan manufaktur mesin, diperkirakan akan menghadapi ujian berat dan tantangan serius sepanjang tahun ini. Ketahanan dan inovasi menjadi kunci bagi keberlanjutan bisnis di sektor-sektor tersebut.
Yulius menjelaskan lebih lanjut, “Saat pasar mengalami ketidakseimbangan, seperti yang diproyeksikan terjadi tahun ini, api yang kuat akan membakar elemen logam. Konsekuensinya, lini bisnis berbasis logam akan sangat terpengaruh.” Ia menegaskan bahwa setiap tantangan yang muncul harus dihadapi dengan ketahanan dan strategi yang matang untuk memitigasi risiko dan mencari peluang baru.
Di sisi lain, sektor-sektor yang bernaung di bawah elemen air diprediksi akan menorehkan kinerja positif dan menawarkan peluang investasi yang menjanjikan. Ini mencakup lini bisnis konsumer, pariwisata, transportasi, perikanan, perkapalan, media online, hingga jasa laundry. Kehidupan dan aliran yang disimbolkan elemen air dapat membawa keberuntungan bagi industri-industri ini.
Tak kalah menjanjikan, sektor-sektor dengan elemen kayu, yang meliputi industri tekstil dan fashion, layanan kesehatan, kehutanan dan perkebunan, percetakan, hingga ekspedisi dan logistik, diperkirakan juga akan menunjukkan performa cemerlang. Demikian pula halnya dengan sektor-sektor di bawah elemen tanah, seperti industri properti, infrastruktur, konstruksi, perbankan, dan asuransi tradisional, yang diproyeksikan akan mengalami penguatan signifikan, mencerminkan fondasi yang kokoh dan stabilitas.
Melihat pada aset investasi lainnya, Yulius Fang memperingatkan bahwa baik saham maupun aset kripto berpotensi mengalami koreksi. Secara spesifik untuk kripto, ia menyatakan pesimisme akan adanya periode bullish yang signifikan pada tahun ini. Berbeda dengan aset-aset tersebut, emas justru diproyeksikan masih memiliki potensi untuk terus meningkat, menjadikannya pilihan yang menarik di tengah ketidakpastian pasar.
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi dan analisis semata, dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual aset investasi apapun. Setiap keputusan investasi yang diambil sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Penulis dan penerbit tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau keuntungan yang mungkin timbul dari keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi ini.