Bank Indonesia (BI) telah menghadirkan inovasi pembayaran yang signifikan dengan meluncurkan layanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) berbasis Near Field Communication (NFC) sejak pertengahan Maret 2025. Fitur ini memungkinkan transaksi lebih cepat dan praktis hanya dengan menempelkan ponsel. Namun, kabar kurang menyenangkan masih menyelimuti pengguna iPhone, sebab fitur canggih ini hingga kini baru dapat dinikmati oleh pengguna ponsel bersistem operasi Android.
Kondisi ini disebabkan oleh kebijakan Apple yang belum membuka fitur NFC secara penuh untuk pihak ketiga. “Pengguna iPhone mohon bersabar untuk QRIS Tap. Karena memang hingga sekarang Apple itu belum membuka NFC fiturnya. Dia hanya buka untuk Apple Pay,” jelas Deputi Gubernur BI dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI pada Kamis (19/2). Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi BI dalam memperluas jangkauan layanan pembayaran digital.
Meski demikian, ada secercah harapan. Menurut Filianingsih, pihak Apple Indonesia dan kantor pusat Apple telah menyatakan komitmen untuk mendalami dan melihat kemungkinan membuka fitur NFC di perangkat mereka, serupa dengan apa yang telah mereka lakukan di Eropa. Upaya ini menunjukkan potensi integrasi QRIS NFC ke ekosistem iPhone di masa mendatang, membuka peluang bagi jutaan pengguna Apple di Indonesia.
Sejak diluncurkan, pertumbuhan penggunaan QRIS Tap menunjukkan geliat yang sangat pesat. Inovasi ini telah diadopsi secara luas di berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga merchant hotel dan restoran. “Hospitality area juga mulai menggunakan QRIS Tap,” tambahnya. Data menunjukkan, hingga Januari 2026, lebih dari 475 ribu transaksi telah diproses, mencatat pertumbuhan impresif sebesar 7,9% secara bulanan.
Perkembangan positif ini juga tercermin dari nilai transaksi QRIS Tap yang melonjak. Pada Januari 2026, nilai transaksi mencapai Rp 4,6 miliar, meningkat 6,44% dari bulan sebelumnya. Rata-rata penggunaan QRIS Tap bervariasi; untuk merchant transportasi, rata-ratanya sekitar Rp 5.000 per transaksi, sedangkan di sektor restoran, rata-ratanya mencapai Rp 70.000 per transaksi, menunjukkan fleksibilitas dan adaptasi di berbagai skala pembayaran.
Secara keseluruhan, Bank Indonesia mencatat bahwa transaksi menggunakan QRIS mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara seluruh pembayaran digital, mencapai 131,47% secara tahunan (yoy). Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan bahwa pencapaian luar biasa ini tak lepas dari peningkatan signifikan jumlah pengguna dan merchant yang tersebar di berbagai daerah, menandakan adopsi yang masif di seluruh negeri.
Perry lebih lanjut menjelaskan bahwa kinerja positif ini didukung penuh oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant yang terus bertambah, serta perluasan ekosistem ekonomi keuangan digital yang semakin inklusif. Hal ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi inovasi pembayaran digital untuk terus berkembang dan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Dalam gambaran yang lebih luas, volume total transaksi pembayaran digital pada Januari 2026 mencapai angka fantastis 4,79 miliar transaksi, merepresentasikan pertumbuhan kuat sebesar 39,65% secara tahunan (yoy). Perry menyatakan bahwa pertumbuhan ini merupakan bukti nyata dari semakin luasnya akseptasi pembayaran digital di berbagai sektor kehidupan masyarakat, mengubah cara bertransaksi sehari-hari.
Dukungan terhadap pertumbuhan ini juga datang dari kanal pembayaran digital lainnya. Volume transaksi melalui aplikasi mobile banking tercatat tumbuh stabil 10,00% (yoy), sementara transaksi internet banking menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi, yaitu 23,25% (yoy). Data ini menggarisbawahi diversifikasi preferensi pengguna dalam memanfaatkan teknologi pembayaran digital.
Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 455 juta transaksi pada Januari 2026, menandai pertumbuhan impresif sebesar 34,41% (yoy) dengan nilai transaksi mencapai Rp1.176 triliun. Angka ini menunjukkan efisiensi dan kecepatan sistem pembayaran ritel nasional yang terus ditingkatkan oleh BI.
Sementara itu, transaksi nilai besar yang krusial bagi stabilitas sistem keuangan diproses melalui BI-RTGS. Tercatat sebanyak 0,86 juta transaksi dengan pertumbuhan 7,60% (yoy), dan nilai yang sangat substansial mencapai Rp19.555 triliun. Kedua sistem ini menjadi tulang punggung yang memastikan kelancaran arus kas dalam skala besar.
Perry juga menegaskan bahwa stabilitas infrastruktur pembayaran nasional tetap terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari kelancaran dan keandalan penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) serta sistem pembayaran industri sepanjang Januari 2026. Selain itu, kecukupan pasokan uang dalam jumlah dan kualitas yang memadai juga dinilainya tetap terkendali, menjamin kepercayaan publik terhadap sistem keuangan.
Kondisi industri sistem pembayaran di Indonesia secara keseluruhan dinilai semakin sehat, ditandai dengan penguatan interkoneksi yang solid antar pelaku pasar dan perluasan ekosistem Ekonomi Keuangan Digital (EKD). Sinergi ini diharapkan akan terus mendorong inovasi dan inklusi keuangan, menciptakan fondasi yang kuat untuk masa depan pembayaran digital di tanah air.