Di tengah gejolak geopolitik global dan lonjakan harga komoditas, Amerika Serikat dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah strategis untuk meredakan tekanan pada pasar energi dunia. Langkah ini melibatkan potensi pencabutan sebagian atau bahkan seluruh sanksi minyak Rusia yang sebelumnya diberlakukan. Tujuan utamanya adalah menstabilkan harga minyak global yang melonjak signifikan, terutama akibat dampak ketegangan yang memburuk terkait dugaan perang Iran.
Indikasi perubahan kebijakan ini bukan tanpa preseden. Sebelumnya, Washington telah memberikan restu kepada India untuk tetap melakukan pembelian minyak mentah dari Rusia. Kini, sinyal yang muncul menunjukkan bahwa ‘Negeri Paman Sam’ kemungkinan besar akan memperluas relaksasi tersebut, membuka jalan bagi negara lain untuk membeli minyak dari Rusia, guna menambah pasokan di tengah kebutuhan global.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan kemungkinan perluasan kebijakan ini. Mengutip pernyataannya dari Fox News yang dilansir Antara pada Sabtu (7/3), Bessent mengungkapkan, “Kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Rusia lainnya. Ada ratusan juta barel minyak mentah yang dikenai sanksi berada di laut.”
Menurut Bessent, pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump berencana untuk mengumumkan langkah-langkah konkret dalam waktu dekat guna secara signifikan mengurangi tekanan yang saat ini menghimpit pasar energi global.
Pertimbangan pencabutan sanksi minyak Rusia ini muncul di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang kian memanas, menciptakan gangguan serius pada jalur pelayaran vital melalui Selat Hormuz. Lalu lintas di salah satu jalur perairan paling strategis di dunia tersebut dilaporkan melambat pasca-serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian memicu serangan balasan dari Teheran ke beberapa negara Teluk.
Dari sisi Rusia, penasihat ekonomi Kremlin, Kirill Dmitriev, mengonfirmasi bahwa ia tengah dalam diskusi intensif dengan Amerika Serikat mengenai prospek pencabutan sanksi tersebut. Dmitriev turut melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara Barat atas sanksi yang mereka jatuhkan sebelumnya, menyatakan dengan tegas, “Sanksi Barat telah terbukti merugikan ekonomi dunia,” seperti yang dikutip dari The Guardian.
Dampak langsung dari gejolak geopolitik ini tercermin jelas pada harga minyak acuan dunia, yang mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak tahun 2022. Kondisi ini tidak terlepas dari situasi ‘perang’ yang memicu gelombang gangguan luas di pasar energi global, memberikan tekanan signifikan pada seluruh rantai pasokan, mulai dari produsen, importir, hingga industri logistik di seluruh dunia.
Secara spesifik, pada penutupan perdagangan Jumat (6/3), harga minyak Brent melonjak hingga mencapai US$ 83,33 per barel. Tidak kalah, minyak West Texas Intermediate (WTI), sebagai patokan minyak acuan AS, juga menunjukkan pergerakan positif dengan menyentuh angka US$ 78,61, menandai kenaikan impresif sebesar 17% dalam seminggu terakhir.
Sebagai penutup dan penguat sinyal relaksasi, perlu diingat bahwa Departemen Keuangan Amerika Serikat sebelumnya telah mengeluarkan dispensasi sementara yang secara eksplisit memungkinkan India untuk terus melakukan pembelian minyak mentah dari Rusia, membuka peluang serupa bagi kebijakan yang lebih luas di masa mendatang.