PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) tengah mematangkan strateginya menjelang berakhirnya masa relaksasi ekspor konsentrat tembaga dari pemerintah pada bulan April mendatang. Perusahaan menegaskan fokus utamanya adalah percepatan perbaikan fasilitas smelter demi memulihkan operasional dan meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap.
Vice President Corporate Communications Amman Mineral, Kartika Octaviana, menjelaskan bahwa perusahaan belum mengambil keputusan final terkait pengajuan perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga. “Sebab, masih ada 1,5 bulan. Banyak hal bisa terjadi, tetapi sejauh ini sudah cukup baik, bahkan lebih baik dari yang kami harapkan,” ungkap Vina, sapaan akrab Kartika, di Jakarta pada Selasa (11/3). Ia menambahkan, Amman Mineral terus berupaya maksimal melakukan perbaikan sesuai arahan pemerintah hingga batas relaksasi bulan depan. Apabila nantinya ada pengajuan perpanjangan, proses evaluasi dan verifikasi akan kembali dilakukan.
Vina mengakui bahwa pengoperasian smelter merupakan tantangan tersendiri bagi perusahaan, mengingat fokus utama AMMN selama ini adalah kegiatan penambangan. Seiring dengan perbaikan yang sedang berjalan, Amman Mineral secara intensif beradaptasi dengan berbagai aspek baru dalam proses pengolahan mineral, termasuk pengelolaan sulfur dan komponen lainnya. Menurutnya, proses perbaikan terus berlangsung seraya perusahaan berupaya meningkatkan kapasitas operasi smelter secara bertahap. Meskipun demikian, Vina optimistis mengingat AMMN mampu menyelesaikan pembangunan smelter dalam waktu relatif singkat, sekitar dua hingga tiga tahun, serta bertekad mempercepat pengoperasiannya sesuai amanat pemerintah, meski secara global, proses stabilisasi operasi smelter bisa memakan waktu hingga dua atau tiga tahun.
Sebelumnya, izin ekspor ini diberikan terkait kondisi kahar (force majeure) yang sempat terjadi pada fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) perusahaan. Anak usaha AMMN, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), kemudian memperoleh rekomendasi ekspor konsentrat tembaga dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Izin ekspor sebanyak 480 ribu metrik ton kering (dmt) ini berlaku selama enam bulan, mulai 31 Oktober 2025 hingga April 2026.
Presiden Direktur AMNT, Rachmat Makkasau, menjelaskan bahwa smelter sempat menghentikan operasionalnya sementara pada Juli dan Agustus 2025. Penghentian ini dilakukan untuk perbaikan unit Flash Converting Furnace dan Sulfuric Acid Plant guna mencegah kerusakan lebih parah dan risiko keselamatan kerja. “Kerusakan ini terjadi murni di luar kemampuan kami, tidak disengaja, dan tidak dapat dihindari,” ujar Rachmat dalam keterangan resmi pada November 2025.
Berdasarkan laporan kinerja hingga September 2025, AMMN menargetkan produksi 430.000 dmt konsentrat tembaga sepanjang tahun 2025, dengan kandungan sekitar 228 juta pon tembaga dan 90.000 ons emas. Hingga 30 September 2025, produksi telah mencapai 310.143 dmt, dengan 273.506 dmt di antaranya telah diumpankan ke smelter. Total persediaan konsentrat tercatat sebesar 226.637 dmt pada akhir September 2025.
Kontribusi AMMN Memperkuat Perekonomian Nasional
Tak hanya fokus pada operasional, kehadiran smelter tembaga AMMN juga dinilai signifikan dalam mendukung perekonomian nasional. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia menilai beroperasinya smelter ini berpotensi besar meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus memperkuat hilirisasi industri mineral nasional.
Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI, Uka Wikarya, menyoroti bahwa smelter tersebut juga dapat menjadi katalis bagi perkembangan industri hilir berbasis logam, meliputi sektor elektronik, energi, dan manufaktur. Dengan dukungan kebijakan yang tepat serta penguatan ekosistem industri hilir, AMMN memiliki potensi strategis untuk menjadi salah satu motor penggerak struktur ekonomi nasional yang berkelanjutan dan inklusif.
Melalui kajian bertajuk “Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi AMNT sepanjang periode 2018 hingga 2024,” Uka mengungkapkan kontribusi AMMN terhadap pembentukan PDB nasional mencapai Rp 173,4 triliun, atau rata-rata Rp 24,8 triliun per tahun. Angka ini setara dengan sekitar 0,13% dari PDB atas dasar harga berlaku nasional pada tahun 2024.
Kajian tersebut lebih lanjut mencatat peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar Rp 67,6 triliun. Kenaikan ini diperkirakan turut berkontribusi dalam menurunkan tingkat kemiskinan nasional sekitar 0,024–0,098 poin persentase, yang berarti menjangkau sekitar 80 ribu hingga 206 ribu orang. Selain itu, AMMN juga dinilai berperan dalam menekan tingkat pengangguran sebesar 0,012–0,069 poin persentase, atau sekitar 29 ribu hingga 90 ribu orang.
Dari sisi fiskal, Uka memaparkan bahwa sepanjang periode 2018–2024, total kontribusi fiskal Amman, baik melalui pembayaran langsung ke kas negara maupun dampak tidak langsung dari aktivitas ekonominya, mencapai Rp 39,05 triliun. Jumlah ini mencakup pembayaran pajak, royalti, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), serta peningkatan penerimaan fiskal dari sektor-sektor terkait.
Dalam analisisnya, Uka juga menekankan dampak positif aktivitas ekspor perusahaan terhadap neraca pembayaran Indonesia. Total ekspor AMMN selama periode yang sama mencapai US$ 10,29 miliar, menghasilkan penghematan devisa bersih sekitar US$ 7,66 miliar atau rata-rata US$ 1,09 miliar per tahun. “Temuan ini mengindikasikan peran AMMAN dalam memperkuat stabilitas eksternal dan cadangan devisa Indonesia,” pungkas Uka.