UEA keluar dari OPEC, Rusia yakin perang harga minyak tak akan terjadi

Pemerintah Rusia memberikan penilaian bahwa keputusan strategis Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari keanggotaan OPEC tidak akan memicu perang harga minyak global. Meskipun langkah ini memunculkan spekulasi terkait peningkatan produksi secara masif, ketegangan konflik Iran dinilai masih menjadi faktor utama yang membatasi kemampuan para produsen untuk menyuplai pasokan ke pasar internasional.

Advertisements

Langkah mengejutkan dari UEA ini sebelumnya sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar akan potensi perang pasokan, terutama setelah negara tersebut memberikan sinyal kuat untuk menaikkan kapasitas produksinya. Namun, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menegaskan bahwa kondisi pasar saat ini tidak memungkinkan terjadinya perang harga antarprodusen minyak.

“Dalam situasi saat ini, perang harga seperti apa yang bisa terjadi ketika pasar justru sedang mengalami kekurangan pasokan? Selat Hormuz saat ini masih tertutup, sehingga sebagian besar pasokan minyak tidak dapat disalurkan secara optimal ke pasar global,” ungkap Novak sebagaimana dikutip dari Bloomberg pada Kamis (30/4).

Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan energi dari Teluk Persia ke pasar dunia. Akses di rute krusial ini telah mengalami pembatasan ketat hingga nyaris tertutup total sejak meletusnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran pada akhir Februari 2026.

Advertisements

Baca juga:

  • UEA Keluar dari Keanggotaan, OPEC Terancam Sulit Kendalikan Pasar Minyak
  • UEA Tinggalkan OPEC, RI Harapkan Stabilitas dan Keamanan Suplai Energi Global

Lebih lanjut, Novak menjelaskan bahwa Rusia dan Arab Saudi hingga saat ini belum melakukan pembahasan khusus terkait keputusan UEA. Ia juga memastikan bahwa Moskow tetap berkomitmen pada aliansi OPEC dan sekutunya (OPEC+) dan tidak memiliki rencana untuk keluar dari kelompok tersebut.

Menurut Novak, OPEC+ merupakan koalisi yang sangat efektif dalam memitigasi berbagai risiko di pasar global, terutama di masa krisis. “Kerja sama di dalam OPEC+ memungkinkan kami untuk tetap mempertahankan strategi aktivitas investasi, menjaga prospek pengembangan industri, serta memperkuat interaksi antarnegara secara berkelanjutan,” tambahnya.

Pengaruhnya bagi Indonesia

Menanggapi fenomena ini, Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, berpendapat bahwa hengkangnya UEA dari OPEC tidak akan membawa dampak signifikan bagi Indonesia. Hal ini didasari oleh fakta bahwa hubungan perdagangan minyak antara Indonesia dan UEA umumnya dijalankan melalui skema government to government (G2G), bukan sekadar hubungan bisnis komersial biasa.

“Langkah ini tidak terlalu berpengaruh terhadap hubungan bilateral Indonesia dengan OPEC sendiri,” jelas Hadi kepada Katadata, Rabu (29/4).

Meski dampak langsungnya minim, Hadi menyoroti bahwa keluarnya UEA akan secara otomatis mengurangi kekuatan tawar organisasi OPEC. Hal ini dikarenakan UEA memiliki kapasitas produksi yang besar, yakni sekitar 3,5 juta barel per hari (bph), yang setara dengan 10% dari total produksi OPEC sebelum konflik pecah.

Dengan hilangnya kontribusi produksi dari UEA, OPEC diprediksi akan menghadapi tantangan berat dalam merumuskan keputusan strategis. “Keluarnya UEA tentu membuat OPEC tidak akan selincah sebelumnya dalam mengambil keputusan untuk mengendalikan stabilitas pasar,” imbuhnya.

Namun, selama Selat Hormuz masih dalam kondisi tertutup, keputusan UEA diprediksi tidak akan mengguncang total pasokan minyak global secara drastis.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bakhtiar, menilai bahwa mundurnya UEA menunjukkan adanya dinamika internal yang kuat serta upaya negara tersebut dalam mengutamakan kepentingan nasionalnya. Menurutnya, ada kemungkinan terdapat hambatan komunikasi atau kepentingan strategis UEA yang tidak terakomodasi dalam organisasi tersebut.

“Meski begitu, hal ini tidak akan sampai mengguncang fondasi OPEC secara keseluruhan, karena organisasi tersebut masih didominasi oleh produsen-produsen besar seperti Arab Saudi,” tutur Bisman.

Senada dengan pandangan IATMI, Bisman juga menegaskan bahwa tidak ada dampak langsung yang akan dirasakan Indonesia karena posisi RI saat ini bukan merupakan anggota OPEC. Namun, ia tetap mengingatkan adanya potensi dampak tidak langsung yang perlu diwaspadai.

“Perubahan stabilitas produksi global nantinya dapat memengaruhi fluktuasi harga minyak dunia. Hal ini tentu akan berdampak pada postur APBN dan alokasi subsidi energi kita, meskipun dampaknya diprediksi relatif kecil,” pungkasnya.

Ringkasan

Pemerintah Rusia menyatakan bahwa keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari OPEC tidak akan memicu perang harga minyak global karena adanya kekurangan pasokan dan penutupan Selat Hormuz. Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, menegaskan bahwa Rusia tetap berkomitmen pada aliansi OPEC+ untuk menjaga stabilitas pasar di tengah krisis energi. Meskipun UEA memiliki kapasitas produksi besar, kondisi geopolitik saat ini dinilai membatasi kemampuan para produsen untuk menyuplai pasokan secara masif ke pasar internasional.

Keluarnya UEA diprediksi akan mengurangi kekuatan tawar OPEC dalam mengendalikan pasar, namun dampaknya terhadap Indonesia dinilai minim karena skema perdagangan minyak kedua negara bersifat antarpemerintah. Meskipun stabilitas pasokan domestik cenderung terjaga, hilangnya kontribusi produksi UEA tetap menjadi tantangan besar bagi koordinasi strategis organisasi tersebut di masa depan. Pemerintah tetap perlu mewaspadai potensi fluktuasi harga minyak global yang dapat memengaruhi postur APBN serta alokasi subsidi energi nasional.

Advertisements