Iran-AS buntu: Mojtaba Khamenei tolak lepas nuklir, kukuh kuasai Hormuz

Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, secara tegas menyatakan komitmennya untuk tidak menyerahkan teknologi nuklir maupun persenjataan rudal negara tersebut. Dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada Kamis (30/4), ia juga memberikan sinyal kuat bahwa Teheran akan tetap mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz.

Advertisements

“Republik Islam akan menjaga teknologi canggihnya dengan cara yang sama seperti kami menjaga perbatasan kami sendiri,” tegas Mojtaba Khamenei. Ia menambahkan bahwa pihaknya akan terus mengamankan kawasan Teluk Persia dan siap membongkar segala bentuk eksploitasi musuh di jalur perairan strategis tersebut.

Mojtaba naik takhta menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas pada hari pertama pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu. Namun, sejak penunjukannya, Mojtaba belum pernah terlihat atau terdengar suaranya di depan umum. Sejumlah laporan intelijen bahkan menyebutkan bahwa ia kemungkinan terluka parah dalam serangan udara yang sama yang menewaskan ayahnya.

Baca juga:

  • Putin Lobi Trump untuk Simpan Cadangan Uranium Iran
  • AS dan Iran Ambil Jalan Berbeda Capai Perdamaian di Tengah Konflik
Advertisements

Di sisi lain, hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam titik buntu. Presiden Donald Trump bersikeras bahwa blokade angkatan laut yang diterapkannya telah membuahkan hasil. Trump menilai blokade pelabuhan jauh lebih efektif daripada pemboman udara karena berhasil “mencekik” ekonomi Iran melalui pembatasan ekspor minyak mentah secara drastis.

Washington menuntut Iran untuk menyetujui pembatasan ketat pada program pengayaan nuklir serta menyerahkan seluruh persediaan uranium yang telah diproses secara intensif. Menurut laporan Axios, komandan militer AS saat ini sedang memberikan pengarahan kepada Trump mengenai opsi-opsi militer di Timur Tengah. Komando Pusat AS (Centcom) dikabarkan telah menyiapkan rencana serangan singkat untuk memecah kebuntuan dalam proses negosiasi.

Pasar komoditas global turut bereaksi terhadap ketegangan ini. Harga minyak dunia berfluktuasi tajam pada Kamis (30/4), di mana harga minyak mentah Brent sempat melonjak ke level tertinggi selama periode perang di angka US$126 per barel, sebelum akhirnya terkoreksi ke posisi US$114. Secara keseluruhan, harga minyak telah naik lebih dari 8% pekan ini karena para pelaku pasar mengantisipasi potensi penutupan permanen Selat Hormuz, meskipun kedua belah pihak sempat memulai gencatan senjata pada 7 April.

“Trump ingin mengakhiri perang Iran, tetapi tidak dengan syarat yang diajukan oleh Teheran,” ungkap Becca Wasser dan Chris Kennedy, analis dari Bloomberg Economics. Mereka memprediksi bahwa pertanyaannya bukan lagi apakah Trump akan meningkatkan eskalasi militer, melainkan kapan hal itu dilakukan. Analis memperkirakan jendela waktu paling memungkinkan untuk serangan baru AS adalah dalam dua pekan ke depan.

Pemerintah Iran sendiri menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal komersial hingga AS mencabut blokadenya. Kondisi ini menempatkan Iran dalam posisi sulit karena kapasitas penyimpanan minyak mereka semakin menipis, yang pada akhirnya dapat memaksa penghentian produksi secara total. Tanda-tanda kehancuran ekonomi Iran mulai terlihat jelas dengan melemahnya nilai tukar mata uang lokal ke titik terendah sepanjang sejarah.

Dalam keterangannya kepada wartawan pada Rabu (30/4), Trump menyebutkan bahwa komunikasi tetap terjalin melalui telepon setelah upaya pertemuan tatap muka di Pakistan gagal terlaksana. Sementara itu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan bahwa guncangan energi akibat perang ini belum mencapai puncaknya dan terus menambah ketidakpastian pada stabilitas ekonomi global.

Selain blokade, AS juga berupaya menyita dua kapal tanker minyak yang terafiliasi dengan Iran. Fenomena menarik juga muncul di laut, di mana semakin banyak kapal tanker “bersih” (pengangkut diesel dan bensin) yang beralih fungsi menjadi pengangkut minyak mentah “kotor” karena dianggap lebih menguntungkan di tengah situasi perang.

Dari sisi persenjataan, Pentagon tengah mempertimbangkan pengerahan rudal hipersonik Dark Eagle ke Timur Tengah untuk menyerang fasilitas peluncur rudal balistik jauh di pedalaman Iran. Dalam sidang kongres yang berlangsung panas, pejabat Pentagon menyebutkan bahwa biaya perang Iran sejauh ini telah mencapai US$25 miliar, meski banyak analis meyakini angka tersebut jauh lebih rendah dari biaya riil yang dikeluarkan.

Ringkasan

Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara tegas menolak menyerahkan teknologi nuklir dan persenjataan rudal negara tersebut kepada pihak mana pun. Selain itu, ia tetap kukuh mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz sebagai bagian dari strategi pertahanan wilayah. Sikap keras ini memperpanjang kebuntuan diplomatik dengan Amerika Serikat, di mana Presiden Donald Trump tetap menerapkan blokade angkatan laut guna menekan ekonomi Iran.

Ketegangan antara kedua negara telah memicu volatilitas harga minyak dunia, dengan harga minyak mentah Brent sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran penutupan permanen Selat Hormuz. Sementara AS mempertimbangkan opsi militer, termasuk pengerahan rudal hipersonik, Iran tetap bertahan meski menghadapi tekanan ekonomi berat dan melemahnya nilai tukar mata uang. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kesepakatan damai mengingat tuntutan kedua belah pihak yang masih berseberangan.

Advertisements