
Para peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), Amerika Serikat, berhasil mengembangkan metode inovatif yang mampu memprediksi risiko pemutihan karang hingga lima sampai enam bulan lebih awal. Terobosan ini memberikan harapan baru bagi pengelola kawasan konservasi untuk memiliki waktu lebih panjang dalam merancang strategi perlindungan guna mencegah kerusakan fatal pada terumbu karang.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment ini menemukan bahwa fenomena pemutihan karang di Pulau Curacao, Karibia, sangat dipengaruhi oleh kombinasi tiga pola iklim utama di Samudra Atlantik dan Pasifik. Interaksi pola-pola tersebut terbukti memperkuat pemanasan suhu laut secara signifikan.
Berangkat dari temuan tersebut, tim peneliti menciptakan sistem peringatan dini yang diberi nama Bleaching Event Early Predictor (BEEP). Sistem ini dirancang untuk memantau perubahan ketiga pola iklim tersebut beberapa bulan sebelum puncak musim panas—masa di mana risiko pemutihan karang biasanya mencapai titik tertinggi.
Penulis utama studi sekaligus peneliti doktoral program gabungan Massachusetts Institute of Technology (MIT)-WHOI, Mariya Galochkina, menjelaskan bahwa metode prediksi yang ada selama ini cenderung mengandalkan pemantauan suhu laut secara real-time. Menurutnya, metode konvensional sering kali tidak memberikan jeda waktu yang memadai bagi pengelola terumbu karang untuk melakukan tindakan mitigasi, atau akurasinya masih sangat terbatas.
Berbeda dengan pendekatan tersebut, BEEP memanfaatkan pola iklim berskala global yang memiliki dampak jangka panjang terhadap kondisi laut. Dengan memahami interaksi pola iklim yang memengaruhi atmosfer dan laut dengan jeda waktu tertentu, risiko pemutihan karang dapat teridentifikasi jauh sebelum suhu air meningkat drastis. Waktu tambahan ini sangat krusial bagi upaya restorasi, seperti memindahkan fragmen karang dari lokasi pembibitan di laut ke area yang lebih sejuk atau memindahkannya ke fasilitas darat.
Pemutihan karang sendiri terjadi saat suhu laut menjadi terlalu hangat dalam jangka waktu lama, yang memicu karang mengeluarkan alga mikroskopis penyedia energi serta pemberi warna alami. Jika kondisi ini terus berlanjut, karang dapat mengalami kematian massal. Untuk memahami pola ini, peneliti menganalisis 44 sampel inti kerangka karang dari Curaçao. Melalui pemindaian CT, mereka berhasil merekonstruksi sejarah pemutihan selama 72 tahun (1950-2022) dan mengidentifikasi jejak stress band atau pita stres pada kerangka karang sebagai tanda masa-masa kritis di masa lalu.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pemutihan besar mulai sering terjadi sejak tahun 1990 akibat peningkatan suhu laut yang signifikan. Fenomena ini kerap dipicu oleh kombinasi tiga pola iklim, yaitu Atlantic Multidecadal Variability (AMV), El Nino Southern Oscillation (ENSO), dan North Atlantic Oscillation (NAO). Sinergi ketiga pola tersebut dapat melemahkan angin di wilayah Karibia dan menghambat proses naiknya air laut dingin ke permukaan, sehingga suhu di sekitar terumbu karang melonjak melampaui batas toleransi mereka.
Meskipun saat ini sistem BEEP difokuskan untuk wilayah Curacao, para peneliti optimis bahwa pendekatan ini dapat diterapkan di kawasan terumbu karang lain, baik di Karibia maupun wilayah tropis lainnya. Peneliti senior WHOI, Anne Cohen, menegaskan bahwa pengembangan BEEP adalah buah dari dedikasi puluhan tahun dalam pemantauan iklim dan observasi bumi menggunakan satelit. Inovasi ini dianggap sebagai peluang krusial untuk menjaga kelestarian terumbu karang di tengah lautan yang terus menghangat.
Urgensi teknologi ini semakin nyata mengingat data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan International Coral Reef Initiative menunjukkan bahwa sekitar 84,4 persen area terumbu karang dunia telah terdampak tekanan panas laut sejak Januari 2023 hingga September 2025. Peristiwa pemutihan massal kini telah menyebar ke sedikitnya 83 negara dan wilayah. Mengingat peran vital terumbu karang sebagai habitat bagi 25 persen spesies laut di dunia—meskipun hanya menutupi kurang dari satu persen dasar laut—upaya mitigasi berbasis sains seperti BEEP menjadi langkah strategis untuk masa depan ekosistem laut global.
Ringkasan
Peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) berhasil mengembangkan metode prediksi risiko pemutihan karang yang mampu mendeteksi ancaman hingga enam bulan lebih awal. Melalui sistem bernama Bleaching Event Early Predictor (BEEP), para ilmuwan memanfaatkan interaksi tiga pola iklim global untuk memantau perubahan suhu laut jauh sebelum masa kritis terjadi. Terobosan ini menggantikan metode konvensional yang sebelumnya hanya bergantung pada pemantauan suhu real-time dengan akurasi yang lebih terbatas.
Sistem ini memberikan waktu yang sangat berharga bagi pengelola kawasan konservasi untuk melakukan tindakan mitigasi, seperti memindahkan fragmen karang ke area yang lebih sejuk. Inovasi ini menjadi sangat krusial mengingat data global menunjukkan lebih dari 84 persen terumbu karang dunia telah terdampak tekanan panas laut sejak tahun 2023. Meskipun saat ini diuji di Pulau Curacao, metode BEEP diharapkan dapat diadaptasi untuk melindungi ekosistem terumbu karang di berbagai wilayah tropis lainnya di seluruh dunia.