Rupiah diproyeksi melemah tersulut skeptisisme perdamaian di Timur Tengah

Pada Kamis (26/3), proyeksi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS untuk perdagangan Rabu (25/3) menunjukkan potensi pelemahan. Rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp 16.850 hingga Rp 16.950 per dolar AS. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya skeptisisme terhadap kemungkinan tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, yang menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Advertisements

Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengonfirmasi pandangan tersebut dalam pernyataannya kepada Katadata pada Kamis (26/3). Menurutnya, rupiah diperkirakan melemah seiring dengan penguatan dolar AS. Faktor utama pendorong penguatan dolar adalah skeptisisme akan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Selain itu, kenaikan harga minyak global juga turut memberikan tekanan signifikan, memperkuat prediksi pelemahan rupiah dalam rentang yang disebutkan.

Meskipun proyeksi menunjukkan pelemahan, data pembukaan pasar dari Bloomberg pada Rabu (25/3) sempat menunjukkan gambaran yang sedikit berbeda. Rupiah dibuka di level Rp 16.891 per dolar AS, mencatat penguatan tipis sebesar 0,11% atau 18 poin. Bahkan, hingga pukul 09.26 WIB, nilai tukar rupiah sempat bergerak naik perlahan ke level Rp 16.892 per dolar AS, menguat 0,11% atau 19 poin, menunjukkan volatilitas di awal perdagangan.

Namun, gambaran yang kontras terlihat dari kinerja nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari sebelumnya. Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 16.911 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,08% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya, yang berada di level Rp 16.898 per dolar AS, mengindikasikan tren pelemahan jangka pendek.

Advertisements

Sementara itu, dari sudut pandang yang berbeda, kurs referensi Bank Indonesia (Jisdor) menunjukkan penguatan pada rupiah. Dibandingkan dengan perdagangan sebelum liburan panjang, rupiah menguat sebesar 0,45%, mencapai Rp 16.905 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.982 per dolar AS. Data Jisdor ini memberikan perspektif tambahan mengenai posisi rupiah dalam jangka waktu yang lebih panjang, meskipun dengan referensi waktu yang berbeda.

Baca juga:

  • Prabowo Tambah 13 Proyek Hilirisasi, Butuh Investasi Senilai Rp 239 Triliun
  • Investor Berburu Cuan Saat Konflik Memanas: Ini Deret Saham Paling Moncer di AS
  • IPO SpaceX Milik Elon Musk Segera Digelar, Berpotensi Jadi Debut Terbesar

Advertisements