Anak usaha Pelindo IPCC siap ekspansi ke Abu Dhabi hingga Eropa

PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), emiten transportasi dan logistik dari Grup Pelindo, menunjukkan agresivitas luar biasa dalam strategi ekspansi internasionalnya. Tak hanya memperkuat jaringan bisnis di dalam negeri dan regional terdekat, IPCC kini secara serius menjajaki pasar global, membentangkan ambisinya dari Timur Tengah hingga Eropa. Langkah ini menandai babak baru bagi perusahaan dalam memperluas jangkauan operasionalnya.

Advertisements

Direktur Utama Indonesia Kendaraan Terminal, Sugeng Mulyadi, mengungkapkan bahwa IPCC telah berdiskusi intensif dengan investor dari Abu Dhabi. Pembicaraan ini berpusat pada pembukaan peluang kolaborasi strategis dengan sejumlah perusahaan logistik terkemuka di Eropa. Progres signifikan telah dicapai, dengan rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Abu Dhabi Ports sebagai langkah awal. “Nanti selanjutnya bisa dilanjuti dengan kolaborasi baik joint operational atau dalam bentuk lainnya,” jelas Sugeng di Jakarta, Rabu (23/4).

Abu Dhabi Ports, sebagaimana tertera di laman resminya, merupakan pemain utama yang mengelola dan mengoperasikan lebih dari 10 pelabuhan dan terminal di Uni Emirat Arab, termasuk Khalifa Port, Zayed Port, dan Fujairah Terminals. Infrastruktur logistik yang komprehensif ini menawarkan layanan mulai dari penanganan peti kemas, kargo umum, hingga logistik energi dan fasilitas penyimpanan, menjadikan kolaborasi ini sangat prospektif bagi IPCC.

Tidak hanya merambah pasar baru, IPCC juga telah memperkuat posisinya melalui serangkaian kerja sama strategis dengan produsen otomotif global. Sugeng Mulyadi memaparkan, perseroan telah meneken perjanjian kerja sama dengan raksasa otomotif BYD di Shenzhen, Cina, serta menggandeng Hyundai di Korea Selatan. Sinergi ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan volume kendaraan yang ditangani IPCC. Terkait MoU dengan Abu Dhabi, Sugeng menargetkan penandatanganan akan terlaksana dalam waktu dekat, yakni “minggu depan atau sebulan lagi” bersama Abu Dhabi Ports dan perusahaan logistik yang ekosistemnya berada di Eropa.

Advertisements

Sejalan dengan ambisi ekspansi tersebut, IPCC juga menyiapkan belanja modal (capex) yang substansial. Salah satu alokasi utama adalah untuk pengembangan lahan pembangunan gedung parkir kendaraan. Saat ini, IPCC mengelola lahan seluas sekitar 1,3 hektare, yang berpotensi menambah kapasitas hingga 30.000–40.000 unit kendaraan. Untuk proyek penting ini, IPCC mengalokasikan anggaran sekitar Rp 18 miliar hingga Rp 20 miliar, menunjukkan komitmen kuat terhadap peningkatan infrastruktur.

Dengan strategi ekspansi yang gencar, IPCC optimistis dapat mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 10%–12% pada tahun 2026. Optimisme ini didukung oleh kinerja gemilang pada tahun buku 2025. Perusahaan berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 256,51 miliar, sebuah rekor tertinggi sepanjang masa yang melonjak 20,87% secara tahunan (yoy) dibandingkan laba tahun sebelumnya sebesar Rp 212,21 miliar pada 2024.

Pencapaian laba tersebut beriringan dengan lonjakan pendapatan yang signifikan. Pada 2025, IPCC mencatatkan pendapatan Rp 929,96 miliar, naik 12,77% yoy dari Rp 824,60 miliar pada 2024. Kontribusi terbesar berasal dari cabang Tanjung Priok yang menyumbang 91% atau Rp 842,55 miliar, sementara terminal satelit di berbagai wilayah strategis Indonesia berkontribusi 9% atau Rp 85,15 miliar, menunjukkan keseimbangan pertumbuhan.

Dari sisi komposisi bisnis, segmen logistik kendaraan Completely Built Up (CBU) masih menjadi tulang punggung kinerja Indonesia Kendaraan Terminal, dengan pendapatan mencapai Rp 697,66 miliar. Kontribusi signifikan juga datang dari segmen alat berat sebesar Rp 82,67 miliar, serta truk dan bus senilai Rp 77,31 miliar, memperlihatkan diversifikasi layanan yang kuat.

Selain ekspansi dan kinerja finansial, perseroan juga proaktif mendorong pertumbuhan melalui akselerasi tren kendaraan listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV), yang menjadi salah satu katalis utama pada tahun 2025. IPCC tercatat melayani lebih dari 101.731 unit kendaraan listrik, dengan merek asal Tiongkok menyumbang dominasi lebih dari 80.000 unit, menggarisbawahi peran penting IPCC dalam mendukung ekosistem mobilitas berkelanjutan.

Secara finansial, posisi IPCC semakin kokoh. Perusahaan membukukan kenaikan total aset sebesar 11,21% menjadi Rp 2,05 triliun pada akhir 2025, dari Rp 1,85 triliun pada 2024. Kenaikan substansial ini didorong oleh lonjakan kas dan setara kas yang mencapai Rp 1,08 triliun, tumbuh impresif 33,55%, menegaskan likuiditas dan stabilitas keuangan perseroan.

Advertisements