Emiten maskapai penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), menunjukkan perbaikan kinerja yang signifikan pada kuartal pertama 2026, meskipun masih membukukan rugi bersih. Perseroan mencatat kerugian sebesar US$ 41,62 juta, atau setara dengan Rp 707,49 miliar (dengan asumsi kurs Rp 16.998,8 per dolar AS). Angka kerugian ini menyusut drastis sebesar 45,18% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025, di mana kerugian mencapai US$ 75,93 juta.
Penurunan substansial dalam angka kerugian GIAA ini didorong oleh lonjakan pendapatan perseroan. Tercatat, pendapatan naik menjadi US$ 762,35 juta dari US$ 723,56 juta secara tahunan (year on year/YoY). Pendapatan ini bersumber dari berbagai segmen, meliputi penerbangan berjadwal sebesar US$ 648,10 juta, penerbangan tidak berjadwal senilai US$ 24,98 juta, serta kontribusi pendapatan lain-lain sebesar US$ 89,27 juta.
Bersamaan dengan peningkatan pendapatan, beban usaha GIAA juga berhasil ditekan. Beban usaha tercatat turun dari US$ 718,36 juta menjadi US$ 713,22 juta secara tahunan. Penurunan ini terutama disebabkan oleh efisiensi pada beban operasional penerbangan, yang menyusut dari US$ 361,96 juta menjadi US$ 350,24 juta secara YoY. Di sisi lain, beban umum dan administrasi tercatat mengalami peningkatan dari US$ 42,01 juta menjadi US$ 47,81 juta secara tahunan.
Sebagai bagian dari upaya restrukturisasi dan efisiensi, GIAA juga melakukan perampingan karyawan. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, perseroan memangkas 128 karyawan pada kuartal pertama 2026, sehingga total jumlah karyawan menjadi 10.724 dari sebelumnya 10.852 karyawan pada tahun 2025.
Baca juga:
- Rupiah Tersungkur Tembus 17.300 per Dolar AS, Apa Penyebabnya?
- Emiten Grup Djarum (TOWR) Perpanjang Kredit Jumbo Rp 1 Triliun dengan NISP
- Microsoft dan Elon Musk Tertarik Beli Startup AI Cursor
Strategi Bisnis 2026
Sejalan dengan komitmen untuk menyehatkan kinerja perusahaan, Garuda Indonesia telah merancang sejumlah strategi bisnis komprehensif yang akan diimplementasikan sepanjang tahun 2026. Strategi ini mencakup rasionalisasi jaringan penerbangan, dengan fokus utama pada rute-rute yang lebih menguntungkan, serta optimalisasi sinergi rute antara Garuda Indonesia dan Citilink untuk efisiensi maksimal.
Selain itu, perseroan juga berencana untuk melakukan ekspansi armada secara selektif, yang akan disesuaikan dengan dinamika permintaan pasar dan kebutuhan efisiensi biaya operasional. Upaya lain yang tidak kalah penting adalah optimalisasi pendapatan tambahan (ancillary revenue) guna meningkatkan profitabilitas.
Dari perspektif operasional, maskapai pelat merah ini menargetkan pembentukan aliansi strategis dengan mitra global. Langkah ini diharapkan dapat memperluas konektivitas dan jaringan penerbangan, termasuk melalui skema codeshare. Perseroan juga akan secara agresif mendorong peningkatan monetisasi kargo dan penguatan manajemen pendapatan untuk memaksimalkan potensi pasar.
Langkah-langkah strategis lainnya mencakup optimalisasi struktur organisasi, peningkatan kualitas pengalaman pelanggan melalui inovasi layanan, pemanfaatan teknologi digital secara lebih mendalam, serta pengendalian biaya operasional yang ketat di seluruh lini bisnis.
Sementara itu, dari sisi keuangan, GIAA menargetkan penguatan permodalan melalui penggalangan dana dari mitra strategis. Inisiatif ini krusial untuk mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan bisnis perusahaan di masa mendatang. Sebelumnya, Direktur Utama GIAA, Glenny Kairupan, memproyeksikan jumlah armada operasional Garuda Indonesia Group akan meningkat menjadi sedikitnya 118 pesawat pada akhir 2026, yang terdiri dari 68 armada Garuda Indonesia dan 50 armada Citilink.