Intip rapor kuartal I Waskita Karya (WSKT)-WSBP, siapa makin bengkak ruginya?

Dua raksasa konstruksi pelat merah, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan anak usahanya, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), baru-baru ini merilis laporan keuangan kuartal pertama. Kedua emiten tersebut masih membukukan kerugian, namun dengan tren yang berbeda. WSKT sebagai induk usaha berhasil menekan rugi bersihnya, sementara WSBP justru mengalami pembengkakan kerugian yang signifikan.

Advertisements

Dalam periode tiga bulan pertama tahun 2026, WSKT berhasil mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 778,849 miliar. Angka ini menunjukkan perbaikan signifikan, menyusut 42,7% dibandingkan kerugian sebesar Rp 1,36 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Penurunan kerugian ini salah satunya didorong oleh kenaikan pendapatan usaha yang signifikan. Perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 2,09 triliun, melesat dari Rp 1,35 triliun secara tahunan (year-on-year/YoY).

Kontribusi pendapatan WSKT sebagian besar masih ditopang oleh segmen jasa konstruksi, yang menyumbang Rp 1,6 triliun. Diikuti oleh pendapatan jalan tol sebesar Rp 322,77 miliar, penjualan precast senilai Rp 102,89 miliar, dan pendapatan hotel Rp 22,97 miliar. Sementara itu, segmen properti menyumbang Rp 26,01 miliar, infrastruktur lainnya Rp 19,16 miliar, dan pendapatan dari sewa gedung sebesar Rp 2,19 miliar.

Meski pendapatan naik, beban pokok pendapatan WSKT juga turut membengkak menjadi Rp 1,92 triliun, dari sebelumnya Rp 1,09 triliun secara tahunan. Kenaikan ini menghasilkan laba bruto sebesar Rp 175,06 miliar untuk periode tiga bulan pertama tahun ini. Setelah memperhitungkan beban administrasi, pajak, dan pos-pos lainnya, perseroan membukukan rugi sebelum pajak sebesar Rp 775,31 miliar. Dengan demikian, rugi per saham tercatat Rp 23,54, membaik dari Rp 43,2 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Advertisements

Berbeda dengan induknya, kinerja finansial PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) sebagai anak usaha justru menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. WSBP membukukan pembengkakan rugi bersih signifikan hingga 65,56% secara tahunan, dari Rp 87,40 miliar menjadi Rp 144,70 miliar. Ini terjadi meskipun perseroan mencatat kenaikan pendapatan usaha yang tipis pada tiga bulan pertama 2026, mencapai Rp 395,09 miliar dibandingkan Rp 394,70 miliar pada periode sebelumnya.

Pendapatan WSBP ditopang oleh tiga lini bisnis utama: jasa konstruksi, beton precast, serta readymix dan quarry. Jasa konstruksi menjadi penyumbang terbesar dengan Rp 155,46 miliar (39,35%), diikuti beton precast Rp 142,86 miliar (36,16%), dan readymix serta quarry Rp 96,77 miliar (24,49%). Dari sisi profitabilitas, perseroan berhasil meraih laba kotor sebesar Rp 49,39 miliar.

Meski merugi, WSBP menegaskan komitmennya untuk efisiensi. “WSBP terus menjaga kinerja operasional yang optimal melalui penerapan efisiensi secara konsisten di seluruh lini usaha,” ujar Kepala Divisi Corporate Secretary WSBP, Fandy Dewanto, dalam keterangan resmi pada Kamis (23/4). Pendapatan perseroan turut didukung oleh sejumlah proyek strategis, seperti jalan tol Palembang–Betung, Marunda Expansion Phase 3, dan jalan tol Probolinggo–Banyuwangi.

Upaya efisiensi di sisi biaya mulai terlihat, dengan beban penjualan berhasil ditekan 20,99% menjadi Rp 23,44 miliar dan beban umum serta administrasi turun 22,34% menjadi Rp 82,73 miliar secara tahunan. Ke depan, WSBP berkomitmen untuk terus meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan aset, serta menjaga kualitas dan ketepatan waktu dalam penyelesaian proyek. Perseroan juga menekankan pentingnya penerapan prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) dan manajemen risiko demi menjaga keberlanjutan usahanya.

Advertisements