
MALANG — Laju inflasi Kota Malang pada April 2026 terpantau tetap terkendali. Berdasarkan data terbaru, inflasi tercatat sebesar 0,05% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), sebuah capaian yang selaras dengan tren inflasi di tingkat Provinsi Jawa Timur maupun nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Indra Kuspriyadi, menyampaikan bahwa angka inflasi 0,05% (mtm) ini menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh angka 0,34% (mtm).
“Dengan realisasi tersebut, inflasi tahunan Kota Malang berada di level 2,70% (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan Jawa Timur yang sebesar 2,85% (yoy), namun sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,42% (yoy),” jelas Indra, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Program 50.000 Rumah Subsidi Jatim, Pemerintah dan Pengembang Hadapi Tantangan Lahan
Secara keseluruhan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 dipicu utamanya oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,48% (mtm). Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, serta cabai merah menjadi penyumbang utama dengan masing-masing andil sebesar 0,20%, 0,10%, 0,07%, dan 0,02% (mtm). Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan permintaan masyarakat di tengah kendala pasokan akibat faktor cuaca.
Selain sektor pangan, inflasi juga dipengaruhi oleh kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin. Fenomena ini merupakan dampak dari kenaikan harga avtur di pasar global serta penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, yakni Pertamax dan Pertamax Turbo, yang mulai berlaku per 1 April 2026. Di sisi lain, normalisasi tarif kereta api setelah berakhirnya promo angkutan Lebaran 2026 turut memberikan andil pada laju inflasi bulan April.
Baca Juga: Tekan Risiko Kecelakaan, KAI Daop 8 Tutup 139 Perlintasan Liar Sepanjang 2020-2026
Meski terdapat tekanan harga, inflasi di Kota Malang berhasil tertahan oleh adanya deflasi pada beberapa komoditas. Daging ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, telur ayam ras, serta telur puyuh tercatat mengalami penurunan harga. Khusus untuk emas perhiasan, penurunan ini sejalan dengan tren harga emas dunia selama April 2026.
Sementara itu, penurunan harga pada komoditas pangan seperti daging ayam dan telur terjadi karena permintaan masyarakat kembali normal pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri. Pasokan yang terjaga, didukung oleh dimulainya masa panen raya untuk komoditas cabai rawit, juga berperan besar dalam meredam tekanan harga.
Baca Juga: Polisi Berhasil Bongkar Sindikat Scamming Jaringan Internasional di Surabaya, Total 44 WNA Diringkus
Indra menilai keberhasilan menjaga stabilitas inflasi ini tidak lepas dari koordinasi solid melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Berbagai langkah preventif telah dilakukan, seperti pemantauan harga pangan secara intensif sepanjang April 2026.
Upaya konkret lain yang dilakukan TPID Kota Malang bersama Polresta Malang Kota mencakup sidak stok LPG 3 kg pada 10 April 2026, penyaluran bantuan sarana produksi (saprodi) kepada petani pada 16 April 2026, hingga kegiatan tanam padi serentak di Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun pada 23 April 2026. Sinergi ini diperkuat dengan partisipasi aktif dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi mingguan bersama Kementerian Dalam Negeri selama bulan April guna memastikan stabilitas harga tetap terjaga.
Ringkasan
Laju inflasi Kota Malang pada April 2026 tercatat tetap terkendali dengan angka 0,05% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan. Capaian ini menunjukkan penurunan dari bulan sebelumnya dan berada dalam rentang yang selaras dengan tren inflasi di tingkat provinsi serta nasional. Kenaikan inflasi utamanya dipicu oleh sektor makanan, minuman, dan tembakau akibat tingginya permintaan dan kendala pasokan, serta kenaikan tarif angkutan udara dan harga BBM nonsubsidi.
Stabilitas harga berhasil dijaga berkat deflasi pada sejumlah komoditas pangan setelah berakhirnya periode Hari Besar Keagamaan Nasional serta dimulainya masa panen. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari koordinasi intensif melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang. Berbagai langkah preventif, seperti pemantauan harga pasar, penyaluran bantuan sarana produksi kepada petani, dan sidak stok kebutuhan pokok, dilakukan secara rutin untuk memastikan kestabilan ekonomi daerah tetap terjaga.