
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, memberikan peringatan serius agar Indonesia dan negara lainnya meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Hantavirus. Kekhawatiran ini muncul seiring data dari Kementerian Kesehatan yang mencatat angka kematian akibat Hantavirus di Indonesia mencapai 13% pada tahun lalu.
Melalui keterangan tertulis pada Sabtu (9/5), Tjandra menegaskan bahwa tingkat kematian tersebut harus menjadi perhatian utama. Hal ini mengingat angka kematian Hantavirus di kawasan Asia secara umum berada di bawah 5%, bahkan beberapa laporan menyebutkan angka yang lebih rendah, yakni sekitar 1%.
Meskipun data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kasus kematian tersebut dipengaruhi oleh adanya komorbid atau komplikasi penyakit lain, Tjandra berpendapat bahwa faktor serupa semestinya juga ada di negara lain yang mencatatkan angka kematian lebih rendah. Oleh karena itu, disparitas angka kematian ini menjadi poin penting yang perlu disikapi.
Sorotan Dunia terhadap Kasus di Kapal Pesiar
Isu Hantavirus kembali menjadi perbincangan hangat setelah ditemukan kasus di sebuah kapal pesiar. Tjandra menjelaskan bahwa kejadian ini telah bertransformasi menjadi masalah skala internasional, mengingat penumpang kapal tersebut berasal dari 23 kewarganegaraan yang berbeda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah mengeluarkan peringatan peningkatan mendadak melalui Disease Outbreak News (DONs) terkait klaster penyakit paru berat di kapal tersebut pada Jumat (8/5).
Baca juga:
- Apa Itu HantaVirus? Kenapa Muncul di Kapal Pesiar?
- Hantavirus Apakah Bisa Sembuh? Ini Penyebab dan Penjelasannya
- Apa itu Wabah Hantavirus? Ini Penyebab, Faktor Risiko dan Gejalanya
Tjandra memaparkan lima perkembangan terbaru mengenai situasi Hantavirus yang kini menjadi perhatian global:
1. Per tanggal 8 Mei, tercatat 6 kasus terkonfirmasi laboratorium sebagai Hantavirus jenis Andes virus (ANDV) melalui pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) atau sekuensing. Dengan tambahan 2 kasus probable, total infeksi di kapal pesiar tersebut mencapai 8 orang.
2. Dari total 8 kasus tersebut, 3 orang dinyatakan meninggal dunia. Angka kematian (case fatality ratio) yang mencapai 38% ini tergolong sangat tinggi dan mengkhawatirkan.
3. Proses evakuasi medis telah dilakukan dua kali dari Cabo Verde menuju Belanda. Saat ini, pasien tersebar di Johannesburg (Afrika Selatan), Belanda, dan Zurich (Swiss). Perlu dicatat, satu kasus yang sempat dibawa ke Jerman dinyatakan negatif Hantavirus setelah menjalani tes PCR dan serologi, sehingga kini tidak lagi dikategorikan sebagai pasien infeksi virus tersebut.
4. Berdasarkan hipotesis kerja WHO, kasus pertama diduga kuat telah terinfeksi Hantavirus sebelum naik ke kapal, tepatnya melalui penularan lingkungan saat berada di Argentina dan Chile. Setelah itu, diduga terjadi penularan dari manusia ke manusia di atas kapal, merujuk pada data gejala dan masa inkubasi virus ANDV. Penelitian epidemiologi dan sekuensing terus dilakukan untuk memvalidasi teori tersebut.
5. Terkait seorang pramugari KLM yang sempat diobservasi karena kontak dengan pasien terkonfirmasi, hasil pemeriksaan laboratorium per 8 Mei menunjukkan bahwa ia negatif Hantavirus. Kendati demikian, pemantauan terhadap kontak erat lainnya tetap berlangsung. Situasi ini patut diwaspadai mengingat terdapat pula warga dari negara tetangga ASEAN, yakni Filipina dan Singapura, yang berada di kapal pesiar tersebut.
Ringkasan
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, memperingatkan Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Hantavirus menyusul tingginya angka kematian di dalam negeri yang mencapai 13% pada tahun lalu. Tingkat kematian ini jauh melampaui rata-rata angka kematian di Asia yang umumnya berada di bawah 5%, sehingga memerlukan perhatian dan evaluasi mendalam terkait disparitas data tersebut.
Selain situasi domestik, kewaspadaan global meningkat setelah terdeteksinya klaster Hantavirus jenis Andes Virus (ANDV) di sebuah kapal pesiar yang melibatkan 23 kewarganegaraan. Dengan tingkat kematian mencapai 38% dari delapan kasus yang terkonfirmasi, WHO telah mengeluarkan peringatan internasional karena adanya dugaan penularan virus antarmanusia di atas kapal. Pihak berwenang terus melakukan pemantauan ketat terhadap kontak erat dan penelitian epidemiologi untuk memvalidasi pola penyebaran virus tersebut.