
Penyebaran Andes hantavirus yang dapat menular antarmanusia memicu kekhawatiran global. Mengapa penyakit zoonosis—penyakit yang berasal dari hewan—kini seolah semakin mengintai kehidupan manusia? Meski berbagai spekulasi mengenai asal-usul virus di laboratorium sering muncul, riset ilmiah menunjukkan bahwa perubahan iklim dan aktivitas manusia yang merusak keseimbangan alam adalah faktor utama yang meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonosis.
Perubahan Iklim dan Ancaman Nyata Hantavirus
Para ilmuwan telah lama memperingatkan kaitan erat antara perubahan iklim dengan penyebaran hantavirus. Salah satu referensi kunci adalah studi bertajuk Climate Change and Zoonoses: A Review of the Current Status, Knowledge Gaps, and Future Trends yang dirilis pada tahun 2022. Penelitian ini menegaskan bahwa hewan pengerat merupakan reservoir alami bagi berbagai penyakit zoonosis, termasuk hantavirus, di mana dinamika populasi hewan tersebut sangat bergantung pada faktor iklim.
Perubahan cuaca secara drastis mengubah perilaku hewan pengerat. Musim dingin dan musim semi yang lebih hangat serta basah memicu lonjakan populasi tikus secara signifikan. Sebaliknya, cuaca ekstrem seperti gelombang panas memaksa hewan-hewan tersebut mencari perlindungan di dalam bangunan guna mencari sumber air dan makanan, sehingga meningkatkan intensitas kontak langsung antara tikus dan manusia.
Fenomena alam lainnya, seperti curah hujan yang tinggi, turut memicu peningkatan ketersediaan pangan yang mendukung perkembangbiakan hewan pengerat. Sebagai contoh, di New Mexico, Amerika Serikat, curah hujan lebat meningkatkan vegetasi yang memicu ledakan populasi deer mouse, yang pada akhirnya memicu wabah hantavirus. Kejadian serupa juga dikaitkan dengan peristiwa El Nino. Sementara di Belgia, suhu panas yang ekstrem meningkatkan produksi biji pohon, yang mendorong pertumbuhan populasi bank vole, mamalia kecil reservoir hantavirus. Mengingat tren pemanasan global, insiden Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) diperkirakan akan meningkat dalam beberapa dekade ke depan.
Dampak Alih Fungsi Lahan
Selain faktor iklim, alih fungsi lahan menjadi pemicu utama lainnya. Perubahan vegetasi alami menjadi kawasan yang didominasi aktivitas manusia telah merusak batas habitat satwa liar. Hal ini menyebabkan peningkatan interaksi antara satwa liar, hewan ternak, dan spesies sinantropik—hewan yang hidup berdampingan dengan manusia seperti tikus—sehingga peluang patogen untuk berpindah antarspesies menjadi semakin besar.
Pemetaan Wilayah Berisiko Tinggi
Sebuah riset penting berjudul Assessing the risk of diseases with epidemic and pandemic potential in a changing world yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances pada Juli tahun lalu, menggunakan teknologi machine learning dan data satelit untuk memetakan zona risiko wabah. Hasilnya mengejutkan: 9,3 persen daratan dunia berada dalam kategori risiko tinggi hingga sangat tinggi terhadap penyebaran penyakit prioritas WHO.
Daftar penyakit prioritas WHO mencakup COVID-19, Crimean-Congo haemorrhagic fever, Ebola, Marburg, Lassa fever, MERS-CoV, SARS, Nipah, Rift Valley fever, Zika, hingga Disease X. Disease X sendiri merujuk pada penyakit yang disebabkan oleh patogen yang saat ini belum diketahui, namun berpotensi memicu epidemi internasional serius.
Secara mendetail, 6,3 persen dari total daratan dunia dikategorikan sebagai wilayah risiko tinggi, sementara 3 persen lainnya masuk kategori risiko sangat tinggi. Amerika Latin menduduki posisi pertama dengan porsi area berisiko tertinggi sebesar 27,1 persen, disusul oleh Oseania (18,6 persen), Asia (6,9 persen), Afrika (5,2 persen), Eropa (0,2 persen), dan Amerika Utara (0,08 persen). Saat ini, diperkirakan sekitar 3 persen penduduk dunia hidup di kawasan dengan risiko wabah yang tinggi.
Studi ini menyimpulkan bahwa kombinasi antara suhu yang meningkat, curah hujan yang tidak menentu, serta defisit air menjadi pemicu utama wabah penyakit. Faktor pendukung lainnya meliputi perambahan manusia ke kawasan hutan, kepadatan penduduk yang tinggi, serta hilangnya keanekaragaman hayati yang semakin memperburuk ancaman kesehatan global di masa depan.
Baca juga:
- ASEAN Membara: Kota-kota Besar Bisa Terpanggang 85-120 Hari Setahun pada 2050
- Eks Direktur WHO Ingatkan Indonesia Waspada Hantavirus, Ini 5 Perkembangannya
- Hantavirus Apakah Bisa Sembuh? Ini Penyebab dan Penjelasannya
Ringkasan
Penyebaran hantavirus yang kian mengkhawatirkan dipicu oleh perubahan iklim dan aktivitas manusia yang merusak keseimbangan alam. Perubahan suhu serta pola curah hujan yang tidak menentu menyebabkan populasi hewan pengerat, sebagai reservoir alami virus, melonjak drastis dan lebih sering berinteraksi dengan manusia. Selain itu, alih fungsi lahan dan hilangnya habitat satwa liar turut memperbesar peluang perpindahan patogen antarspesies yang meningkatkan risiko penyakit zoonosis.
Data penelitian menggunakan teknologi satelit menunjukkan bahwa sekitar 9,3 persen daratan dunia saat ini berada dalam kategori risiko tinggi hingga sangat tinggi terhadap penyebaran penyakit potensial pandemi. Wilayah Amerika Latin tercatat memiliki proporsi area berisiko tertinggi di dunia. Kombinasi faktor lingkungan dan kepadatan penduduk yang terus meningkat diperkirakan akan memicu kenaikan kasus kesehatan global di masa depan.