
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan keyakinannya bahwa stabilitas nilai tukar rupiah akan tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang. Pernyataan tersebut disampaikan Perry usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (18/5).
Saat ditanya mengenai fluktuasi mata uang nasional oleh awak media, Perry menegaskan komitmennya dengan singkat, “Yakin rupiah stabil.”
Rapat strategis yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam tersebut turut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, di antaranya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarro, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.
Optimisme pemerintah muncul di tengah tren pelemahan rupiah yang belakangan ini menyentuh level 17.700 per dolar AS. Berdasarkan data berkala Bloomberg, pada perdagangan hari ini, kurs rupiah ditutup melemah 0,4 persen ke posisi 17.666 per dolar AS. Rupiah sempat dibuka pada level 17.628 per dolar AS dengan rentang pergerakan harian antara 17.627 hingga 17.684 per dolar AS.
Baca juga:
- Emiten Masuk Daftar HSC Ajukan Audiensi ke BEI, Ada Siapa Saja?
- DPR: Revisi UU Tipikor Tak Perlu, tapi Audit Kerugian Negara Mesti Diperjelas
- Komdigi akan Wajibkan Platform Digital Punya Kantor Perwakilan di Indonesia
Strategi Intervensi Pasar Obligasi Senilai Rp 2 Triliun
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo sempat menyoroti kondisi nilai tukar rupiah. Namun, menurut Purbaya, diskusi tersebut lebih menitikberatkan pada ketahanan ekonomi nasional secara menyeluruh yang dinilai masih cukup kuat.
“Rupiah hanya ditanya bagaimana kondisinya. Intinya, ekonomi kita bagus dan fondasinya betul-betul kuat,” ujar Purbaya.
Sebagai langkah strategis, pemerintah berencana untuk memperkuat komunikasi publik guna menjaga persepsi positif pasar dan investor terhadap perekonomian Indonesia. Purbaya, yang juga merupakan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) periode 2020-2025, menyatakan pihaknya telah menyiapkan langkah konkret untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah intervensi melalui penyaluran dana Bond Stabilization Fund (BSF) sebesar Rp 2 triliun setiap hari di pasar obligasi. Dana tersebut diprioritaskan untuk menjaga Surat Berharga Negara (SBN) atau surat utang yang dilepas oleh investor asing.
“Saya minta masuk Rp 2 triliun setiap hari. Kita akan lihat sejauh mana kebutuhan di pasar. Kami memiliki cadangan kas sebesar Rp 420 triliun yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas tersebut,” pungkas Purbaya.
Ringkasan
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan tetap stabil meski saat ini tengah menghadapi tekanan di level 17.666 per dolar AS. Pernyataan tersebut disampaikan usai mengikuti rapat koordinasi selama tiga jam bersama Presiden Prabowo Subianto dan jajaran menteri terkait mengenai kondisi ekonomi nasional yang dinilai masih memiliki fondasi kuat.
Sebagai langkah strategis menjaga stabilitas, pemerintah menyiapkan intervensi melalui dana Bond Stabilization Fund (BSF) sebesar Rp 2 triliun setiap hari di pasar obligasi. Langkah ini bertujuan untuk menahan tekanan pada Surat Berharga Negara (SBN) dengan memanfaatkan cadangan kas pemerintah yang mencapai Rp 420 triliun.