
Target Ambisius Penambahan Kapasitas Listrik PLN: 69,5 Gigawatt hingga 2034
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 PLN menargetkan penambahan kapasitas tenaga listrik sebesar 69,5 Gigawatt (GW) dalam 10 tahun mendatang, sebuah target yang jauh lebih ambisius dibandingkan periode sebelumnya. Meskipun demikian, PT PLN (Persero) optimistis mampu mencapai target ini, didukung oleh potensi pertumbuhan permintaan listrik dari sektor-sektor baru, khususnya data center berbasis kecerdasan buatan (AI). Sebanyak 76% atau sekitar 46,2 GW dari total penambahan kapasitas tersebut akan bersumber dari energi baru terbarukan (EBT).
Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, menekankan peran penting sumber ekonomi baru dalam pencapaian target ini. Saat ini, permintaan listrik untuk data center memang sudah ada, namun belum signifikan. Evy menjelaskan, “Kalau data center AI itu masuk, ini akan tumbuh sangat tinggi. Terutama ke Indonesia, karena kita punya sumber daya terbarukan.” Pernyataan ini disampaikannya dalam diskusi di Katadata Sustainable Action for the Future Economy (SAFE) 2025 di Jakarta, Rabu (10/9). Selain data center AI, peningkatan tren kendaraan listrik (electric vehicle) juga diprediksi akan mendorong permintaan listrik.
Untuk mencapai target penambahan energi terbarukan, PLN memiliki strategi jangka pendek, menengah, dan panjang. Jangka pendek difokuskan pada pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dan angin. Jangka menengah akan memanfaatkan Battery Energy Storage System (BESS) untuk menyeimbangkan pasokan energi terbarukan yang sifatnya variatif (variable renewable energy). Sementara itu, tenaga hidro dan geotermal dipersiapkan untuk pembangunan energi terbarukan jangka panjang.
Belajar dari Pengalaman Masa Lalu
Sebelumnya, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas energi listrik sebesar 35 GW untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%, namun target tersebut tidak tercapai. Kali ini, PLN akan lebih fokus pada pengisian “celah” potensi ekonomi dan pertumbuhan listrik di daerah-daerah, misalnya di sektor perikanan Indonesia Timur. Kebijakan hilirisasi juga diharapkan dapat berkontribusi pada pemenuhan target RUPTL. Sebagai langkah antisipasi oversupply, PLN akan melakukan peninjauan tahunan untuk mengevaluasi dan menyesuaikan langkah-langkah pembangunan kapasitas listrik ke depannya. Dengan strategi yang komprehensif dan evaluasi berkala ini, PLN optimistis mampu mewujudkan target ambisius RUPTL 2025-2034.
Ringkasan
PLN menargetkan penambahan kapasitas listrik sebesar 69,5 GW hingga 2034, dengan 76% berasal dari energi baru terbarukan (EBT). Target ambisius ini didorong oleh peningkatan permintaan listrik dari sektor baru seperti data center berbasis AI dan kendaraan listrik, sekaligus belajar dari kegagalan mencapai target sebelumnya (35 GW).
Strategi PLN meliputi pengembangan pembangkit surya dan angin (jangka pendek), pemanfaatan BESS (jangka menengah), serta tenaga hidro dan geotermal (jangka panjang). PLN juga akan fokus pada potensi ekonomi di daerah dan kebijakan hilirisasi, serta melakukan peninjauan tahunan untuk mengantisipasi oversupply listrik.