Wall Street Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa Didorong Data Inflasi

Pasar saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) mengukir sejarah baru pada Jumat (24/10) dengan mencatatkan rekor penutupan tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH). Lonjakan impresif ini dipicu oleh rilis data inflasi AS yang menunjukkan angka lebih moderat dari ekspektasi, serta meningkatnya keyakinan investor bahwa Federal Reserve akan melanjutkan kebijakan pemotongan suku bunga. Proyeksi pelonggaran moneter ini diharapkan menjadi katalisator penggerak pertumbuhan ekonomi dan menopang valuasi saham di tengah ketidakpastian.

Advertisements

Tiga indeks utama Wall Street turut berpesta. Dow Jones Industrial Average memimpin kenaikan dengan melonjak 472,51 poin atau 1,01%, mengakhiri perdagangan di level 47.207,12. Ini merupakan penutupan bersejarah pertama kalinya di atas ambang batas 47.000 poin. Tak ketinggalan, S&P 500 membukukan kenaikan 0,79% menjadi 6.791,69, sementara Nasdaq Composite mencatat penguatan 1,15% mencapai 23.204,87. Ketiga indeks tersebut berhasil mengukir rekor penutupan tertinggi baru secara bersamaan.

Rincian lebih lanjut dari data ekonomi menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk bulan September, yang sempat tertunda rilisnya akibat penutupan sebagian pemerintah, menjadi pendorong utama optimisme pasar. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, CPI mencatat kenaikan moderat 0,3% secara bulanan dan 3% secara tahunan. Angka ini sedikit lebih rendah dari perkiraan konsensus ekonom yang disurvei Dow Jones, yang memproyeksikan kenaikan 0,4% bulanan dan 3,1% tahunan. Bahkan, CPI inti, yang mengecualikan komponen makanan dan energi yang volatil, juga menunjukkan tren serupa dengan kenaikan 0,2% dari bulan sebelumnya dan 3% secara tahunan, kembali di bawah ekspektasi pasar.

Rilis data CPI yang lebih rendah dari perkiraan ini dengan cepat memperkuat keyakinan pasar akan potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan analisis dari CME FedWatch Tool, probabilitas penurunan suku bunga pada pertemuan bulan Desember melonjak signifikan menjadi 98,5%, meningkat tajam dari sekitar 91% sebelum data inflasi diumumkan. Selain itu, peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed yang akan datang minggu depan juga tetap sangat tinggi, yakni di atas 95%.

Advertisements

Ekspektasi akan pelonggaran kebijakan moneter yang diisyaratkan pasar ini turut memberikan sentimen positif bagi sektor perbankan. Saham-saham bank besar di bursa Wall Street mencatatkan kenaikan signifikan. Bank-bank raksasa seperti JPMorgan Chase, Wells Fargo, dan Citigroup masing-masing melonjak sekitar 2%. Kenaikan ini juga diikuti oleh Goldman Sachs dan Bank of America yang turut membukukan penguatan.

Menanggapi perkembangan ini, Lindsay Rosner, Kepala Investasi Obligasi Multi-Sektor di Goldman Sachs Asset Management, menegaskan bahwa laporan CPI terbaru tidak menghadirkan alasan yang cukup kuat bagi The Fed untuk mengubah arah kebijakan moneternya. Ia menambahkan bahwa pasar secara konsisten memperkirakan adanya pelonggaran suku bunga pada pertemuan mendatang. Rosner secara spesifik menyebutkan, “Pemotongan suku bunga pada Desember juga tetap mungkin, mengingat ‘kekeringan data’ saat ini memberikan sedikit argumen bagi The Fed untuk menyimpang dari proyeksi yang telah ditetapkan dalam dot plot mereka,” seperti yang dikutip dari CNBC pada Senin (27/10).

Menariknya, di tengah euforia pasar, bursa saham AS cenderung mengabaikan dinamika geopolitik yang muncul dari pernyataan Presiden AS Donald Trump. Ia mengklaim telah menghentikan negosiasi perdagangan dengan Kanada. Pernyataan ini dipicu oleh penayangan iklan oleh Provinsi Ontario yang menampilkan mantan Presiden Ronald Reagan, di mana Trump menganggap iklan tersebut mengkritik kebijakan tarifnya.

Iklan yang oleh Trump disebut “palsu” tersebut sebenarnya mengutip pidato radio Reagan pada bulan April 1987. Dalam pidato bersejarah itu, Reagan menyampaikan bahwa hambatan perdagangan justru akan merugikan pekerja dan konsumen Amerika dalam jangka panjang, sebuah sentimen yang kini kembali relevan.

Sebagai respons, Perdana Menteri Ontario, Doug Ford, pada Jumat malam mengumumkan bahwa pemerintah provinsinya akan menghentikan penayangan iklan tersebut setelah pertandingan World Series akhir pekan ini. Langkah ini diambil demi menjaga kelangsungan negosiasi perdagangan yang krusial antara AS dan Kanada.

Secara keseluruhan, indeks-indeks utama Wall Street telah menunjukkan kinerja yang sangat positif selama dua minggu berturut-turut, dengan masing-masing menguat sekitar 2%. Prospek jangka panjang juga cerah, terbukti dari kenaikan S&P 500 sebesar 15% dan lonjakan Nasdaq sebesar 20% sejak awal tahun.

Ringkasan

Wall Street mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) pada Jumat, didorong oleh data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan dan ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Tiga indeks utama, Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite, semuanya mencatatkan rekor penutupan tertinggi baru secara bersamaan.

Data CPI AS yang lebih rendah dari perkiraan meningkatkan keyakinan pasar akan pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Sektor perbankan juga mengalami kenaikan signifikan, dengan saham-saham bank besar seperti JPMorgan Chase dan Wells Fargo melonjak sekitar 2%. Pasar tampaknya mengabaikan dinamika geopolitik terkait komentar Presiden Trump mengenai negosiasi perdagangan dengan Kanada.

Advertisements