Proyeksi Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa tekanan pelemahan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berlanjut hingga tahun 2026. Berdasarkan Rencana Anggaran Tahunan Bank Indonesia (RATBI) 2026, BI menetapkan target nilai tukar rupiah pada kisaran Rp 16.430 per dolar AS.
Target yang ditetapkan untuk tahun 2026 ini menunjukkan pelemahan signifikan bila dibandingkan dengan asumsi Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) 2025 yang menargetkan Rp 15.285 per dolar AS. Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada Rabu (13/11), menjelaskan bahwa rata-rata nilai tukar rupiah di angka Rp 16.430 per dolar AS ini “hampir sama dengan prognosa 2025 yang sebesar Rp 16.440 per dolar AS.”
Perry Warjiyo menegaskan bahwa penetapan target tersebut tetap realistis, mengingat tingkat ketidakpastian ekonomi global diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun depan. “Ini realistis karena, seperti yang saya sampaikan, kondisi global pada 2026 masih tetap sama,” imbuhnya, menggarisbawahi tantangan yang persisten.
Gubernur BI kemudian merinci bahwa salah satu tantangan utama yang membayangi stabilitas nilai tukar bersumber dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS). Ia menyoroti pengumuman Presiden AS Donald Trump terkait penerapan tarif resiprokal yang akan berlaku mulai April 2025, sebuah langkah yang diyakini akan memicu arus modal keluar dari berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meskipun demikian, Perry Warjiyo memastikan bahwa Bank Indonesia tetap teguh pada komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Komitmen ini diwujudkan melalui mekanisme non-delivery forward (NDF) baik di pasar domestik maupun internasional. Perry menjelaskan, “Intervensi dilakukan baik secara spot maupun tunai,” seraya menambahkan bahwa intensitas intervensi tersebut “tidak selalu tercermin dari penurunan cadangan devisa.”
Ringkasan
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan nilai tukar rupiah akan melemah hingga Rp 16.430 per dolar AS pada tahun 2026. Target ini tercantum dalam Rencana Anggaran Tahunan Bank Indonesia (RATBI) 2026 dan menunjukkan pelemahan dibandingkan asumsi ATBI 2025 yang menargetkan Rp 15.285 per dolar AS.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa target tersebut realistis mengingat ketidakpastian ekonomi global masih berlanjut. Salah satu tantangan utama adalah kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) terkait penerapan tarif resiprokal yang diperkirakan akan memicu arus modal keluar dari negara berkembang. BI tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui mekanisme non-delivery forward (NDF) dan intervensi di pasar domestik maupun internasional.