Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak akan menguras cadangan devisa negara. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa strategi intervensi yang diterapkan saat ini lebih efisien dengan mengoptimalkan instrumen non-delivery forward (NDF).
Apa itu NDF? NDF adalah transaksi jual beli valuta asing yang penyelesaiannya dilakukan dalam mata uang rupiah, tanpa pertukaran fisik dolar AS. BI memanfaatkan instrumen ini sebagai salah satu cara untuk menstabilkan nilai tukar rupiah tanpa harus mengurangi jumlah cadangan devisa secara langsung.
Selain mengandalkan NDF, Bank Indonesia juga telah menyiapkan strategi khusus untuk meminimalkan intervensi tunai atau spot yang berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk menjaga cadangan devisa tetap stabil dan mencegah penurunan yang berkelanjutan.
“Stabilitas nilai tukar rupiah semakin banyak kami lakukan melalui non-delivery forward, baik di pasar offshore maupun domestic non-delivery forward,” ungkap Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada hari Rabu (12/11).
Baca Juga:
* Getah Karet dan Getir Kehidupan di Wilayah Adat Gajah Bertalut
* Bos BI Proyeksikan Rupiah Melemah ke Rp 16.430 per Dolar AS pada 2026
* Pertamina Bangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Nelayan di Lampung Timur
Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa cadangan devisa Indonesia memang mengalami tren penurunan selama pertengahan tahun 2025. Pada bulan April 2025, cadangan devisa tercatat sebesar US$153 miliar, mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$157 miliar.
Penurunan berlanjut pada bulan Mei 2025 menjadi US$152,5 miliar, dan kemudian menjadi US$152,0 miliar pada bulan Juli. Tren penurunan ini terus berlanjut hingga mencapai US$149 miliar pada bulan September 2025, sebelum akhirnya sedikit meningkat menjadi US$150 miliar pada bulan Oktober.
Perry Warjiyo mengakui bahwa penurunan cadangan devisa tersebut disebabkan oleh intervensi yang dilakukan secara tunai. Namun, ia menekankan bahwa stabilitas rupiah juga dijaga melalui instrumen NDF, baik di pasar offshore maupun domestic NDF. Meskipun porsinya kini semakin kecil, intervensi melalui NDF tetap memberikan dampak positif.
“Oleh karena itu, besarnya intervensi tidak selalu tercermin dari penurunan cadangan devisa,” pungkas Perry, memberikan keyakinan bahwa BI memiliki strategi yang komprehensif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa mengorbankan cadangan devisa secara signifikan.
Ringkasan
Bank Indonesia (BI) menggunakan strategi non-delivery forward (NDF) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa menguras cadangan devisa. NDF memungkinkan jual beli valuta asing diselesaikan dalam rupiah, tanpa pertukaran fisik dolar AS. BI juga meminimalkan intervensi tunai atau spot untuk menjaga cadangan devisa tetap stabil.
Penurunan cadangan devisa pada pertengahan tahun 2025 disebabkan oleh intervensi tunai, namun BI menekankan bahwa stabilitas rupiah tetap dijaga melalui instrumen NDF. Intervensi melalui NDF memberikan dampak positif meskipun porsinya semakin kecil, sehingga besarnya intervensi tidak selalu tercermin dari penurunan cadangan devisa.