Ada potensi Santa Claus rally, saham perbankan bakal bangkit di akhir tahun?

Babaumma – , JAKARTA — Menjelang penutupan tahun 2025, pasar saham kembali diselimuti euforia dan harapan dengan kemunculan potensi window dressing dan fenomena Santa Claus rally. Kedua istilah ini merujuk pada kecenderungan penguatan harga saham yang kerap terjadi di penghujung tahun, menarik perhatian para investor untuk mencermati peluang yang ada.

Advertisements

Dengan bobot yang signifikan dalam pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sektor perbankan kembali menjadi sorotan utama. Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah momentum akhir tahun ini akan mampu mendorong penguatan saham-saham bank papan atas, ataukah justru tertahan oleh tekanan fundamental yang mungkin membayangi.

Sejalan dengan ekspektasi optimis akan penguatan di akhir tahun, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menunjukkan performa positif pada perdagangan hari ini. Emiten-emiten raksasa seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) terpantau menguat. Mayoritas saham bank lain pun turut bergerak di zona hijau.

: Investor Kakap yang Borong Saham Bank Mandiri (BMRI) Awal Desember 2025

Advertisements

Bank Central Asia Tbk. – TradingView

Merujuk data pergerakan saham dari Stockbit pada Senin (15/12/2025) hingga pukul 15.30 WIB, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat melesat 2,81% atau 250 poin, mencapai level Rp8.250 per saham. Meskipun demikian, secara year to date (YtD) saham BBCA masih terkoreksi 14,99% atau 1.450 poin.

Pada waktu yang sama, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga menguat sebesar 3,73% atau 170 poin, menempatkannya pada posisi Rp4.990 per saham. Namun, kinerja YtD BMRI masih menunjukkan penurunan 12,46% atau 710 poin.

: : Lo Kheng Hong Borong Saham Bank Danamon (BDMN) Jelang Akhir 2025

Tidak ketinggalan, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan kenaikan 4,13% atau 150 poin, mencapai level Rp3.780 per saham. Meskipun demikian, secara YtD, BBRI masih melemah 7,35% atau 300 poin.

Penguatan signifikan juga terjadi pada saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), yang melonjak 4,72% atau 200 poin ke level Rp4.440 per saham. Menariknya, berbeda dengan bank pelat merah lainnya, saham BBNI justru berhasil mencatatkan kinerja positif secara tahunan dengan kenaikan YtD sebesar 1,84% atau 80 poin.

: : Menanti Rebound Saham Indeks LQ45 Akhir Tahun, Saham Bank Ngegas Lagi?

Adapun, saham-saham perbankan lain juga menunjukkan pergerakan yang variatif. PT CIMB Niaga Tbk. (BNGA) tercatat naik tipis 0,57% atau 10 poin ke level Rp1.750 per saham, dengan kinerja YtD menguat 1,45% atau 25 poin. Sementara itu, saham PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) melesat 5,83% atau 12 poin ke posisi Rp216 per saham, serta membukukan kenaikan YtD sebesar 3,8% atau 8 poin.

Di segmen bank digital, saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO) mencatatkan penguatan sebesar 9% atau 190 poin, mencapai level Rp2.190 per saham. Kendati demikian, secara YtD saham ARTO masih menunjukkan pelemahan 9,88% atau 240 poin.

Bank Mandiri (Persero) Tbk. – TradingView

M. Nafan Aji Gusta, seorang Senior Market Analyst, menjelaskan bahwa secara historis, Santa Claus rally mengacu pada kecenderungan penguatan pasar saham yang terjadi selama lima hari perdagangan terakhir di bulan Desember hingga dua hari pertama di bulan Januari. Fenomena musiman ini, menurut Nafan, juga tercatat di pasar saham Indonesia, meskipun tidak selalu konsisten setiap tahunnya.

Nafan menambahkan bahwa aktivitas window dressing yang dilakukan investor institusi untuk mempercantik laporan portofolio mereka menjelang akhir tahun, serta penyesuaian portofolio, kerap menjadi pemicu utama pergerakan harga saham. Hal ini terutama berlaku untuk saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk di sektor perbankan.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa penguatan saham perbankan pada bulan Desember didominasi oleh faktor musiman. Momentum seasonality menjelang akhir tahun, terutama perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), mendorong peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat. Peningkatan konsumsi ini pada akhirnya berpotensi memberikan dampak positif yang signifikan bagi kinerja sektor perbankan.

“Pada Desember, faktor musiman cukup dominan. Momentum Natal dan Tahun Baru biasanya mendorong aktivitas konsumsi, yang pada akhirnya bisa memberikan manfaat bagi perbankan,” ujar Nafan kepada Bisnis, Senin (15/12/2025).

Dari perspektif makroekonomi domestik, peluang terjadinya Santa Claus rally dinilai masih terbuka lebar. Inflasi Indonesia tercatat tetap terkendali dalam kisaran target Bank Indonesia, menciptakan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pemerintah juga optimistis bahwa momentum Nataru dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 ke kisaran 5,4% hingga 5,6%, didukung oleh berbagai stimulus fiskal, mulai dari penyaluran bantuan sosial hingga diskon transportasi dan tarif tol.

Namun demikian, pelaku pasar tetap diimbau untuk mencermati sejumlah faktor penghambat yang bisa membatasi potensi reli ini. Sentimen global yang masih diliputi ketidakpastian serta potensi arus modal keluar (capital outflow) patut menjadi perhatian. Selain itu, jika ekspektasi Santa Claus rally telah sepenuhnya tercermin dalam harga saham, maka peluang terjadinya reli lanjutan bisa menjadi lebih terbatas.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements