Anggaran MBG Rp 335 triliun pada 2026, ekonom menilai cukup Rp 8 triliun

Wacana mengenai alokasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu perdebatan sengit di kalangan ekonom. Pemerintah berencana mengucurkan dana sebesar Rp 335 triliun untuk program ini pada tahun 2026, namun pandangan berbeda justru datang dari Ekonom sekaligus Sekretaris Jenderal International Economic Association, Lili Yan Ing, yang menilai anggaran MBG seharusnya cukup dialokasikan Rp 8 triliun.

Advertisements

Lili Yan Ing menegaskan bahwa anggaran jumbo Rp 335 triliun untuk program MBG yang bersifat universal—memberikan makanan kepada seluruh siswa di Indonesia—dinilai terlalu besar. Ia menjelaskan bahwa jumlah siswa di Indonesia hanya mencapai 4% dari total populasi. Mengingat cakupan MBG yang hanya disediakan untuk makan siang, Lili berargumen, “Dari 4% itu, seharusnya maksimal MBG itu Rp 8 triliun,” ujarnya setelah menghadiri diskusi Kadin Global and Domestic Economic Outlook 2026, Kamis (15/1).

Menurut Lili, kelebihan anggaran yang signifikan dari total yang disiapkan untuk MBG tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan secara lebih produktif. Dana ini, lanjutnya, bisa dialihkan untuk membiayai kegiatan-kegiatan strategis yang mampu mendongkrak perekonomian nasional, seperti pembangunan infrastruktur yang vital dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berkelanjutan.

Di sisi lain, pemerintah memiliki keyakinan kuat bahwa peningkatan anggaran MBG yang melonjak drastis—dari Rp 71 triliun pada tahun sebelumnya menjadi Rp 335 triliun di tahun 2026—justru akan menjadi pendorong signifikan bagi pertumbuhan ekonomi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya menyatakan bahwa kesiapan anggaran ini menjadi jaminan untuk mencapai target penerima manfaat MBG sebanyak 82,9 juta orang pada akhir 2026.

Advertisements

Airlangga, dalam acara Road To Jakarta Food Security Summit 2026 di Menara Kadin, Selasa (13/1), menekankan bahwa dampak program MBG terhadap pergerakan ekonomi akan sangat positif, terutama dengan kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “Model bisnis SPPG ini luar biasa, karena dibayar di awal dan baru memproduksi, sehingga sebetulnya arus kasnya bagus,” jelasnya. Ia menambahkan, jika Rp 335 triliun dibagi per kuartal, stimulus yang dilontarkan pemerintah mencapai hampir Rp 80 triliun, jauh melampaui stimulus kuartal I tahun lalu yang mendekati Rp 37 triliun. Aliran dana sebesar Rp 80 triliun yang meluncur ke tingkat akar rumput ini diproyeksikan akan memberikan efek berganda yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi.

Lebih lanjut, Airlangga memprediksi program MBG akan menciptakan sekitar tiga juta lapangan kerja baru. Merujuk pada rule of thumb, setiap 1% pertumbuhan ekonomi dapat menyerap 400 ribu tenaga kerja. Dengan potensi penciptaan tiga juta pekerjaan, program ini berpotensi memberikan kontribusi yang substansial pada pertumbuhan ekonomi. Airlangga optimistis bahwa dengan kontribusi dari program MBG, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada tahun 2026 dapat tercapai, bahkan pemerintah berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi hingga level 5,8% sampai 8%.

Advertisements