Departemen Pertahanan Amerika Serikat, atau Pentagon, dilaporkan sedang menyempurnakan rencana strategis untuk melancarkan operasi darat selama beberapa pekan di wilayah pesisir Iran. Rencana ambisius ini juga disebut-sebut mencakup potensi serangan terhadap Pulau Kharg, sebuah infrastruktur vital, serta area-area strategis lain yang berlokasi di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak global yang krusial.
Meskipun demikian, sebuah laporan dari The Washington Post pada Sabtu (28/3) mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump sejauh ini belum memberikan persetujuan resmi untuk pengerahan pasukan yang sangat sensitif ini. Hal ini mengindikasikan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap pertimbangan akhir di Washington.
Menurut keterangan seorang pejabat anonim yang berbicara kepada The Washington Post, rencana operasi militer ini tidak dirancang sebagai invasi skala penuh untuk menduduki wilayah Iran. Sebaliknya, militer AS mempertimbangkan pendekatan yang lebih terbatas dan strategis, yaitu serangan presisi. Operasi ini diperkirakan akan melibatkan kombinasi pasukan operasi khusus dan pasukan infanteri konvensional yang bertugas mengamankan titik-titik vital sepanjang garis pantai Iran, tanpa niat untuk pendudukan permanen.
Dalam beberapa waktu terakhir, kesiagaan militer AS di kawasan Teluk telah mengalami peningkatan signifikan. Komando Pusat AS (Centcom) baru-baru ini mengumumkan kedatangan tambahan 3.500 personel militer yang tiba dengan kapal USS Tripoli. Pengerahan masif ini juga dilengkapi dengan pengiriman pesawat angkut, jet tempur serang mutakhir, serta beragam aset serbu amfibi dan taktis, menunjukkan persiapan yang komprehensif.
Mobilisasi pasukan terbaru ini menambah daftar panjang ribuan anggota Marinir AS yang telah ditempatkan di Timur Tengah, sebuah langkah yang telah berlangsung sejak konflik pecah sekitar satu bulan sebelumnya, memperkuat kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan.
Meski demikian, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sempat menyatakan bahwa tujuan Washington sebenarnya dapat dicapai tanpa perlu mengerahkan pasukan darat langsung ke wilayah Iran. Namun, penempatan militer yang masif ini tetap dilakukan dengan alasan untuk memberikan fleksibilitas strategi maksimum bagi Presiden Trump, memungkinkannya menyesuaikan langkah-langkah responsif sesuai dinamika lapangan.
Selain unit Marinir AS, Pentagon juga diperkirakan akan mengerahkan ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS. Pengerahan ini bertujuan untuk lebih memperkuat posisi 50.000 personel militer AS yang sebelumnya telah bersiaga di kawasan tersebut, menandakan peningkatan kekuatan yang signifikan.
Peningkatan kekuatan militer yang begitu masif ini secara tidak terhindarkan memicu spekulasi kuat bahwa Gedung Putih, setidaknya, sedang memposisikan pasukannya untuk melancarkan sebuah serangan darat terbatas. Fokus utama dari operasi semacam ini diyakini adalah mengamankan tepian Selat Hormuz, atau bahkan merebut Pulau Kharg, sebuah pulau strategis yang menjadi infrastruktur paling krusial bagi industri ekspor minyak Iran dan perekonomian negara tersebut.
Namun, para pakar pertahanan telah mengeluarkan peringatan keras mengenai risiko besar yang melekat pada langkah agresif Washington ini. Meskipun pasukan AS secara teknis memiliki kapabilitas untuk menguasai Pulau Kharg, para ahli mengkhawatirkan bahwa biaya yang harus dibayar kemungkinan besar akan sangat mahal, berupa perang gesekan berkepanjangan. Skenario ini diprediksi akan memakan banyak korban jiwa dari pihak Amerika dan menguras anggaran pembayar pajak AS dalam jumlah yang sangat fantastis, dengan dampak jangka panjang yang belum terbayangkan.